MANADOPOST.ID—Sebuah sesi daring yang mempertemukan hampir 200 perguruan tinggi swasta digelar Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi bersama Wadhwani Skilling Network. Tujuannya sederhana tapi krusial: memastikan lulusan Indonesia lebih siap masuk dunia kerja lewat program JobReady berbasis AI yang bisa diakses tanpa biaya.
Program ini jadi relevan karena kenyataannya masih banyak lulusan yang gagap ketika masuk pasar kerja. Data yang dipaparkan menunjukkan lebih dari separuh lulusan perguruan tinggi dinilai belum memenuhi standar industri, sementara pemberi kerja kini menempatkan soft skills seperti komunikasi, kolaborasi, dan profesionalisme sebagai syarat utama rekrutmen.
Melalui Wadhwani Skilling Network, kampus mendapatkan paket pelatihan yang cukup komprehensif—79 jam pembelajaran, 75 micro-modul, 11 asesmen, plus pendekatan hybrid ala flipped classroom yang memadukan belajar mandiri dan diskusi kelas. Mahasiswa juga dibekali fitur GenieAI, pendamping digital yang bisa menyimulasikan wawancara kerja, merangkum materi, sampai memberi masukan personal dalam hitungan detik. Semua disediakan gratis, termasuk sertifikasi dan akses platform.
Wadhwani Foundation selama ini juga menjalin kemitraan dengan sejumlah perusahaan besar, dari Indosat Ooredoo Hutchison, Alfamart, Alfamidi, Ranch Market, MAP, hingga Dayalima. Jaringan itulah yang akan menghubungkan lulusan JobReady dengan peluang kerja yang lebih luas. Dalam survei terhadap 2.000 pemberi kerja, sebagian besar menegaskan bahwa kandidat dengan soft skills matang cenderung mendapatkan kompensasi lebih baik.
Lewat kerja sama dengan DIKTI, Wadhwani ingin memperluas jangkauan ke lebih banyak kampus, di atas 200 institusi tambahan, melanjutkan kolaborasi yang sebelumnya telah menjangkau 202 SMK, 58 universitas, dan 8 politeknik.
Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan DIKTI, Dr. Beny Bandanadjaja, menegaskan pentingnya langkah ini. “Kesiapan kerja lulusan adalah prioritas nasional. Kolaborasi dengan Wadhwani Foundation memberi perguruan tinggi akses pada pelatihan digital yang relevan dengan kebutuhan global. Kami mendorong seluruh institusi untuk mengadopsinya demi masa depan mahasiswa dan ekonomi Indonesia,” ujarnya.
Senada dengan itu, Herdian Mohammad, Vice President WSN dan Country Director Wadhwani Foundation Indonesia, menyebut soft skills sebagai kunci membuka potensi lulusan Indonesia. “Kami menyediakan pelatihan berkelas dunia dengan teknologi AI tanpa biaya apa pun. Dengan pedagogi yang terstruktur dan jaringan industri yang kuat, kami ingin membantu setiap pembelajar membangun percaya diri dan kemampuan yang dibutuhkan untuk sukses,” katanya.
Sosialisasi nasional ini menjadi langkah awal yang cukup penting: membuka akses pelatihan AI tanpa biaya bagi kampus, sekaligus memberi mahasiswa peluang nyata untuk bersaing di pasar kerja.(fgn)
Editor : Foggen Bolung