Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Pengasuh Ade Irma Nasution, Oma Alpiah Makasebape, Tutup Usia

Sriwani Adolong • Rabu, 23 Oktober 2024 | 13:41 WIB
Photo
Photo

MANADOPOST.ID—Kabar duka datang dari Kelurahan Dumuhung, Kecamatan Tahuna Timur. Oma Alpiah Makasebape, pengasuh Ade Irma Suryani Nasution, meninggal dunia pada Rabu (23/10/2024) di usia 87 tahun. Beliau menghembuskan napas terakhirnya di kediamannya sekitar pukul 09.30 pagi.

Oma Alpiah, yang akrab disapa Oma Tintang, adalah saksi hidup tragedi Gerakan 30 September (G30S) PKI tahun 1965. Saat itu, Ade Irma, putri Jenderal Abdul Haris Nasution, menjadi korban penembakan dalam upaya penculikan yang dilakukan oleh pasukan G30S/PKI.

Warga Kelurahan Dumuhung dan seluruh masyarakat Kabupaten Kepulauan Sangihe berduka atas kepergian sosok yang dianggap sebagai penjaga memori sejarah bangsa. Kisah hidup Oma Alpiah akan selalu dikenang, terutama perannya sebagai pengasuh Ade Irma di tengah peristiwa kelam yang mengguncang Indonesia.

 

Kisah Oma Alpiah: Pengasuh Ade Irma di Tengah Tragedi G30S

Oma Alpiah atau akrab disapa Oma Tintang pernah diwawancarai oleh Manado Post pada tahun 2018 silam. Dalam wawancara tersebut, ia mengisahkan pengalamannya sebagai pengasuh Ade Irma, putri bungsu Jenderal Nasution. Pada saat itu, Alpiah yang berasal dari Sangihe telah bekerja jauh dari kampung halamannya sejak usia muda untuk meringankan beban keluarga. Setelah bekerja di berbagai tempat seperti Tahuna, Manado, Makassar, dan Jakarta, nasib membawanya bertemu dengan keluarga Nasution.

Pada Maret 1960, Johana Sunarti Nasution, istri Jenderal Nasution, mencari pengasuh untuk putri keduanya, Ade Irma, yang baru lahir pada 19 Februari 1960. Yayasan Tilaar, tempat Oma Alpiah bekerja, merekomendasikannya sebagai pengasuh meski ia saat itu tidak begitu lancar berbahasa Indonesia. Namun, kehangatan keluarga Nasution, terutama kebaikan hati Ibu Johana dan Jenderal Nasution, membuat Oma Alpiah cepat merasa nyaman dan percaya diri menjalani tugasnya.

Seiring waktu, Oma Tintang menjadi sangat akrab dengan keluarga Nasution, termasuk dengan putri pertama mereka, Hendrianti Sahara (Yanti), dan ajudan Nasution, Lettu Czi Pierre Andries Tendean. Ia bahkan memperkenalkan budaya Sangihe dalam pola asuhnya, termasuk panggilan “kaka” dan “ade” yang biasa digunakan di keluarganya. Dari situlah, nama panggilan Ade Irma muncul dan terus melekat hingga akhir hayat Ade.

  

Memori yang Tak Terlupakan

Meski peristiwa tersebut telah lama berlalu, memori tentang keluarga Nasution tetap hidup dalam ingatan Oma Alpiah. Hingga kembali ke Sangihe pada tahun 1969, ia tetap menjalin komunikasi dengan keluarga Nasution, terutama Ibu Johana dan Yanti.

Kepergian Oma Alpiah Makasebape menambah duka bagi mereka yang mengenalnya, terutama masyarakat Sangihe yang menghormatinya sebagai saksi hidup dari salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah Indonesia. Sosoknya yang penuh dedikasi dan kasih sayang akan terus dikenang sepanjang masa. (wan)

Editor : Kenjiro Tanos
#alpiah makasebape