Lukas 10 : 30-33
Jawab Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.
YESUS mengajarkan kita bahwa hukum kasih merupakan hukum yang terutama. Hukum kasih mengatasi batas ras atau golongan. Seorang Yahudi terluka karena dirampok. Sesama orang Yahudi yang lewat, enggan untuk menolongnya. Padahal merekalah pemuka agama yang patut memberi contoh. Entah apa yang ada dipikiran mereka. Mungkin karena terhalau tradisi, bahwa najis memegang orang yang disangka sudah mati menurut hukum Yahudi. Namun, seorang Samaria yang tidak dianggap teman telah bersedia hati menolongnya. Tentu, kisah ini membuka pikiran kita. Sudahkah menjadi "orang Samaria yang baik hati' bagi orang yang membutuhkan pertolongan?".
Sobat obor, bagi Agustinus orang Samaria ini menggambarkan Kristus sendiri. Sedangkan orang yang jatuh ke tangan penyamun itu adalah Adam, yang menggambarkan keseluruhan umat manusia yang jatuh dalam dosa oleh jebakan si Jahat. Terdorong oleh belas kasihan, Kristus turun ke dunia untuk menyembuhkan luka-luka manusia, dan menjadikan luka-luka tersebut sebagai luka-luka-Nya sendiri (lih. Yes 53:4; Mat 8:17, 1 Pet 2:24, 1 Yoh 3:5). Kristus merawat luka-luka itu dan mengolesinya dengan minyak dan anggur, yang menggambarkan sakramen; sedangkan tempat penginapan itu menggambarkan Gereja. Sebuah perumpamaan yang menggambarkan kisah belas kasihan Kristus kepada umat manusia. Sejalan dengan banyak ayat lain di dalam Injil yang menunjukkan betapa Ia berbela rasa dengan sesama-Nya yang menderita.
Kisah orang Samaria yang baik hati mendorong kita untuk mengasihi tanpa memandang bulu, tanpa membeda-bedakan ras dan golongan, dan tanpa mengharapkan balasan. Kristus sendiri telah memberikan teladan kepada kita, sebab Ialah yang digambarkan sebagai orang Samaria yang baik hati itu. Kristus telah menolong kita, menyembuhkan luka-luka kita akibat kejatuhan kita ke dalam dosa. Setelah mengalami pertolongan Tuhan ini, kitapun dipanggil oleh Kristus untuk melakukan hal yang sama, yaitu menolong sesama kita yang juga membutuhkan pertolongan, baik itu adalah teman kita, ataupun orang yang membenci kita. Amin
Baca Juga: RHK GMIM Kamis 5 Oktober 2023, Lukas 10 : 31-32 Beragama, Namun Nihil Peerbuatan Baik
Baca Juga: Obor GMIM 1 Oktober 2023, Lukas 10:25-37 Wujudkan Belas Kasihan
Baca Juga: Obor GMIM Senin 2 Oktober 2023, Lukas 10 : 25-26 Bukti Kasih
Baca Juga: Obor GMIM Selasa 3 Oktober 2023, Lukas 10 : 27-28 Kasih Sejati
Baca Juga: Obor GMIM Rabu 4 Oktober 2023, Lukas 10 : 29 Siapakah Sesamaku Manusia?
Editor : Aprilia Sahari