Liang Tembo atau gua kepala, yang berlokasi di Desa Tanaki, Kecamatan Siau Barat Selatan (Sibarsel), tepatnya di Dusun Tanganga Lindongan I merupakan salah satu tempat yang dikeramatkan, di Kabupaten Kepulauan Sitaro, sekaligus menjadi tempat berawalnya kisah kepahlawanan 12 bersaudara, yang bertarung melawan Mangindano (Bajak Laut), yang berasal dari negeri tetangga Philipine
MANADOPOST.ID - Butuh sekira 35 menit perjalanan darat menggunakan sepeda motor dari pelabuhan Ulu, Kecamatan Siau Timur mencapai Dusun Tanganga Lindongan I, Desa Tanaki, Kecamatan Siau Barat Selatan. Dalam perjalanan tersebut, saya ditemani seorang pemandu asal Sitaro, Dominik Derek, sekaligus perintis paket perjalanan darat di Sitaro. Setiba di Tanaki, Dom sapaan akrabnya yang saat itu membawa turis asal Jerman Heiko Michael, nampak berbicara pada salah satu warga lokal, Jokman Harani yang akan memandu kami, dalam perjalanan menuju Liang Tembo Tak lama kemudian, rombongan bertolak menuju rumah Monika Misa, yang merupakan keturunan penjaga Liang Tembo, dan mempunyai darah keturunan dari ke 12 bersaudara tersebut. "Sore tante," ujar Jokman yang saat itu langsung memasuki pintu, yang kemudian dibalas Monika Misa dengan menyuru masuk kami berempat. Usai bersalaman, Jokman menuturkan keinginan kita untuk meminta ijin masuk ke gua. "Permisi tante, torang ini ada bawah bule, deng wartawan satu orang, kong dorang suka mo maso ka Liang Tembo, kalo tante kase ijin, torang mo maso sekarang," ujar Jokman dalam bahasa Manado. Monika Misa langsung memandang dengan mata tajam dan serius kearah kami, dan menjelaskan larangan yang tidak bisa dilakukan saat memasuki gua. "Kalau kalian ingin masuk, ada peraturan yang wajib diikuti. Pertama saat di dalam gua, tidak bisa buang luda karena disitu merupakan tempat keramat, yang menjadi peristirahatan Yupung (nenek moyang) kami," ujarnya Kedua lanjut dia harus turut didampingi orang yang tau bahasa daerah untuk meminta ijin sebelum memasuki gua "Kemudian orang yang memiliki ilmu hitam, maupun memiliki niat mengetes ilmu, dilarang keras memasuki gua hal ini demi keselamatan yang bersangkutan," tegasnya sembari tetap mengamati wajah kami. Karena penasaran, kami pun bertanya, mengenai asal usul liang tembo. Dengan perlahan Monika selaku juru kunci mulai menuturkan. "Ini merupakan kisah yang sudah turun temurun, diceritakan dari kakek hingga ke anak-anak saya. Jadi dalam gua ini, ada 12 tengkorak manusia, yang dipercaya merupakan nenek moyang dan pahlawan pembela desa kami, dalam menumpas Mangindano (Bajak Laut) dari Philipine yang saat itu sering masuk dan menjara desa kami," ucapnya. Dari 12 orang tersebut, lanjut dia ada enam tokoh yang dikenal yakni Bahagia, Baharia, Takasenggehang, Takaapide, Takaliwang (Takariwang) serta Dorong Dasi. "Ke enam orang ini dikatakan merupakan orang sakti namun, Dorong Dasi konon merupakan tokoh wanita satu satunya, yang memiliki kesaktian serta keberanian paling menonjol diantara yang lainya," teran dia Kisah ini lanjutnya, berawal dari gempuran Mangindano tanpa henti, membuat mereka terpaksa harus melakukan perlawanan, dengan membantai seluru armada yang datang, hingga suatu hari saat usia senja, mereka berjanji kalau jika mati, mereka harus ditaru disatu tempat yang sama yakni Liang Tembo, yang merupakan tempat mereka berkumpul. "Kematian mereka pun, tidak ada karena dibunuh, namun hanya termakan usia. Berselang beberapa waktu, pasca waktu kematian, kabar menyebar cepat pada Mangindano, sehingga mereka kembali masuk dan menjarah desa," terangnya Saat itu katanya, salah satu leluhur mereka bersama warga yang selamat langsung lari ke arah liang tembo, karena Dorong Dasi berpesan, kepada kami keturunan penjaga, meski mereka sudah tidak ada, namun jika desa dalam bahaya, maka segera datang ke Liang Tembo, dan melakukan ritual Menggapa (Pemanggilan), maka jiwa mereka akan turun berperang melawan Mangindano. "Jadi mereka mempersiapkan kemenyan untuk melakukan ritual Menggapa. Malam usai ritual, tiba-tiba warga yang saat itu bersembunyi di Liang Tembo mendengar suara tawa dari dalam desa, menjadi teriakan yang mencekam, sepanjang malam, ujarnya yang membuat kami merinding. Saat pagi yang begitu sunyi, tambah dia warga yang bersembunyi, masuk dan memantau, ternyata seluruh Mangindano, sudah tidak ada, hanya meninggalkan jejak seretan di tanah. Namun hal tersebut ganjil, sebab kapal mereka masi berada di pantai. Ketika mereka berjalan untuk memeriksa keadaan lanjutnya, ternyata liwua (Danau) yang berada antara kampung Tanganga dan Balirangeng, sudah menjadi merah. "Mereka terkejut, ternyata, tumpukan mayat Mangindano yang sudah terpisah dengan kepala berada tepat di tengah Liwua. Dan sejak saat itu dinamakan menjadi Liwua Mangindano. Lokasi tersebut tepat bersebelahan dengan Liang Tembo," kuncinya. Usai mendengarkan kisah tersebut, kamipun bergegas, untuk menuju Liang Tembo, dengan perasaan bercampur aduk. Dengan berjalan kaki menuruni bukit, sekitar 5-10 menit ke arah pinggiran laut tiba-tiba terlihat satu goa yang tidak terlalu dalam. Hanya sekitar lima meter kedalaman yang didalamnya berjejer 12 tengkorak kepala manusia dengan rapih dan bersih, sembari berfoto, Jokman Harani menjelaskan, adanya cerita suatu hari saat perang kemerdekaan melawan belanda, saat itu, ada salah satu keturunan dari 12 orang sakti tersebut, yang menjadi tentara. "Jadi beliau datang ke Sitaro. Untuk mengambil satu tengkorak yang akan nantinya dijadikan sebagai benda pusaka waktu pertempuran menggempur tentara Belanda di Makasar Sulawesi Selatan," ujarnya Warga tambah dia mengijinkan, dan satu tengkorak yang di tunjuk, dibungkus rapih dan dimasukan dalam peti kayu. Saat tiba disana pas akan digunakan, peti tersebut sudah dalam keadaan kosong. "Warga pun di hubungi untuk mengecek, ternyata satu tengkorak tersebut, sudah kembali dan tersusun rapih di dalam gua, sehingga waktu itu para warga langsung melakukan ritual pembersihan dan meminta maaf karena, memberikan ijin tanpa direstui," ujarnya. Dominik Derek, yang juga merupakan Ketua DPC HPI, juga menjelaskan, bahwa kebesaran nama dari Dorong Dasi ini, hingga namanya, dijadikan tarian adat di Sitaro dari desa Tanaki. "Namun sedikit warga yang mengetahui, karena memang keterbatasan nenek moyang kita, tidak memiliki literatur yang jelas berupa buku peninggalan, untuk itu, sebagai orang daerah, kita harus mampu melestarikan budaya serta mencari tau seperti apa budaya kita ini," bebernya. Disisi lain Dom sapaan akrabnya, meminta agar pemerintah kabupaten dalam hal ini Dinas Pariwisata, dapat membuat akses jalan. "Namun harus menyatu dengan alam, serta tidak merusak lingkungan. Sebab semakin banyak destinasi, maka wisatawan akan semakin lama tinggal di Sitaro. Tentusaja akan semakin menambah pendapatan di Sektor Pariwisata. Disisi lain kita juga dapat mengajak guide lokal, agar mendapatkan penghasilan setiap ada kunjungan. Untuk itu kita berusaha mengekspos setiap desa memiliki potensi wisata," kuncinya. Sementara itu Heiko Michael, Wisatawan asal Jerman, mengaku takjub dengan cerita adat dan kebudayaan di Sitaro. "Apalagi ini memiliki jejak peninggalan, dan nilai historis yang baik," singkatnya. (Don) Editor : Don Papuling