MANADOPOST.ID – Setiap tanggal 19 Agustus, bangsa Indonesia memperingati salah satu momen penting pasca-proklamasi.
Dimana ditetapkannya Dr Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi, atau yang akrab dikenal sebagai Sam Ratulangi, sebagai Gubernur pertama Sulawesi.
Tokoh asal Minahasa kelahiran 5 November 1890 ini bukan hanya pejabat administratif biasa.
Ia adalah penyambung kabar kemerdekaan di tanah Sulawesi, sekaligus tokoh komunikasi yang memastikan gema Proklamasi 17 Agustus 1945 tidak hanya terdengar di Jakarta, tetapi juga sampai ke pelosok timur Indonesia.
Sam Ratulangi hadir langsung saat Soekarno-Hatta membacakan teks Proklamasi di Jalan Pegangsaan Timur, Jakarta, pada 17 Agustus 1945.
Sehari setelahnya, ia juga terlibat dalam sidang pertama PPKI, yang akhirnya pada 19 Agustus 1945 memutuskan dirinya sebagai gubernur Sulawesi.
Tak menunggu lama, sore harinya ia bersama tiga tokoh lain—Andi Pangerang Daeng Parani, Andi Sultan Daeng Raja, dan Mr. Andi Zaenal Abidin—terbang menuju Sulawesi.
Mereka mendarat di Bulukumba pada 20 Agustus 1945, membawa kabar yang akan mengubah sejarah kawasan timur Nusantara.
Perlu diingat, pada masa itu radio hanya dimiliki segelintir orang. Mayoritas rakyat Sulawesi belum tahu Indonesia telah merdeka.
Di sinilah peran Sam Ratulangi menjadi krusial.
Ia segera menyusun strategi komunikasi: membagi tim untuk menyebarkan berita proklamasi ke berbagai penjuru, sementara dirinya mengambil tanggung jawab ke wilayah utara.
Pada 20 Agustus 1945, di hadapan pemuda dan tokoh masyarakat, Sam Ratulangi membacakan ulang naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia secara resmi.
Sambutan masyarakat luar biasa. Kabar kemerdekaan menyebar dari mulut ke mulut, dari kampung ke kampung, menyalakan api perjuangan mempertahankan Indonesia di tanah Sulawesi.
Butuh hampir dua minggu sampai berita itu bisa dicetak. Baru pada 29 Agustus 1945, surat kabar Harian Pewarta Selebes mengumumkan proklamasi secara luas.
Namun antusiasme rakyat sudah tak terbendung.
Di Lapangan Hasanuddin, Ujung Pandang, masyarakat berbondong-bondong mengibarkan Merah Putih sebagai wujud nyata kemerdekaan.
Di Sigi, Sulawesi Tengah, bendera Merah Putih bahkan pertama kali dikibarkan di halaman Masjid Mujahidin, yang kini dikenang dengan sebuah monumen bersejarah.
Bagi rakyat Sulawesi, Sam Ratulangi bukan sekadar gubernur pertama, tetapi juga simbol keberanian dan keterhubungan.
Ia memastikan bahwa kemerdekaan yang diproklamasikan di Jakarta bukan sekadar kabar jauh, melainkan kenyataan yang dirasakan langsung oleh rakyat Sulawesi.
Sejarah 19 Agustus mengingatkan kita bahwa kemerdekaan tidak hanya dimulai di ibu kota, tetapi juga diperjuangkan dan disebarkan oleh para tokoh daerah yang mengorbankan waktu, tenaga, bahkan nyawanya untuk Indonesia merdeka. (tkg)
Editor : Kenjiro Tanos