MANADOPOST.ID - Di balik rapinya setumpuk berkas di atas meja kerja, tersimpan kisah perjalanan panjang seorang pejabat yang tak pernah berhenti belajar.
Namanya Febry Dien ST MInfTech(Man), Kepala Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Provinsi Sulawesi Utara.
Wajahnya teduh, senyumnya ramah, tetapi cerita di balik langkah kariernya penuh lika-liku, bahkan pernah membawanya menimba ilmu hingga ke Negeri Kangguru.
Ditemui di ruang kerja, Febry membuka cerita soal perjalanan karirnya. Febry sejak awal sudah bertugas di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) -namanya sebelum berubah jadi BPMP.
Setelah itu, ia menerima Beasiswa Australian Development Scholarship (ADS)—yang kini dikenal sebagai Australian Awards Scholarship (AAS).
Dari tahun 2009 hingga 2011, ia menghabiskan waktu di University of Queensland, salah satu universitas riset bergengsi yang berdiri sejak 1909.
“Pengalaman itu membuka cakrawala berpikir saya. Bukan hanya soal akademik, tapi juga bagaimana dunia pendidikan bisa dikelola dengan sistematis dan visioner,” kenangnya.
Sepulangnya ke tanah air, Febry langsung mengabdikan diri. Pada 2016, ia dipercaya sebagai Kasubag Umum LPMP Sulut, sebelum akhirnya pada 13 Agustus 2020 dilantik menjadi Kepala LPMP Sulut.
Tanggal itu bukan sekadar momen karier, tetapi juga punya nilai personal—bertepatan dengan ulang tahun sang anak.
“Rasanya seperti hadiah istimewa. Tanggal itu selalu saya ingat,” ujarnya sambil tersenyum.
Namun, 2020 bukanlah tahun yang mudah. Dunia diguncang pandemi Covid-19, dan sektor pendidikan menjadi salah satu yang paling terpukul.
Semua kegiatan dipaksa berpindah ke ruang digital. Tatap muka terbatas hanya bisa dilakukan di ruang terbuka.
Alih-alih menyerah pada situasi, Febry menjawab tantangan itu dengan sebuah gebrakan: Mapalus Pendidikan.
Program ini menjadi wadah kolaborasi, mengajak para stakeholder pendidikan di Sulut untuk ikut serta dalam membangun kualitas belajar-mengajar.
“Saya percaya pendidikan tidak bisa dijalankan sendirian. Harus ada gotong-royong,” tegasnya.
Tahun berganti, lembaga yang ia pimpin pun berganti nama. LPMP resmi bertransformasi menjadi BPMP (Balai Penjaminan Mutu Pendidikan).
Febry pun otomatis mencatat sejarah: ia adalah Kepala LPMP terakhir sekaligus Kepala BPMP pertama di Sulawesi Utara.
“Sebagai Unit Pelayanan Teknis Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, tugas pokok kami adalah mengawal program prioritas dan memberikan pendampingan advokasi kepada pemerintah daerah,” jelasnya.
Lima tahun sudah ia mengemban amanah ini. Febry tak menampik, jalan masih panjang.
"Mutu pendidikan anak-anak di Bumi Nyiur Melambai rata-rata masih di bawah dalam hal literasi dan numerasi. Selain itu, kualitas guru, khususnya di daerah kepulauan, masih perlu ditingkatkan,” paparnya dengan nada serius.
Bagi Febry, pendidikan tidak bisa dipikul oleh satu pihak saja. Ia melihat masih minimnya kolaborasi sebagai pekerjaan rumah terbesar.
“Sudah saatnya semua bergandengan tangan agar mutu pendidikan di Sulut makin terdepan,” pungkasnya penuh harap.
Dalam sosok Febry Dien, terlihat seorang pemimpin yang bukan hanya duduk di balik meja kerja, tetapi juga seorang penggerak yang pernah ditempa pengalaman internasional, diuji pandemi, dan kini terus berjuang di jalur peningkatan mutu pendidikan.
Sebuah perjalanan yang membuktikan: mengemban tugas memang tak pernah mudah, tetapi selalu mulia. (tkg)
Editor : Kenjiro Tanos