MANADOPOST.ID – Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi dampak fenomena El Nino melalui Apel Gelar Pasukan Penanggulangan Bencana yang digelar di halaman Mapolres Kepulauan Sangihe, Selasa (4/8/26). Kegiatan ini menjadi momentum memperkuat sinergi lintas sektor dalam mengantisipasi berbagai ancaman bencana yang berpotensi terjadi di wilayah kepulauan tersebut.
Apel dipimpin langsung Bupati Kepulauan Sangihe, Michael Thungari, serta dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), TNI-Polri, Basarnas, BPBD, BMKG Naha, Satpol PP, Dinas Pemadam Kebakaran, perangkat daerah, instansi vertikal, relawan kebencanaan, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Dalam sambutannya, Bupati Michael Thungari menyampaikan apresiasi kepada Polri, khususnya Polres Kepulauan Sangihe, atas terselenggaranya apel sebagai tindak lanjut arahan Polda Sulawesi Utara untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi dampak fenomena El Nino.
“Apel ini merupakan bentuk komitmen bersama untuk memastikan kesiapan personel, peralatan, serta sinergi lintas sektor dalam menghadapi berbagai potensi ancaman bencana di daerah kita,” ujar Thungari.
Ia menjelaskan, sebagai daerah kepulauan terdepan Indonesia, Kabupaten Kepulauan Sangihe memiliki karakter geografis dan geologis yang menjadikannya rawan terhadap berbagai jenis bencana. Topografi yang didominasi perbukitan, garis pantai yang panjang, serta berada di kawasan Ring of Fire membuat wilayah ini berpotensi mengalami tanah longsor, banjir bandang, gempa bumi, tsunami hingga erupsi gunung api.
Bupati juga mengingatkan pengalaman bencana yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir, termasuk gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang berdampak pada sejumlah wilayah di Kabupaten Kepulauan Sangihe.
“Pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga bagi kita semua bahwa kesiapsiagaan bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan yang harus terus dibangun bersama,” katanya.
Selain ancaman bencana geologi dan hidrometeorologi, menurut Thungari, fenomena El Nino juga berpotensi memicu kekeringan, berkurangnya ketersediaan air bersih, terganggunya produktivitas pertanian, melemahnya ketahanan pangan, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.
Karena itu, ia menegaskan pentingnya langkah mitigasi yang terencana, terukur, dan melibatkan seluruh elemen masyarakat agar dampak yang ditimbulkan dapat diminimalkan.
Ia juga menekankan bahwa paradigma penanggulangan bencana saat ini tidak lagi hanya berorientasi pada penanganan saat bencana terjadi, tetapi lebih mengutamakan mitigasi, pencegahan, kesiapsiagaan, dan pengurangan risiko bencana secara berkelanjutan.
“Melalui apel gelar pasukan ini, saya mengajak seluruh unsur pemerintah, TNI-Polri, BPBD, pemerintah kecamatan dan kampung, serta seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat sinergi, meningkatkan profesionalisme, dan membangun budaya sadar bencana di tengah masyarakat,” ujarnya.
Thungari berharap tantangan geografis dan keterbatasan akses di Kabupaten Kepulauan Sangihe tidak menjadi penghalang dalam upaya penanggulangan bencana, tetapi justru menjadi motivasi untuk membangun sistem kebencanaan yang semakin kuat, adaptif, dan responsif.
Apel gelar pasukan ditutup dengan pemeriksaan kesiapan personel beserta peralatan pendukung yang akan digunakan dalam menghadapi berbagai potensi bencana, khususnya dampak fenomena El Nino di wilayah Kabupaten Kepulauan Sangihe.
“Keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama dalam setiap langkah pengabdian kita. Dengan semangat gotong royong dan kolaborasi yang solid, saya yakin kita mampu menghadapi setiap potensi ancaman bencana demi terwujudnya Kabupaten Kepulauan Sangihe yang aman, tangguh, dan sejahtera,” tutup Thungari.
Editor : Alfian Tumuahi