Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Lisan Tak Terjaga Saat Puasa? Begini Dampak Ucapan Kasar Saat Ramadhan

Tina Mamangkey • Senin, 3 Maret 2025 | 13:51 WIB

Ilustrasi,  Jagalah lisan, hindari perkataan sia-sia, dan biasakan berbicara baik atau lebih baik diam.
Ilustrasi, Jagalah lisan, hindari perkataan sia-sia, dan biasakan berbicara baik atau lebih baik diam.

MANADOPOSY,ID - Puasa Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan haus. Lebih dari itu, puasa juga mengajarkan umat Islam untuk menahan diri dari segala hal yang bisa merusak ibadah, termasuk mengendalikan ucapan.

Sayangnya, masih banyak yang mengabaikan pentingnya menjaga lisan, padahal berkata kasar, kotor, atau menyakitkan bisa berdampak serius pada kualitas puasa kita.

Lantas, sebenarnya bagaimana hukum berkata kasar saat berpuasa? Apakah ucapan kotor bisa membatalkan puasa? Dan apa saja bahayanya bagi pahala kita? Yuk, simak penjelasan lengkapnya berikut ini!

Mengutip penjelasan dari laman Universitas Islam An-Nur Lampung, Berikut penjelasan mengenai hukum berkata kasar saat berpuasa.

Apa itu berkata kotor dan kasar?

Berkata kotor dan kasar merujuk pada perkataan yang mengandung makna buruk, jorok, atau menyinggung perasaan orang lain. Seperti perkataan sumpah serapah, fitnah, ghibah (menggunjing), namimah (adu domba), dusta, dan caci maki.

Sebagai seorang muslim, kita dianjurkan untuk selalu menjaga lisan, terutama di bulan Ramadhan yang penuh berkah.

Apakah berkata kotor dan kasar membatalkan puasa?

Secara fiqih, berkata kotor dan kasar tidak membatalkan puasa. Karena hal-hal yang membatalkan puasa hanya berkaitan dengan sesuatu yang masuk atau keluar dari tubuh melalui dua lubang (mulut dan kemaluan), seperti:

Namun, meskipun tidak membatalkan puasa, berkata kotor dan kasar tetap dilarang dalam Islam dan dapat mengurangi pahala puasa.

Dampak Berkata Kotor dan Kasar Saat Puasa

Rasulullah SAW bersabda, yang artinya:

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta (bohong) dan perbuatan keji (kotor), maka Allah tidak memerlukan dia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)

Dalam hadits lain disebutkan, yang artinya:

“Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin pada hari kiamat daripada akhlak yang mulia. Dan sesungguhnya Allah membenci orang yang lisannya kotor dan kasar.” (HR. Tirmidzi)

Dari hadits-hadits ini, kita dapat memahami bahwa puasa bukan hanya menahan diri dari hal-hal lahiriah, tetapi juga dari nafsu, amarah, iri hati, serta perkataan yang tidak bermanfaat. Berkata kotor dapat mengurangi keberkahan puasa, dan bahkan bisa membuat puasa menjadi sia-sia di sisi Allah.

Keutamaan menjaga lisan saat berpuasa berdasarkan hadits Rasulullah SAW

Dalam unggahan di laman resmi Majelis Ulama Indonesia, dikatakan bahwa menjaga lisan saat berpuasa memiliki keutamaan. Sebagaimana telah ditekankan dalam beberapa hadits Rasulullah SAW.

Hadits tentang menjaga lisan saat berpuasa

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ رِوَايَةً قَالَ إِذَا أَصْبَحَ أَحَدُكُمْ يَوْمًا صَائِمًا فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ فَإِنْ امْرُؤٌ شَاتَمَهُ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ إِنِّي صَائِمٌ

“Apabila salah seorang dari kalian di suatu hari sedang berpuasa, maka janganlah dia berkata-kata kotor dan berbuat kebodohan dan sia-sia. Bila dia dicaci oleh orang lain atau diperangi, maka hendaklah dia mengatakan, 'Sesungguhnya saya sedang berpuasa.” (HR Muslim, No. 1151)

Hadits lain yang juga diriwayatkan dari Abu Hurairah dalam riwayat Abu Dawud menyebutkan:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الصِّيَامُ جُنَّةٌ إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ صَائِمًا فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ فَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ إِنِّي صَائِمٌ

“Puasa adalah tameng, apabila salah seorang di antara kalian berpuasa maka janganlah ia berkata kotor dan melakukan perbuatan bodoh. Apabila terdapat seseorang memusuhinya atau mencelanya maka hendaknya dia mengatakan, 'Aku sedang berpuasa.”

Berdasarkan hadits-hadits di atas, dapat dipahami bahwa menjaga lisan dari perkataan buruk, mencaci, dan berbicara sia-sia merupakan bagian dari ibadah puasa yang sempurna.

Dengan menahan diri dari perkataan yang tidak baik, seseorang tidak hanya menjaga puasanya tetap murni tetapi juga membangun akhlak yang lebih baik.

Intinya, berkata kotor dan kasar memang tidak membatalkan puasa, tetapi bisa mengurangi atau bahkan menghilangkan pahala puasa. Oleh karena itu, kita harus berusaha untuk selalu menjaga lisan. Yakni dengan berkata-kata baik atau diam saja.

Mari kita sama sama jadikan bulan Ramadhan sebagai momentum untuk meningkatkan akhlak dan menjaga lisan agar puasa kita menjadi lebih bermakna dan penuh berkah.

Semoga puasa kita lebih bermakna, penuh berkah, dan diterima Allah SWT. Aamiin. (*)

Sumber: nu.or.id, an-nur.ac.id

Editor : Tina Mamangkey
#Puasa ramadan #Berkata kasar #Mengucapkan #hukum #jaga lisan #Hati-hati #Puasa