Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

PERIODISASI SASTRA: SEJARAH DAN PERKEMBANGAN SASTRA INDONESIA

Grand Regar • Kamis, 12 Desember 2024 | 14:23 WIB

Ilustrasi
Ilustrasi
Penulis: Quensy Chelsy Winny Leleng

ABSTRACT

SASTRA Indonesia memiliki sejarah yang panjang dan kompleks, dengan berbagai periode yang dapat dibagi berdasarkan karakteristik, gaya, dan tema yang khas. Dalam artikel ini, kita akan membahas periodisasi sastra Indonesia, mulai dari periode sastra lama hingga periode sastra kontemporer.

Key words:​​Sastra, Indonesia, Sejarah

1. Pendahuluan

Periodisasi sastra merupakan kesatuan waktu dalam perkembangan sastra yang dikuasai oleh suatu sistem norma yang tertentu atau kesatuan waktu yang memiliki sifat dan cara pengucapan yang khas yang berbeda dengan masa sebelumnya.

Periode merupakan kurun waktu yang ditentukan oleh kesamaan ciri khas bagian terbesar karya sastra yang diciptakan sezaman, misalnya periode 20-an menghasilkan novel Sitti Nurbaya (Marah Rusli) dan novel Salah Asuhan (Abdul Muis), periode 30-an menghasilkan novel Layar Terkembang (Sutan Takdir Alisjahbana) dan Puspa Mega (Sanusi Pane), periode tahun 40-an menghasilkan novel Atheis (Achdiat K. Mihardja) dan kumpulan puisi Deru Campur Debu (Chairil Anwar), dan periode tahun 50-an menghasilkan kumpulan puisi Ballada Orang-Orang Tercinta (W.S. Rendra) dan kumpulan puisi Priangan Si Jelita (Ramadhan K.H.).

Periodisasi merupakan pembabakan sejarah perkembangan kesusastraan menurut kriteria yang ditentukan oleh sudut pandang peneliti. Kriteria atau dasar penggolongan periodisasi itu bermacam-macam, misalnya berdasarkan masa penerbitan karya sastra, pertimbangan intrinsik karya sastra, pertimbangan ekstrinsik karya sastra, dan berdasarkan pada perbedaan norma umum dalam sastra sebagai pengaruh situasi zaman.

Pakar sastra yang telah membuat periodisasi sejarah sastra Indonesia, antara lain, adalah H.B. Jassin, Buyung Saleh, Nugroho Notosusanto, Bakri Siregar, Ajip Rosidi, Zuber Usman, dan Rachmat Djoko Pradopo. Pada umumnya periodisasi mereka menunjukkan persamaan dalam garis besarnya. Akan tetapi, ada perbedaan kecil mengenai batas waktu setiap periode dan penekanan ciri-ciri yang ada setiap zaman.

2. Mengenal Periode - periode Sastra Indonesia dari zaman ke zaman

Periode sastra Indonesia terbagi menjadi beberapa angkatan, yaitu:

1. Periode Sastra Lama (Abad ke-13 - Abad ke-19)

Periode sastra tradisional Indonesia dikenali karena penerapan bahasa Melayu Klasik dan dampak dari agama Hindu-Buddha. Karya sastra di era ini termasuk "Mahabharata" dan "Ramayana" yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu. Sastra tradisional Indonesia juga terpengaruh oleh warisan lisan, seperti cerita rakyat dan mitos.

Pada masa ini, kesusastraan Indonesia masih sangat terikat oleh tradisi dan nilai-nilai masyarakat. Karya-karya sastra dalam masa ini sering mengangkat tema yang terkait dengan kehidupan sehari-hari, seperti cinta, keluarga, dan keadilan.

2. Periode Sastra Peralihan (Abad ke-19 - Awal Abad ke-20)

Dalam periode ini, sastra Indonesia mulai mendapat dampak dari kolonialisme Belanda dan pengaruh Barat lainnya. Karya-karya sastra pada era ini seperti "Syair Abdul Muluk" dan "Hikayat Hang Tuah". Sastra Indonesia pada fase peralihan ini juga terpengaruh oleh gerakan nasionalisme, yang menekankan pentingnya identitas bangsa dan kemerdekaan.

Saat itu, sastra Indonesia mulai berkembang dengan adanya pengaruh Barat, termasuk penggunaan bahasa Melayu yang modern serta pengaruh sastra dari Eropa. Karya-karya sastra dalam periode ini seringkali mengambil tema tentang perjuangan untuk meraih kemerdekaan dan identitas suatu bangsa.

3. Periode Sastra Balai Pustaka (1917-1942)

Di masa ini, kesusastraan Indonesia mulai mengalami perkembangan berkat Balai Pustaka, sebuah lembaga penerbitan yang didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda. Karya-karya sastra pada periode ini meliputi "Azab dan Sengsara" tulisan Merari Siregar dan "Siti Nurbaya" karya Marah Rusli.

Secara keseluruhan, sastra Indonesia pada periode ini berkembang dengan pengaruh modernisme, yang menekankan nilai-nilai individualisme dan kebebasan. Karya-karya sastra di masa ini umumnya mengangkat tema cinta, keluarga, dan keadilan.

4. Periode Sastra Angkatan Pujangga Baru (1933-1942)

Pada zaman ini, kesusastraan Indonesia mulai tumbuh pesat berkat Angkatan Pujangga Baru, sebuah kelompok sastrawan yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana. Di antara karya-karya sastra pada periode ini terdapat "Layar Terkembang" oleh Sutan Takdir Alisjahbana dan "Taman Karya" karya Armijn Pane.

Di era ini, sastra Indonesia mendapatkan pengaruh modernisme yang menekankan pada pentingnya individualisme dan kebebasan. Karya-karya sastra di masa ini seringkali mengisahkan tema-tema cinta, keluarga, dan keadilan.

5. Periode Sastra Angkatan '45 (1945-1960)

Selama periode ini, sastra Indonesia mengalami perkembangan melalui Angkatan '45, sebuah kelompok sastrawan yang dipimpin oleh Chairil Anwar. Karya-karya sastra pada masa ini termasuk "Aku" oleh Chairil Anwar dan "Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma" karya Idrus.

Pada saat itu, sastra Indonesia mulai dipengaruhi oleh realisme, yang mengutamakan pentingnya kebenaran dan keadilan. Karya-karya sastra dari periode ini banyak mengangkat tema perjuangan kemerdekaan dan identitas bangsa.

 6. Periode Sastra Angkatan '66 (1966-1970)

Durasinya, sastra Indonesia mulai berkembang seiring dengan adanya Angkatan.

Periodisasi sastra Angkatan 66 terbagi menjadi dua kelompok, yaitu:

Kelompok Sastra 1960 hingga 1966, Kelompok Sastra Tahun 1966 hingga 1970.

Angkatan 66 adalah angkatan sastra yang muncul setelah peristiwa G30S/PKI tahun 1965. Angkatan ini muncul bersamaan dengan terbitnya majalah Horison yang khusus menerbitkan tulisan tentang sastra

3. KESIMPULAN

Kesimpulan mengenai pembagian periode dalam sastra Indonesia menunjukkan bahwa sastra negara ini memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan rumit, dengan berbagai fase yang dapat dikategorikan berdasarkan ciri, gaya, dan tema yang unik. Setiap fase memiliki sifat dan tema yang berbeda, yang dipengaruhi oleh berbagai kejadian sejarah serta dampak budaya, termasuk pengaruh agama, kolonial, dan modern.

Dengan mengenali pembagian periode sastra Indonesia, kita dapat mengerti bagaimana sastra Indonesia berkembang seiring waktu dan mengenali ciri serta tema yang beragam di setiap periode. Ini dapat memperdalam pemahaman dan penghargaan kita terhadap sastra Indonesia, sekaligus membantu kita memahami konteks dan latar di balik karya-karya sastra yang telah diciptakan. Maka dari itu, pembagian periode dalam sastra Indonesia adalah hal yang sangat penting dalam memahami dan menghargai sastra Indonesia.(*)

Editor : Grand Regar
#sastra