MANADOPOST.ID — Sampah dapur yang biasanya terbuang percuma, seperti daun gedi, kulit pisang, dan sisa sayuran, diolah menjadi sumber energi alternatif oleh guru dan siswa SMP Negeri 4 Tondano.
Melalui pelatihan bio-baterai yang digelar Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Negeri Manado (Unima) selama dua hari berturut-turut dari Rabu (17/9), suasana belajar sains di sekolah tersebut berlangsung seru dan penuh antusiasme.
Program ini merupakan bagian dari skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat yang didanai Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kemdiktisaintek Tahun 2025.
Tim PKM Unima diketuai oleh Ishak Pawarangan SPd MSc dengan anggota Dr Jeane Verra Tumangkeng MSi, Widya Anjelia Tumewu SPd MPd serta melibatkan mahasiswa Jurusan Fisika Igreya Kumendong dan Sayenne Pungus.
Kegiatan dimulai dengan sosialisasi untuk guru. Pada hari pertama, pelatihan difokuskan pada guru rumpun IPA yang mendapat materi energi terbarukan, pemanfaatan sampah organik, serta praktik penggunaan prototipe bio-baterai lengkap dengan modul dan lembar kerja peserta didik (LKPD).
Hari kedua (19/9), giliran siswa yang terlibat. Mereka membawa sendiri sampah organik dari rumah, mulai daun gedi—bahan utama bubur khas Manado—hingga kulit pisang, daun kangkung, dan kentang.
Dengan penuh semangat, para siswa mempraktikkan cara kerja bio-baterai dan mendiskusikan manfaat sains dalam kehidupan sehari-hari.
Kepala SMPN 4 Tondano Melky Palilingan, MPd mengapresiasi program tersebut.
“Kami sangat berterima kasih atas kehadiran tim PKM Unima. Kegiatan ini membawa semangat baru dalam pembelajaran IPA dan bermanfaat bagi guru maupun siswa,” ujarnya.
Ketua tim PKM Ishak Pawarangan, menegaskan bahwa inovasi bio-baterai bertujuan mendekatkan sains dengan kehidupan nyata.
“Kami ingin guru dan siswa melihat bahwa sampah organik tidak hanya limbah, tetapi bisa diubah menjadi energi ramah lingkungan sekaligus mendukung pembelajaran IPA berbasis literasi sains,” jelasnya.
Apresiasi juga datang dari salah satu guru IPA Grace Mandang MPd.
“Inovasi bio-baterai sangat membantu membuat pembelajaran sains lebih interaktif. Terima kasih kepada Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat Kemdiktisaintek yang telah mendanai kegiatan ini,” katanya.
Sementara itu, Denali Noya, siswa kelas VIII, mengaku senang bisa belajar langsung tentang energi terbarukan.
“Ternyata sains bisa dipelajari dengan cara yang seru, apalagi melihat sampah bisa diubah jadi energi. Jadi ingin belajar lebih banyak lagi,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, guru dan siswa diharapkan semakin terdorong untuk mengembangkan inovasi energi ramah lingkungan berbasis kearifan lokal, sekaligus menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pemanfaatan sampah organik sebagai sumber energi alternatif. (tkg)
Editor : Kenjiro Tanos