MANADOPOST.ID—Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara kembali menegaskan komitmennya dalam mendorong pembangunan berkelanjutan melalui penguatan kemitraan internasional.
Hal ini disampaikan langsung Gubernur Sulut Yulius Selvanus saat menjamu delegasi diplomatik dari 13 negara, perwakilan lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa, serta organisasi non-pemerintah internasional di Wisma Negara Bumi Beringin, pekan lalu.
Pertemuan bertajuk “Diplomatic Visit on Strengthening Cooperation on Blue Economy” tersebut menjadi momentum strategis dalam memperluas kerja sama lintas negara, khususnya dalam pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan. Fokus pembahasan mencakup perlindungan ekosistem laut, peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir, hingga pengembangan infrastruktur berbasis kelautan.
Dalam paparannya, Gubernur Yulius menegaskan bahwa Sulawesi Utara memiliki karakter maritim yang sangat kuat. Sekitar 73 persen wilayahnya merupakan perairan, menjadikan sektor kelautan sebagai tulang punggung pembangunan daerah. Selain dikenal sebagai Bumi Nyiur Melambai, Sulut juga mencerminkan kehidupan masyarakat yang harmonis dalam keberagaman.
Dari sisi ekonomi, kinerja daerah menunjukkan tren positif. Pertumbuhan ekonomi Sulut tercatat mencapai 5,66 persen pada tahun 2025, dengan realisasi investasi sebesar Rp10,2 triliun. Capaian ini menjadi indikator meningkatnya kepercayaan investor terhadap potensi daerah, terutama di sektor kelautan dan pariwisata.
Penguatan sektor maritim juga didukung oleh keberadaan Sekretariat Regional Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries and Food Security (CTI-CFF) yang berlokasi di Sulawesi Utara. Hal ini semakin mempertegas posisi daerah sebagai pusat kerja sama regional dalam pengelolaan sumber daya laut.
Saat ini, pemerintah daerah tengah mengakselerasi implementasi kebijakan ekonomi biru bersama pemerintah pusat. Beberapa langkah strategis yang dilakukan antara lain memperluas kawasan konservasi laut, menerapkan sistem penangkapan ikan berbasis kuota, serta mengembangkan budidaya perikanan berkelanjutan. Komoditas unggulan seperti udang, rumput laut, dan tuna terus didorong untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor.
Selain itu, pengamanan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil juga diperkuat melalui kolaborasi dengan Badan Keamanan Laut dan aparat terkait. Upaya ini bertujuan mencegah berbagai pelanggaran hukum di laut, sekaligus menjaga kedaulatan wilayah perairan.
Di sisi lingkungan, gerakan pembersihan sampah plastik di laut secara rutin melibatkan aparatur sipil negara dan masyarakat. Program ini menjadi bagian dari komitmen bersama dalam menjaga kelestarian ekosistem laut di Sulawesi Utara.
Sektor perikanan dan pariwisata masih menjadi andalan daerah. Produksi perikanan Sulut tercatat mencapai 750.857 ton dengan nilai ekspor sekitar 140 juta dolar Amerika Serikat. Aktivitas ini didukung penggunaan alat tangkap ramah lingkungan yang berkelanjutan. Sementara itu, potensi wisata bahari terus berkembang, termasuk desa wisata seperti Desa Wisata Budo yang telah mendapat pengakuan di tingkat nasional.
Mengakhiri pertemuan, Gubernur Yulius mengajak seluruh mitra internasional untuk mempererat kerja sama dalam membangun ekonomi biru yang inklusif dan berkelanjutan. Menurutnya, kolaborasi global menjadi kunci dalam menjaga kelestarian laut sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat.(gel)
Editor : Angel Rumeen