Limbah SPPG Tapuang Diduga Cemari Pemukiman Warga, Bau Menyengat Ganggu Aktivitas

Alfian Tumuahi • Dipublikasikan Jumat, 14 Agustus 2026 | 20:32 WIB
Warga Keluhkan Limbah SPPG Kelurahan Tapuang, Kecamatan Tahuna Timur, Sangihe.
Warga Keluhkan Limbah SPPG Kelurahan Tapuang, Kecamatan Tahuna Timur, Sangihe.

MANADOPOST.ID — Pengelolaan limbah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kelurahan Tapuang, Kecamatan Tahuna Timur, Kabupaten Kepulauan Sangihe, dikeluhkan warga. Limbah sisa pengolahan makanan bergizi gratis yang dialirkan melalui parit di tengah permukiman warga diduga berdampak terhadap kualitas lingkungan dan kenyamanan masyarakat.

Warga mengeluhkan kondisi parit yang sebelumnya terlihat jernih kini berubah menjadi hitam pekat.

Selain perubahan warna air, aroma menyengat yang diduga berasal dari aliran limbah juga disebut mengganggu aktivitas warga, termasuk saat beristirahat pada malam hari.

Keluhan warga tersebut menyoroti persoalan pengelolaan limbah SPPG Tapuang yang dinilai tidak hanya berkaitan dengan bau, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat sekitar.

"Kami sudah tidak tahan dengan bau menyengat ini. Kadang kala kalau tidur malam, jadi terbangun dengan bau ini, bukan terbangun dengan mau pergi kerja atau kadang kala begitu terbangun, mau pergi ke belakang, mau buang air kecil, kadangkala tidak tahan sampai selesai, jadi mau balik karena ini bau ini," keluh Runtuh Makasenda, saat diwawancarai, Jumat (14/8/26).

Menurut Makasenda, aroma tidak sedap tersebut tidak hanya dirasakan warga yang rumahnya berada tepat di sepanjang jalur parit pembuangan. Bau disebut telah menjangkau sejumlah rumah di sekitar lokasi.

"Jadi dari bau nya tidak cuma di pinggiran ini dari dampak sampai di beberapa rumah sampai di lapisan ketiga keempat," bebernya.

Ia mengatakan, persoalan tersebut telah berlangsung selama beberapa bulan. Bahkan, pemasangan instalasi pipa pembuangan yang diharapkan dapat mengatasi persoalan tersebut disebut belum sepenuhnya menghilangkan keluhan warga.

"Sampai hari ini walaupun sudah ada instalasi pipa pembuangan sudah ada pipa paralon itu tetap saja seperti biasa tetap dampaknya tetap ada, bau luar biasa, malah sekarang karena mungkin itu pembusukan makanan sudah melebihi dari yang lalu jadi baunya lebih para," beber Makasenda.

Keluhan warga juga mulai mengarah pada kekhawatiran terhadap kondisi kesehatan, terutama anak-anak yang sebelumnya masih beraktivitas dan bermain di sekitar aliran parit.

Yulius Berikan mengatakan, persoalan yang terjadi bukan hanya mengenai bau busuk, tetapi juga kekhawatiran terhadap kemungkinan dampak limbah terhadap kesehatan masyarakat.

"Yang menjadi kekhawatiran mungkin yang kemarin-kemarin ini boleh dibilang ini kuala ini anak-anak kalau pas ini boleh jaga bermain di bawah itu Sekarang sudah tidak boleh karena ada beberapa anak yang sempat bermain itu ya pada dasarnya ya mengalami sakit," ungkapnya.

Kondisi tersebut membuat warga mempertanyakan sejauh mana pengelolaan limbah SPPG telah memperhatikan aspek lingkungan dan kesehatan masyarakat sekitar.

Terlebih, ujung pipa paralon pembuangan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) disebut berada di kawasan permukiman yang juga menjadi ruang aktivitas warga.

"Sangat dikhawatirkan kondisi anak-anak ke depan nantinya kan bagaimana," pungkasnya.

Sementara itu, Kepala SPPG Tapuang, Aditya Paputungan, membantah adanya pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh limbah SPPG Tapuang.

"IPAL yang disini ini sudah sesuai prosedur untuk keterangan yang bapak berikan itu saya klaim bahwa itu tidak benar," sebut Aditya Paputungan.

Menurut Aditya, IPAL yang dibangun pihaknya telah sesuai prosedur. Namun, di sekitar lokasi juga terdapat fasilitas yang digunakan masyarakat.

"IPAL kami itu sudah sesuai prosedur nah hanya saja yang berada disitu itu ada tempat cuci piring masyarakat dan tempat permandian masyarakat," lanjutnya menjelaskan.

Aditya juga meminta adanya pembuktian terkait sumber air berwarna hitam dan bau yang dikeluhkan warga.

"Apakah bapak bisa menjamin bahwa ini ibarat IPAL atau dari dari warga ?" tanya Paputungan, menantang warga.

Di sisi lain, Mitra SPPG Tapuang, Yul Sirape, juga membantah jika bau menyengat yang dikeluhkan warga sepenuhnya berasal dari IPAL SPPG.

Menurutnya, pihak SPPG telah turun langsung ke lokasi untuk melihat kondisi yang dikeluhkan warga.

"Jadi kita juga kan turun ke lokasi. Tapi pas kita masuk bukan bau dari bahan-bahan basah, limba basah, tetapi apa namanya, kandang ternak," katanya menjelaskan.

Sirape menilai sumber bau kemungkinan berasal dari campuran limbah masyarakat dengan limbah lain yang berada di sekitar lokasi.

"Nah, tetap ini karena kan sudah tercampur dari limba masyarakat di tempat, dari hewan, mungkin dari beberapa tempat ini, nah jadi kita sekarang bikin solusi saja, Kita tambah berapa parolon tempat yang tidak ada penghuninya, baru kita cek lagi apa masih bau," sambungnya.

Persoalan ini kini menjadi perhatian warga yang berharap adanya pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut terhadap sumber bau serta kondisi aliran air di sekitar permukiman, sehingga tidak menimbulkan keresahan maupun potensi gangguan terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Editor : Alfian Tumuahi
SPPG Sangihe Limbah SPPG Mbg