Baladewa Setlight• Selasa, 8 Juni 2021 | 13:10 WIB
PENANGANAN: Kepala DP3AP2KB Kepulauan Sitaro Dr Ria M Papalapu saat berfoto bersama dengan jajaran. (Dewi/MP)MANADOPOST.ID - Angka pelecehan seksual terhadap anak di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) mengalami penurunan. Berdasarkan data dari Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) per Mei 2021 sebanyak lima kasus. Hal ini sangat berbeda jauh dengan data sebelumnya pada tahun 2020 yakni sebanyak 19 kasus pelecehan seksual terhadap anak. “Ya untuk tahun ini per Mei 2021 tercatat lima kasus pelecehan seksual terhadap anak. Semoga jumlah ini tidak akan bertambah sampai akhir tahun ini,” ungkap Kepala Bidang Pencegahan Penanganan Kekerasan Perempaun dan Anak Cynthia O Ampouw SE AK. Lebih lanjut Cynthia menjelaskan, jumlah kasus pelecehan seksual terhadap anak tahun 2019 sebanyak enam kasus. Dan pada tahun lalu naik menjadi 19 kasus, dan di tahun ini per Mei turun menjadi lima kasus. Namun pihaknya berharap jumlah kasus pelecehan seksual terhadap anak sampai akhir tahun ini tetap seperti itu. Untuk itu sangat diperlukan kerjasama dari pada orang tua untuk tetap dapat mengawasi anak-anak mereka. Apalagi di kondisi pandemi saat ini, yang aktifitas anak-anak paling banyak di rumah. “Ya kita berharap kasus-kasus seperti ini akan semakin berkurang di Kabupaten Kepulauan Sitaro ini. Untuk itu sangat diperlukan adanya kerjasama dari orang tua untuk tetap dapat mengawasi anak-anak mereka,” ucapnya. Sementara itu Kepala DP3AP2KB Kepulauan Sitaro Dr Ria M Papalapu M.Kes menambahkan, demi menekan angka pelecehan seksual di Bumi Karamando maka pihaknya berencana akan terus melakukan sosialisasi disekolah-sekolah terkait pentingnya menjaga diri sebagai perempuan, agar tidak terjadi kasus pelecehan seksual. Dan saat ini kan telah ada forum anak daerah, dimana mereka yang akan menjadi pelopor dan pelapor, serta mereka juga yang akan mensosialisasikan keteman-teman mereka. Hal ini pun salah satu langkah pemerintah untuk mengantisipasi terjadinya kasus-kasus serupa. "Jadi wadah itu yang dipakai untuk melakukan sosialisasi disekolah-sekolah kepada teman-teman mereka. Karena kalau sesama mereka, maka akan lebih dipahami dan dimengerti. Karena mereka kan seumuran, jadi agak lebih mudah dipahami. Dan kami berharap dengan adanya forum anak daerah ini, dapat mengurangi angka pelecehan seksual kepada anak. Takutnya akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Kadang kan anak-anak tidak tau bahkan menganggap enteng hal tersebut," tukasnya. (dew/ewa) Editor : Baladewa Setlight