MANADOPOST.ID – Jumlah penderita HIV/AIDS yang menjalani pengobatan di Kabupaten Kepulauan Sangihe mengalami peningkatan pada tahun 2026. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Sangihe, jumlah Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) yang diobati pada tahun 2025 tercatat sebanyak 77 kasus, sedangkan pada periode Januari hingga Maret 2026 meningkat menjadi 86 kasus.
Kepala Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Kepulauan Sangihe, dr. Handry Pasandaran, mengatakan bertambahnya jumlah kasus yang ditemukan tidak terlepas dari upaya pemerintah dalam memperluas deteksi dini melalui skrining aktif di berbagai kelompok masyarakat.
"Kalau dulu penemuan kasus dilakukan secara pasif, menunggu pasien datang saat gejalanya sudah lanjut. Sekarang kami melakukan skrining secara aktif, termasuk kepada ibu hamil, pekerja, dan kelompok masyarakat yang masuk kategori berisiko tinggi. Karena itu jumlah kasus yang ditemukan menjadi lebih banyak dibandingkan periode sebelumnya," ujar Handry Pasandaran, Selasa (23/6/26).
Menurut Handry, HIV merupakan penyakit infeksi yang memiliki masa inkubasi panjang sehingga banyak penderita tidak menyadari dirinya telah terinfeksi selama bertahun-tahun.
"HIV tidak seperti penyakit infeksi lain yang gejalanya muncul dalam hitungan hari. Virus ini bisa berada dalam tubuh selama bertahun-tahun. Karena itu masyarakat yang merasa memiliki faktor risiko sebaiknya tidak takut untuk melakukan pemeriksaan atau skrining," katanya.
Ia menjelaskan kelompok berisiko tinggi antara lain pekerja migran atau masyarakat yang memiliki mobilitas tinggi dan perilaku seksual tidak sehat, termasuk pengguna narkotika suntik.
Meski jumlah kasus yang ditemukan bertambah, Handry menegaskan bahwa HIV dapat dikendalikan apabila terdeteksi lebih awal dan penderita disiplin menjalani pengobatan.
"Kesempatan untuk mencegah HIV berkembang menjadi AIDS sebenarnya cukup besar jika ditemukan sejak dini dan pasien rutin mengonsumsi obat. Saat ini banyak pasien HIV yang kualitas hidupnya tetap baik karena disiplin menjalani pengobatan," jelasnya.
Menurutnya, sebagian besar kasus yang berakhir fatal terjadi karena penderita terlambat mengetahui status kesehatannya atau tidak rutin menjalani terapi.
"Yang sering menjadi masalah adalah pasien yang ditemukan sudah dalam kondisi stadium lanjut atau AIDS. Padahal jika diketahui lebih awal, sebelum muncul gejala berat, peluang hidup sehat sangat besar," ujarnya.
Selain berdampak pada penderita, HIV juga berpotensi menular kepada pasangan hingga anak yang dikandung apabila tidak dilakukan pencegahan dan pengobatan secara tepat.
"Kalau seorang suami memiliki perilaku berisiko dan tertular HIV, kemudian menularkannya kepada istri yang sedang hamil, maka bayi juga berisiko tertular. Karena itu edukasi kepada keluarga sangat penting," katanya.
Untuk menekan laju penularan, Dinas Kesehatan Sangihe terus memperkuat upaya edukasi kepada masyarakat. Sepanjang tahun 2026, tim kesehatan telah beberapa kali turun ke sekolah-sekolah untuk memberikan pemahaman mengenai kesehatan reproduksi, bahaya HIV/AIDS, serta penyalahgunaan narkoba.
"Tahun ini kami sudah lebih dari enam kali turun ke sekolah-sekolah, terutama SMA yang jumlah siswanya besar. Kami memberikan edukasi tentang kesehatan reproduksi, bahaya perilaku seksual berisiko, HIV/AIDS, hingga penyalahgunaan narkoba," ungkap Handry.
Ia menilai perkembangan teknologi dan kemudahan akses internet menjadi tantangan tersendiri dalam membentuk perilaku generasi muda sehingga edukasi harus dilakukan secara berkelanjutan.
"Kami terus mengingatkan anak-anak muda agar tidak terjerumus dalam perilaku yang berisiko. Mereka adalah generasi penerus daerah dan bangsa yang harus dijaga masa depannya," ujarnya.
Selain menyasar pelajar, edukasi dan skrining juga dilakukan kepada ibu hamil beserta suami mereka. Dinas Kesehatan turut menggandeng tokoh agama, tokoh masyarakat, serta berbagai pihak dalam memperkuat upaya pencegahan HIV/AIDS di Kabupaten Kepulauan Sangihe.
"Kami berharap masyarakat tidak takut melakukan pemeriksaan. HIV memang belum bisa disembuhkan sepenuhnya, tetapi pengobatan yang tersedia saat ini mampu memperpanjang harapan hidup dan menjaga kualitas hidup pasien tetap baik," tutup Handry.