Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

180 Kasus TBC Ditemukan di Sangihe Selama Semester I 2026, Pasandaran Sebut Penderita Bisa Sembuh Total Jika Patuh Berobat

Alfian Tumuahi • Jumat, 3 Juli 2026 | 11:30 WIB
Kepala Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Sangihe, dr. Handry Pasandaran.
Kepala Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Sangihe, dr. Handry Pasandaran.

MANADOPOST.ID – Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Kabupaten Kepulauan Sangihe mencatat sebanyak 180 kasus tuberkulosis (TBC) sepanjang Januari hingga Juni 2026. Meskipun jumlah kasus yang ditemukan terus meningkat, masyarakat diminta tidak panik karena TBC dapat disembuhkan secara total apabila pasien menjalani pengobatan secara disiplin hingga tuntas.

Kepala Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Kepulauan Sangihe, dr. Handry Pasandaran, mengatakan meningkatnya jumlah kasus yang ditemukan justru menunjukkan semakin efektifnya upaya penemuan kasus secara aktif melalui skrining kesehatan di masyarakat.

"Penemuan kasus yang makin tinggi sebenarnya merupakan sinyal positif. Kalau dulu kita hanya menunggu pasien datang, sekarang melalui skrining dan program cek kesehatan gratis semakin banyak kasus yang bisa ditemukan lebih dini. Harapannya, semua pasien dapat diobati sampai tuntas sehingga mata rantai penularan bisa diputus," ujar dr. Handry Pasandaran saat diwawancarai, Jumat (3/7/26).

Berdasarkan data Dinkesda, dari total 180 kasus yang ditemukan, terdiri atas 105 penderita laki-laki, 71 perempuan, serta 4 kasus Tuberkulosis Resistan Obat (TB RO).

Kasus tersebut tersebar di hampir seluruh wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe. Kecamatan Tahuna menjadi daerah dengan jumlah kasus tertinggi yakni 25 kasus, disusul Kecamatan Manganitu sebanyak 24 kasus, Tahuna Timur 22 kasus, Tamako 19 kasus, Enemawira dan Manganitu Selatan masing-masing 14 kasus, Tahuna Barat 12 kasus, Kalasuge 10 kasus, Kendahe dan Kuma masing-masing 8 kasus, Manalu 6 kasus, Salurang 5 kasus, Dagho dan Nusa Tabukan masing-masing 4 kasus, Pintareng 3 kasus, serta Kahakitang dan Marore masing-masing 1 kasus.

Handry mengakui, sejak 2023 hingga 2025 tren penemuan kasus TBC di Kabupaten Kepulauan Sangihe terus mengalami peningkatan. Namun di sisi lain, angka keberhasilan pengobatan mengalami penurunan akibat masih adanya pasien yang menghentikan pengobatan sebelum selesai atau lost to follow up.
"Sebelumnya angka kesembuhan mencapai sekitar 95 persen, sekarang turun menjadi sekitar 87 persen. Ini menjadi pekerjaan rumah kami karena masih ada pasien yang putus berobat maupun meninggal dunia," jelasnya.

Menurutnya, standar nasional menetapkan angka keberhasilan pengobatan minimal 90 persen. Namun Dinkesda Sangihe menargetkan seluruh pasien yang menjalani terapi dapat sembuh.
"Target kami bukan hanya memenuhi standar nasional, tetapi sebisa mungkin seluruh pasien atau 100 persen bisa sembuh melalui pengobatan sesuai standar," tegasnya.

Sebagai upaya mempercepat eliminasi TBC, Dinkesda Sangihe akan meluncurkan inovasi Santer TB (Sistem Akselerasi Nusantara Tangguh Eliminasi Tuberkulosis). Program ini mengintegrasikan penemuan kasus secara aktif, skrining dini, pengobatan hingga tuntas, serta pemantauan kepatuhan pasien melalui fitur Electronic Directly Observed Treatment (E-DOT).

Melalui sistem tersebut, pasien akan mengunggah bukti saat mengonsumsi obat sehingga dapat dipantau secara elektronik oleh petugas kesehatan. Cara ini diharapkan mampu menekan angka pasien yang putus berobat sekaligus mempercepat penanganan apabila muncul efek samping selama terapi.

Selain itu, Dinkesda juga memperkuat edukasi kepada masyarakat dengan melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, lembaga pendidikan, serta seluruh pemangku kepentingan. Di setiap desa dan kelurahan juga telah dibentuk dua kader TBC yang bertugas membantu petugas kesehatan melakukan skrining, investigasi kontak, sekaligus mengawasi kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan.

Handry menegaskan, pengobatan yang dijalankan secara disiplin menjadi kunci utama keberhasilan penanganan TBC.
"Pasien TBC bisa sembuh total jika menjalani pengobatan sesuai standar sampai selesai. Karena itu kami mengajak masyarakat untuk tidak takut memeriksakan diri apabila mengalami gejala, patuh menjalani pengobatan, dan bersama-sama mendukung target eliminasi tuberkulosis di Kabupaten Kepulauan Sangihe pada 2030," pungkasnya.

Editor : Alfian Tumuahi
#Handry Pasandaran #Dinkesda Sangihe #TBC