MANADOPOST.ID – Dua penyakit kronis yang kerap disebut beban ganda kesehatan, yakni Tuberkulosis (TB) paru dan Diabetes Melitus (DM), menjadi sorotan dalam Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) yang digelar Politeknik Kesehatan Kemenkes Manado di Desa Karimbow, Kecamatan Motoling Timur, Kabupaten Minahasa Selatan.
Program ini mengusung misi besar yakni mengendalikan penyakit sekaligus menanamkan budaya hidup sehat berbasis komunitas. Ketua tim, Elne Vieke Rambi, S.Pd., M.Si, menjelaskan bahwa interaksi antara TB dan DM memperparah kondisi pasien.
“Penderita DM berisiko lebih tinggi terkena TB aktif. Sebaliknya, pasien TB dengan DM lebih rentan gagal sembuh dan berisiko mengalami TB resistan obat. Faktor gizi yang buruk memperburuk keduanya,” paparnya.
Kegiatan ini melibatkan 100 peserta, mulai dari kader kesehatan, tokoh masyarakat, hingga warga yang rentan TB-DM. Pemeriksaan kesehatan menjadi pintu masuk, dengan hasil rata-rata gula darah sewaktu (GDS) mencapai 137,9 mg/dL, bahkan ada yang menyentuh angka 420 mg/dL. Data ini menegaskan urgensi deteksi dini dan intervensi gaya hidup sehat.
Selain pemeriksaan, peserta juga mengikuti sesi edukasi interaktif. Nilai post-test menunjukkan lonjakan pemahaman, dengan capaian 82–96% jawaban benar. Topik TB-MDR (Tuberkulosis Multi Drug Resistant) menjadi materi dengan tingkat serapan tertinggi, sedangkan aspek gizi masih memerlukan metode penyuluhan yang lebih komunikatif.
Menariknya, 72% peserta adalah perempuan. Fakta ini dipandang positif karena perempuan memiliki posisi sentral dalam mengatur pola makan keluarga. “Dengan bekal edukasi ini, perempuan bisa menjadi agen perubahan gaya hidup sehat, baik di rumah tangga maupun di masyarakat,” ungkap Rambi.
Program ini merupakan hasil sinergi dosen, mahasiswa, pemerintah desa, dan kader kesehatan. Dosen yang terlibat adalah Elne Vieke Rambi, Dionysius Sumenge, Yohanis Tomastola, dan Nurmila Sunati, bersama mahasiswa Elshaday Ompi, Karios Mamangkey, Asrina Purukan, Efraim Pangumpia, Khovifan Tayapu, dan Sapto Yunus.
“Kami tidak ingin program ini berhenti di penyuluhan saja, tapi juga dilanjutkan dengan pemantauan rutin gula darah, skrining TB-DM, dan pemberdayaan kader desa,” tambah Rambi.
Luaran dari kegiatan ini tidak sekadar peningkatan pengetahuan, tetapi juga penyusunan artikel ilmiah, dokumentasi video, hingga rencana hak cipta metode intervensi berbasis desa sehat. Harapannya, Desa Karimbow dapat menjadi model desa binaan sehat yang berkelanjutan, dengan gotong royong masyarakat sebagai fondasi utama.
“TB dan DM bukan hanya masalah medis, tapi juga soal perilaku, gizi, dan budaya. Dengan edukasi yang tepat, kita bisa menekan angka kasus baru dan membangun desa yang lebih sehat,” pungkasnya. (ewa)
Editor : Baladewa Setlight