MANADOPOST.ID- Kita pasti sudah tidan asing dengan nama-nama seperti Grace Tahir, Putri Tanjung, Sean Gelael, Axton Salim, Indra Priawan, hingga Armand Wahyudi.
Mereka lahir di tengah keluarga konglomerat. Tumbuh besar di lingkungan bisnis raksasa. Dan kini tampil sebagai wajah baru generasi penerus perusahaan keluarga.
Grace Tahir misalnya, mengambil peran penting dalam Mayapada Group. Dengan valuasi bisnis keluarga mencapai Rp64,7 triliun, Grace dikenal sebagai sosok yang rendah hati.
Meskipun berasal dari keluarga kaya raya, saat ini ia memilih untuk menjalankan hobinya di bidang digital dengan membuat sebuah program Podcast.
Lalu ada Putri Tanjung. Putri sulung Chairul Tanjung, adalah wajah paling populer dari CT Corp.
Dengan kerajaan bisnis senilai Rp80 triliun, Putri memilih jalur kreatif, membangun Creativepreneur, sebelum kemudian mendapat kepercayaan untuk masuk ke jajaran inti bisnis keluarga.
Nama Sean Gelael berbeda lagi. Alih-alih hanya duduk di balik meja direksi, Sean mengukir kiprah di lintasan balap internasional.
Meski begitu, ia tetap memegang peran strategis di bisnis KFC Indonesia yang keluarganya kuasai, dengan valuasi sekitar Rp3 triliun.
Generasi muda lain adalah Axton Salim, yang membawa semangat inovasi ke Salim Group, konglomerasi dengan nilai Rp116 triliun.
Latar belakangnya di bidang keuangan modern membuatnya menjadi salah satu kunci dalam transformasi bisnis Indofood dan sektor lain yang dikuasai keluarga.
Yang tak kalah menarik adalah Indra Priawan, pewaris Blue Bird Group dengan nilai Rp9,98 triliun. Suami dari artis cantik Nikita Wily ini memilih jalur yang lebih tenang.
Ia banyak terlibat dalam pengembangan layanan transportasi keluarga, beradaptasi dengan tantangan disrupsi teknologi ride-hailing dan kini ia juga memiliki program Podcast di youtube dengan jutaan subscribe.
Sementara itu, Armand Wahyudi berdiri di atas salah satu kerajaan bisnis terbesar, Djarum Group dan BCA, dengan nilai mencapai Rp385 triliun.
Bagi sebagian orang, keberhasilan mereka mungkin terlihat "instan" karena warisan kekayaan yang sudah ada.
Namun, realitasnya, tantangan generasi kedua ini justru lebih berat. Bagimana menjaga keberlangsungan kerajaan bisnis sekaligus membuktikan identitas diri di tengah sorotan publik.
Editor : Ayurahmi Rais