Lukas 10 : 25-26
Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?"
Saya memiliki kesan yang mendalam ketika berulang kali membaca kisah seorang Samaria yang baik hati. Memanglah benar bahwa saya juga sudah sering mendengar khotbah tentang kisah itu. Dari berbagai sudut pandang, kisah orang Samaria dijadikan pusat cerita untuk menjawab bagaimana kita seharusnya mengasihi. Ia kemudian menjadi topik favorit para teolog, pendeta serta jemaat yang mendengar. Sebab orang Samaria yang dibenci orang Yahudi, justru memiliki "belas kasihan". Ia membalut luka-luka, menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.
Berkesan memang ketika orang Samaria dijadikan sebagai pahlawan oleh si Pembuat cerita. Pasti kita tahu si Pembuat cerita tersebut. Dialah Yesus. Yang mulai bercakap, setelah sang Ahli Taurat bertanya : "Dan siapakah sesamaku manusia?". Begitulah kira-kira alurnya berlangsung, tanpa banyak yang menyadari bahwa sebelum cerita ini disampaikan, Yesus sendiri telah ditolak di Samaria. Saya kemudian membayangkan tindakan saya bila menjadi Yesus. "Ah, saya pasti mengubah alur cerita perumpamaan itu. Lebih baik menyebut orang Nasaret,
Orang Galilea, dari pada menyebut Orang Samaria yang justru telah menolak saya". Begitulah kira-kira yang saya pikirkan. Tapi Yesus lain. la memang luar biasa. Kepada mereka yang telah menolak, tetap la kasihi. Sekalipun mereka tak tahu, bahwa mereka sedang dikasihi.
Sobat obor, mari membayangkan tindakkan Yesus. Ini soal bagaimana kita mengasihi. Yesus mengajarkan: dendam bukan untuk disimpan, tapi kita enggan menghapus dendam. Musuhpun seharusnya ditopang, tapi apa yang terjadi? Kita malah senang menjatuhkan musuh. Bagi Yesus, kasih bukan sekedar untuk ditunjukan melainkan dibuktikan. Tapi kita? Jangankan membuktikan, menunjukan kasih kepada mereka yang telah menolak kita, benar-benar hal sulit untuk kita lakukan. Saudaraku, tapi ingatlah! Yang sulit itu bukan berarti tak bisa kita lakukan. Kebaikan yang kita lakukan hari ini, mungkin besok akan dilupakan orang. Tapi teruslah berbuat baik. Begitupun dengan kasih. Walau tidak diterima, teruslah mengasihi. Itu bukti dari kasih! Amin
Baca Juga: Obor GMIM 1 Oktober 2023, Lukas 10:25-37 Wujudkan Belas Kasihan
Editor : Aprilia Sahari