MANADOPOST.ID – Di balik senyum haru Shintia Pricilia Tundunaung saat dikukuhkan sebagai lulusan Program Studi Ilmu Teologi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), tersimpan kisah luar biasa tentang cinta dan pengorbanan orang tua.
Demi menghadiri momen penting putri mereka, kedua orang tua Shintia rela menempuh perjalanan panjang dari Talaud ke Salatiga—bahkan harus bertarung dengan maut ketika kapal yang mereka tumpangi terbakar di tengah laut.
Jemi Tundunaung dan istrinya menjadi penumpang KM Barcelona yang terbakar di perairan Pulau Talise saat dalam perjalanan menuju Manado.
Dalam kondisi panik, keduanya terpisah di laut dan hanya bisa mengandalkan baju pelampung untuk bertahan hidup.
Bersama satu saudara ipar mereka, mereka terapung selama berjam-jam sebelum akhirnya ditemukan dalam keadaan selamat.
Namun sang ipar harus dilarikan ke rumah sakit dan tidak bisa melanjutkan perjalanan ke Salatiga.
Meski kehilangan seluruh barang bawaan dan masih terguncang secara emosional, pasangan ini tetap memilih melanjutkan perjalanan.
Dari Manado, mereka menumpang pesawat menuju Salatiga untuk menyaksikan Shintia mengenakan toga di atas panggung, dalam prosesi Wisuda Periode III UKSW yang berlangsung pada Kamis (24/7), bertepatan dengan perayaan HUT ke-1.275 Kota Salatiga.
Kisah mereka menyentuh banyak hati di Balairung Universitas.
Rektor UKSW Intiyas Utami secara khusus menyampaikan apresiasi atas perjuangan orang tua yang rela mengorbankan segalanya demi mendukung pendidikan anak.
Dalam sambutannya, ia juga menegaskan bahwa di balik setiap kelulusan, selalu ada doa dan perjuangan luar biasa dari orang tua, yang patut dikenang dan dihormati.
Shintia, yang kini menyandang gelar Sarjana Sains Teologi, tidak hanya diwisuda di tengah gegap gempita akademik, tetapi juga diiringi oleh kisah pengorbanan yang tak ternilai. (tkg)
Editor : Kenjiro Tanos