MANADOPOST.ID — Pemilihan Nyong Noni Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) 2026 resmi bergulir.
Kompetisi yang menjadi salah satu etalase generasi muda Sulut tersebut mulai memasuki tahapan persaingan setelah Talent Show Pemilihan Nyong Noni Sulut 2026 digelar di Manado Town Square (Mantos).
Momentum tersebut sekaligus menandai dimulainya rangkaian kompetisi yang mempertemukan para peserta dari berbagai daerah di Sulut.
Bukan sekadar ajang adu penampilan, Pemilihan Nyong Noni diharapkan menjadi ruang aktualisasi bagi generasi muda untuk memperlihatkan kapasitas, wawasan, karakter, kreativitas, serta kemampuan membawa identitas daerah ke ruang publik.
Gubernur Sulut Yulius Selvanus, melalui Kepala Dinas Pariwisata Daerah Sulut dr Kartika Devi Tanos, menyebut penyelenggaraan tahun ini memiliki sisi yang berbeda dan spesial.
Menurut Devi Tanos, keistimewaan tersebut tidak hanya terletak pada kompetisi pemilihan Nyong dan Noni, tetapi juga karena rangkaian kegiatan tahun ini akan bersinggungan langsung dengan agenda organisasi Ikatan Nyong Noni Sulut (INNS).
"Jadi pemilihan Nyong Noni Sulut 2026 ini juga akan dirangkaikan dengan Musyawarah Besar (Mubes) Ikatan Nyong Noni Sulut (INNS), dimana akan ada ketua INNS baru dalam Mubes itu," katanya.
Perpaduan antara ajang pemilihan dan agenda organisasi tersebut memberikan warna tersendiri dalam penyelenggaraan tahun ini. Selain melahirkan figur Nyong dan Noni yang akan menjadi representasi generasi muda Sulut, momentum tersebut juga menjadi bagian dari proses regenerasi organisasi yang menaungi para alumni Nyong Noni.
Devi yang merupakan mantan Noni Sulut turut melihat tingginya antusiasme peserta maupun daerah yang mengirimkan perwakilannya.
Semangat tersebut, kata dia, tercermin dari dukungan masing-masing daerah terhadap kontingen Nyong maupun Noni yang berkompetisi.
"Pemilihan Nyong Noni Sulut 2026 disambut sangat antusias oleh semua peserta dan daerah utusan. Hal itu terlihat dari dukungan daerah terhadap masing-masing kontingen baik Nyong maupun Noni," ujarnya.
Antusiasme tersebut menjadi modal penting bagi keberlanjutan Pemilihan Nyong Noni sebagai salah satu ruang promosi potensi Sulawesi Utara melalui kekuatan generasi muda.
Di tengah geliat industri pariwisata yang semakin mengandalkan kreativitas, komunikasi digital dan pengalaman wisata, figur Nyong dan Noni dituntut tidak berhenti pada aspek penampilan.
Mereka diharapkan memiliki kemampuan bercerita mengenai daerahnya, memahami kekayaan budaya, mengenali destinasi wisata, sekaligus mampu memperkenalkan produk ekonomi kreatif dan UMKM lokal.
Karena itu, predikat Nyong dan Noni Sulut bukan semata-mata mahkota atau gelar prestisius. Di balik gelar tersebut terdapat tanggung jawab untuk menjadi wajah Sulut ketika memperkenalkan daerah kepada masyarakat luas maupun wisatawan.
Devi menegaskan harapan tersebut kepada siapa pun yang nantinya terpilih dalam Pemilihan Nyong Noni Sulut 2026.
"Harapan saya kedepannya, siapapun yang terpilih dalam pemilihan Nyong Noni Sulut 2026, bisa menjadi duta pariwisata, yang akan konsen dalam mempromosikan pariwisata, UMKM serta semua potensi Sulut," katanya.
Harapan itu sekaligus memperluas makna keberadaan Nyong Noni dalam ekosistem pariwisata daerah. Seorang duta pariwisata tidak hanya dituntut memiliki penampilan yang representatif, tetapi juga harus mampu menjadi komunikator yang memahami karakter daerah.
Sulut memiliki modal besar untuk dipromosikan. Mulai dari destinasi bahari, kekayaan alam, warisan budaya, kuliner, kerajinan, hingga produk UMKM yang tumbuh di berbagai daerah. Seluruh potensi tersebut membutuhkan figur yang mampu mengemasnya menjadi cerita yang menarik dan mudah diterima publik.
Di sinilah peran Nyong Noni dapat berkembang dari sekadar ikon seremoni menjadi bagian dari ekosistem promosi daerah.
Dengan kemampuan komunikasi, kreativitas, penguasaan media sosial, serta pemahaman terhadap budaya dan pariwisata, para finalis diharapkan mampu membawa cerita tentang Sulut melampaui batas geografis. (ewa)
Editor : Baladewa Setlight