MANADOPOST.ID – Suasana hangat dan semangat kolaboratif terasa di Desa Tenganan Dauh Tukad, Karangasem, ketika tim dari Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU) Politeknik Pariwisata Bali Kampus Kota Manado melaksanakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang bertujuan memperkuat promosi pariwisata berbasis budaya lokal melalui pendekatan event.
Mengusung tema besar pelatihan dan pemberdayaan masyarakat, kegiatan ini menjadi bentuk nyata keterlibatan akademisi dalam mendukung pengembangan destinasi wisata berkelanjutan yang bertumpu pada kekuatan adat dan kearifan lokal.
Sebagai desa adat yang kaya akan tradisi dan ritual, Tenganan Dauh Tukad dipilih menjadi lokasi kegiatan oleh Program Studi Pengelolaan Konvensi dan Acara.
Tim yang terdiri dari dosen dan mahasiswa terjun langsung ke tengah masyarakat selama dua hari, menghadirkan sinergi antara dunia pendidikan vokasi dan kehidupan komunitas desa. Hari pertama kegiatan diisi dengan keikutsertaan dalam tradisi perang pisang—sebuah upacara budaya yang menjadi simbol kekuatan solidaritas dan nilai spiritual masyarakat Tenganan.
Dengan menyaksikan dan meresapi langsung ritual tersebut, peserta PKM tidak hanya belajar tentang budaya lokal, tetapi juga mempererat ikatan sosial antara kampus dan masyarakat adat.
Hari kedua menjadi puncak dari kegiatan pengabdian, ketika pelatihan pemasaran event dilaksanakan dengan menghadirkan tiga narasumber berpengalaman di bidang event dan promosi digital.
Putu Surya Laksana Rahjasa membuka sesi dengan materi tentang peran event sebagai alat promosi destinasi.
Dilanjutkan oleh Ni Kadek Swandewi yang memaparkan strategi pemasaran event secara praktis dan relevan bagi pelaku pariwisata lokal. Terakhir, I Gede Made Sukariyanto memberikan pelatihan editing konten digital untuk promosi media sosial dan platform daring lainnya.
Pembukaan resmi acara dilakukan oleh Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Politeknik Pariwisata Bali Dr Diah Sastri Pitanatri yang mewakili Direktur Politeknik Pariwisata Bali.
Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya peran pendidikan vokasi dalam mendukung transformasi pariwisata desa melalui kolaborasi aktif dan berbasis kebutuhan masyarakat.
Pendidikan, menurutnya, bukan hanya soal transfer ilmu di ruang kelas, tetapi juga tentang membangun dampak positif secara langsung bagi komunitas.
Antusiasme masyarakat Desa Tenganan Dauh Tukad terlihat jelas sepanjang kegiatan berlangsung.
Bendesa Adat I Wayan Tisna menyambut baik inisiatif ini dan menyampaikan apresiasinya atas kehadiran Poltekpar Bali, yang menurutnya memberikan angin segar bagi masyarakat desa.
"Hampir dua dekade desa mereka belum pernah mendapat perhatian dari kalangan akademik, dan inisiatif ini membawa harapan baru dalam pengembangan potensi pariwisata desa berbasis event. Tradisi yang selama ini dijalankan turun-temurun, kini mendapatkan ruang untuk dikemas secara digital dan disebarluaskan ke khalayak yang lebih luas tanpa menghilangkan nilai sakral dan autentiknya," jelasnya.
Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal menuju peningkatan kapasitas masyarakat desa dalam mengelola dan memasarkan event pariwisata secara profesional.
Dengan tetap mengakar pada budaya lokal, pelatihan ini memberikan fondasi kuat bagi Tenganan Dauh Tukad untuk bersaing di era digital, sekaligus menjadi contoh bagaimana desa wisata dapat tumbuh melalui kolaborasi antara pendidikan tinggi, tradisi, dan inovasi. (tkg)
Editor : Kenjiro Tanos