MANADOPOST.ID – Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe terus memaksimalkan penanganan pascabencana gempa bumi yang melanda wilayah Kecamatan Marore. Selain menyalurkan bantuan logistik, tim kesehatan yang dipimpin langsung Bupati Michael Thungari turut memberikan pelayanan kesehatan gratis kepada warga terdampak di tiga pulau, yakni Kampung Kawio, Kampung Marore, dan Kampung Matutuang.
Pelayanan kesehatan tersebut mendapat sambutan antusias dari masyarakat yang masih berupaya memulihkan kondisi fisik maupun psikologis setelah gempa bumi mengguncang wilayah perbatasan tersebut.
Koordinator Tim Kesehatan Pemerintah Kabupaten Sangihe, dr. Dessy Handayani Jonhar, mengatakan selama beberapa hari pelaksanaan pelayanan kesehatan, pihaknya telah menangani ratusan warga dari berbagai kelompok usia.
"Ini belum rampung ya. Nanti kan sampai jam 12, Sekitar 150 pasien di satu wilayahnya di 3 kampung," ujar dr. Dessy Handayani Jonhar saat diwawancarai manadopost.id di sela-sela kegiatan pelayanan kesehatan, Jumat (12/6/2026), di lapangan GMIST Jemaat Nazareth Matutuang.
Menurutnya, pasien yang datang untuk berobat terdiri dari lansia, orang dewasa, anak-anak hingga bayi. Kondisi tersebut menunjukkan tingginya kebutuhan layanan kesehatan di wilayah terdampak gempa.
"Masing-masing berbeda-beda, kalau waktu di Kawio khususnya dia lebih banyak dewasa, kalau di Marore kemarin agak seimbang untuk anak-anak dan dewasa," terang dokter yang dikenal ramah tersebut.
Pada hari terakhir pelayanan di Kampung Matutuang, tim kesehatan bahkan menemukan sejumlah bayi yang membutuhkan pemeriksaan medis. Kondisi ini berbeda dengan saat pelayanan di lokasi sebelumnya.
"Nah sekarang kalau saya lihat nih kayaknya ada bayi, kemarin saya tidak menemukan bayi ya, hari ini ada sekitar 4 bayi yang saya periksa tadi, bayi, anak-anak, dan dewasa hari ini," sambungnya.
Dari hasil pemeriksaan terhadap lebih dari 150 pasien, tim kesehatan menemukan sejumlah keluhan yang cukup dominan.
Salah satunya adalah gangguan asam lambung yang diduga dipengaruhi oleh perubahan pola makan warga pascabencana.
"Lebih banyak ke asam lambung kemungkinan karena faktor mungkin pola makan mereka yang sudah tidak bagus pertama, yang kedua ada pusing dan sakit-sakit kepala dikarenakan faktor mungkin stres juga," terang Jonhar.
Selain gangguan lambung, cukup banyak warga dewasa yang diketahui mengalami tekanan darah tinggi.
"Jadi banyak yang orang dewasa yang menderita darah tinggi," beber dr. Jonhar.
Saat ditanya apakah berbagai keluhan kesehatan tersebut berkaitan dengan trauma akibat gempa bumi yang terjadi beberapa hari lalu, dr. Dessy tidak menampiknya.
"Bisa dibilang begitu juga karena faktor traumatik," tandasnya.
Diketahui, selain menghadirkan layanan kesehatan gratis, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe juga menyalurkan berbagai bantuan darurat kepada warga terdampak bencana. Bantuan tersebut meliputi bahan kebutuhan pokok (sembako), tikar, kasur, terpal, hingga obat-obatan guna membantu memenuhi kebutuhan masyarakat selama masa tanggap darurat.
Langkah cepat yang dilakukan pemerintah daerah bersama tim kesehatan ini menjadi bagian dari upaya pemulihan pascabencana, sekaligus memastikan kondisi kesehatan masyarakat di wilayah terluar Kabupaten Kepulauan Sangihe tetap terjaga.
Editor : Alfian Tumuahi