Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Upus Ni Mama GMIM 1 - 7 Oktober 2023, : Lukas 10: 25-37 WUJUDKAN BELAS KASIHAN

Clavel Lukas • Sabtu, 30 September 2023 | 10:39 WIB
LOGO WKI GMIM
LOGO WKI GMIM

Ibu-ibu yang dikasihi dan diberkati Tuhan.

Gereja ditempatkan Allah untuk menggarami dan menerangi dunia dengan segala kompleksitas masalahnya. Berita gereja dan hidup yang dinyatakannya di tengah dunia menjadi sangat penting karena didasarkan pada Yesus Kristus sendiri. Yesus Kristus yang dalam seluruh hidup dan pelayanan-Nya sangat menekankan belas kasihan.

Belas kasihan Yesus telah membawa perubahan dalam hidup begitu banyak orang dan dengan demikian membawa harapan bagi dunia yang haus akan belas kasihan ini. Betapa pentingnya belas kasihan tersebut terus dilanjutkan oleh gereja Tuhan di dunia milik-Nya ini. Karena itu, setiap orang percaya, di dalamnya Wanita/ Kaum Ibu terpanggil untuk menyatakan belas kasihan kepada orang lain Tema ibadah kita adalah "Wujudkan Belas Kasihan".

Tema ini didasarkan pada bacaan Alkitab kita saat ini, Lukas 10:25-37, yang diberi judul oleh Lembaga Alkitab Indonesia "Orang Samaria yang murah hati". Kisah tentang orang Samaria yang murah hati ini diawali dengan cerita di mana seorang ahli Taurat datang pada Yesus dan bertanya kepada-Nya: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" (ay. 25). Yesus merespons pertanyaan ini: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana'?" (ay. 26). Ahli Taurat ini menjawab, "Kasihilah

Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (ay. 27). Jawabannya didasarkannya pada perintah terutama dalam seluruh Taurat, yakni hukum kasih kepada Allah dan sesama (bnd. Imamat 19:18). Yesus menyatakan kebenaran jawabannya (ay. 28), sekaligus memerintahkannya untuk melakukannya dengan segera dan dengan tetap.

Ahli Taurat tidak berhenti bertanya. Ia melanjutkan pertanyaannya untuk membenarkan dirinya: "Dan siapakah sesamaku manusia?" (ay. 29). Ahli Taurat ini memiliki kerangka berpikir tertentu tentang siapa saja yang merupakan sesamanya dan Yesus hendak mengkonfrontasi kerangka berpikir tersebut.

Yesus hendak menantang konsistensi ahli Taurat tersebut, yakni bila ia sungguh-sungguh mengasihi Allah, bersediakah ia mengasihi sesamanya manusia yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, bahkan mereka yang dalam benaknya bukanlah umat pilihan Allah? Tantangan Yesus mendorong ahli Taurat tersebut untuk memikirkan kembali dengan sungguhsungguh tentang perintah Allah untuk mengasihi orang lain, baik sesama Israel maupun orang asing. Yesus kemudian mengisahkan tentang orang Samaria yang murah hati itu (ay. 30-35).

Yesus mulai dengan mengisahkan seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho dan jatuh ke tangan para penyamun yang merampok, memukuli, dan meninggalkannya hampir mati. Kemalangan yang menimpa orang ini, sekalipun tragis, menjadi kesempatan bagi orang lain untuk menyatakan belas kasihan kepadanya.

Yesus menunjukkan tentang tiga orang yang memiliki kesempatan tersebut. Imam yang merupakan pelayan Allah di Bait Suci memilih untuk "melewatinya dari seberang jalan." Jelas, imam ini memang tidak mau menolong. Ha1 yang sama dilakukan oleh orang Lewi yang memilih "melewatinya dari seberang jalan." Pertolongan justru diberikan oleh seorang Samaria. Seorang yang

dipandang lebih di bawah dan kurang oleh orang Yahudi. Bagi orang Yahudi, orang Samaria dipandang tidak tahir dan harus dihindari. Orang Yahudi tidak mau makan bersama orang Samaria sebab hal itu dianggap sama dengan memakan makanan yang haram bagi mereka.

Namun orang Samaria inilah yang justru menyatakan belas kasihan secara konkrit kepada orang malang tersebut. Digerakkan oleh belas kasihan, orang Samaria ini pergi kepada orang yang hampir mati ini, membalut luka-lukanya, menyirami dengan minyak dan anggur, menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya, membawanya ke tempat penginapan, dan merawatnya.

Orang Samaria ini membayar perawatan orang itu dengan uangnya dan siap membayar lebih lagi. Kisah orang Samaria ini ditutup Yesus dengan pertanyaan, "Siapakah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?" (ay. 36). Ahli Taurat tersebut menjawabnya, "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Yesus pun memberikan perintah yang sama atas responsnya tersebut, yakni untuk melakukannya dengan segera dan dengan tetap.

Kisah orang Samaria ini dan pertanyaan di ujung cerita yang disampaikan Yesus membawa ahli Taurat tersebut untuk melihat kesalahan dari kerangka pikirnya. Apa yang terpenting bukanlah pertanyaan tentang siapa yang merupakan sesama manusia, tetapi terutama dorongan bagi seseorang untuk siap menjadi sesama manusia bagi orang lain, terlebih mereka yang membutuhkan belas kasihan. Ibu-ibu yang dikasihi Tuhan Yesus.

Kisah ini memberi pengajaran kepada kita bahwa orang Samaria ini memiliki belas kasihan yang menggerakkan seluruh hidupnya dan karenanya ia menjadi sesama bagi orang malang yang membutuhkan pertolongannya. Orang Samaria ini tidak menanyakan apakah orang malang ini sesamanya atau bukan, tetapi bersikap sebagai sesama yang baik kepada orang malang tersebut.

Sebagai wanita kaum ibu, biarlah hidup kita menyatakan bahwa kita adalah sesama bagi orang lain. Kesadaran untuk menjadi sesama bagi orang lain akan mendorong kita bersikap aktif dan responsif terhadap kebutuhan orang lain akan belas kasihan. Mari bersamasama kita wujudkan belas kasihan, amin.

Pertanyaan untuk Diskusi

1. Apa yang saudara pahami tentang tema "Wujudkan Belas Kasihan" menurut Injil Lukas 10:25-37?

2. Bagaimana Wanita/ Kaum Ibu mewujudkan belas kasihan dalam hidup setiap hari?

Editor : Clavel Lukas
#Upus Ni Mama GMIM #GMIM #W/KI #WKI #Renungan