Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Kisah Kuburan Dalam Rumah di Sitaro: Adat Istiadat, Ilmu Hitam hingga Wisata Horor

Dewi Muntia • Minggu, 1 Oktober 2023 | 12:37 WIB
Kubur di ruang dapur jadi tempat bersantai warga Pulau Buhias, Kamis (28/9) (Dewi/MP)
Kubur di ruang dapur jadi tempat bersantai warga Pulau Buhias, Kamis (28/9) (Dewi/MP)

MANADOPOST.ID - Kuburan luar rumah ✘. Kuburan dalam rumah ✔. Begitulah kira-kira jika meminjam istilah kekinian dengan adat yang ada di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro). Zaman makin modern, tradisi memakamkan jenazah di samping rumah tetap lestari hingga kini.

Menurut warga lokal di Pulau Siau, hal ini adalah tradisi turun temurun sejak zaman dulu. Jauh sebelum agama Kristen masuk ke tanah Mandolokang Kolo-Kolo. Mereka memiliki kepercayaan lokal dan ritual tertentu terkait pemakaman.

"Kuburan harus dekat dengan rumah, agar pihak keluarga dapat menjaga dan merawatnya sebagai kenangan. Selain itu, kami takut ada orang yang memiliki ilmu hitam yang dapat memanfaatkan jenazah atau roh yang berada di dalam tanah," tutur Dominik Derek.

Tradisi ini juga berlaku untuk bayi yang baru lahir atau yang belum mencapai seminggu. Mereka akan dikuburkan dekat dengan fondasi rumah atau di dalam sebagai bentuk penghormatan dan perlindungan terhadap arwah bayi.

Alasannya? Karena bayi yang masih kecil hingga sangat rentan jika ada orang yang memiliki ilmu hitam menggunakan tubuh dan roh anak untuk suatu keperluan.

Tradisi ini mungkin terdengar horor bagi wisatawan atau pendatang di Sitaro atau dikenal dengan sebutan Negeri 47 Pulau. Namun, warga lokal menilai hal tersebut menjadi daya tarik tersendiri.

Dominik yang juga merupakan pemandu wisata mengatakan, wisatawan lokal (Indonesia) cenderung merasa aneh dan takut ketika mereka melihat kuburan di halaman rumah atau bahkan di dalam. Hal ini karena umumnya kuburan dijumpai di Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang jauh dari pemukiman warga.

“Untuk wisatawan asing hal inilah menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka, karena unik,” bebernya. Menariknya lagi, warga menjadikan kuburan ini sebagai tempat santai untuk menghilangkan rasa rasa lelah sehabis bekerja.

Kuburan di samping rumah warga berada tepat pada fondasi rumah warga Dame I. (Dewi/MP)
Kuburan di samping rumah warga berada tepat pada fondasi rumah warga Dame I. (Dewi/MP)

"Ini sudah menjadi tradisi turun temurun. Warga sudah nyaman dengan kondisi ini sehingga mereka lebih memilih memakamkan keluarga di halaman rumah,” tuturnya.

Di sisi lain, asisten III Setda Sitaro Semuel Raule, mengungkapkan bahwa beberapa kampung sudah memiliki TPU. “Sudah ada beberapa wilayah seperti di Tagulandang telah ada TPU. Pun ada gereja-gereja yang menyediakan lahan pekuburan bagi warga jemaatnya. Nah kalau di sini seperti ada pekuburan cina dan juga muslim,” jelasnya.

Hal senada diutarakan Golfinger Kalensang. Camat Biaro itu menjelaskan bahwa di wilayahnya telah ada lahan TPU sejak tahun 2015. “Karena hal ini menjadi penegasan oleh pemerintah pusat melalui Kementerian Desa,” timpalnya. Namun tetap saja. Masih ada warga yang memakamkan keluarganya di halaman rumah.

Beberapa di antaranya sudah beralih ke TPU yang berada di pinggiran kampung. Bahkan ada kuburan yang sudah lama dan berada di halaman rumah dibongkar kemudian dipindahkan ke TPU. “Itu atas kemauan keluarga. Ya, karena kami pemerintah selalu memberikan arahhan kepada mereka mengenai penataan ruang di kampung agar lebih baik dan terarah. TPU sudah hampir full,” kata Golfinger.

Pun dengan di Kecamatan Tagulandang. “Untuk TPU sebagian besar sudah ada di beberapa kampung,” imbuh camat Norbert A Sakendatu. Meskipun demikian, beberapa warga masih memilih memakamkan keluarganya di halaman rumah.

Hal ini menunjukkan bahwa tradisi pemakaman di Sitaro tetap kuat dan dijunjung tinggi oleh warganya. Meskipun terdapat upaya dari pemerintah untuk menyediakan TPU. (dew/gnr/tkg)

Editor : Kenjiro Tanos
#Siau #Adat #kuburan #Sitaro