Tema Bulanan: "Peran Gereja Memelopori Terwujudnya Keadilan, Perdamaian dan Kelestarian"
Tema Mingguan: "Komitmen Perempuan Asing Mengikuti Allah"
Bacaan Alkitab: Rut 1 : 1-22
Ibu-ibu yang dikasihi Tuhan!
Cerita tentang Rut adalah salah satu cerita Alkitab yang populer. Kesetiaan Rut pada keluarga (Naomi), kebaikan hatinya, perilaku baiknya dan pernikahannya dengan Boas, yang menjadikannya leluhur Daud, sering dibahas dan menjadi pelajaran penting bagi orang percaya. Namun, bukan hanya itu saja. Hal penting lainnya berkaitan dengan Rut, adalah penolakannya untuk meninggalkan Naomi dan tekadnya untuk mengikuti Naomi serta pengakuannya tentang Allah Israel.
Rut adalah perempuan Moab (lihat 1:4), yang menikah dengan salah satu anak lelaki Naomi. Setelah menikah, ia menjalani kehidupan bersama dengan keluarga Naomi. Ia mulai mengenal kehidupan Naomi dan keluarganya yang memiliki cara hidup sebagai umat Allah (Israel), yang berbeda dengan cara hidup bangsanya (Moab). Ia mulai mengenal Allah Israel, yang disembah oleh Naomi dan keluarganya. Ketika mertua lelaki dan suaminya mati, ia tidak mau meninggalkan Naomi dan mengikuti Naomi dan berangkat/kembali ke kampung halamannya, di Betlehem, Yehuda. Rut bukan hanya menolak meninggalkan Naomi, ada pengakuan percaya/imannya yang dinyatakannya, dan ini sangat penting. Teks ayat 16 menyatakan: Tetapi kata Rut: Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi; dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam; bangsamulah bangsaku, dan Allahmulah Allahkku. Pernyataan di bagian akhir ayat ini: bangsamulah bangsaku, dan Allahmulah Allahku, sesungguhnya adalah pernyataan bahwa Rut bersedia meninggalkan segala sesuatu dan percaya kepada Tuhan, Allah Israel. Pernyataan bangsamulah bangsaku (Ibrani: 'ameka `ami) mengandung arti bahwa Rut meninggalkan segala sesuatu yang berkaitan dengan statusnya sebagai bangsa Moab, meninggalkan keluarganya, agamanya, budayanya, dan mengakui Israel sebagai bangsanya. Kehidupannya kini bukan lagi sebagai orang Moab, tetapi sebagai umat Israel. Dengan demikian, ia menjalani kehidupannya sebagai orang Israel di tengah kehidupan orang Israel. Lebih jauh, ia menyatakan: dan Allahmulah Allahku (Ibrani: we lohayik 'lohay). Pernyataan ini pun merupakan pengakuan iman Rut, bahwa ia telah meninggalkan segala sesuatu dalam kehidupannya yang lama sebagai orang Moab, dan bahkan ia telah meninggalkan ilah-ilah yang disembah orang Moab, dan kini percaya kepada TUHAN, Allah Israel. Sungguh tidaklah mudah untuk meninggalkan sesuatu yang biasa dilakukan, tidak mudah untuk beralih ke sesuatu yang baru: bangsa yang baru, cara hidup dan cara beribadah yang baru. Demikian pula, tidak mudah beralih ke kepercayaan yang baru. Sebab, ada banyak pengorbanan yang harus diberikan dan tuntutan konsistensi tentang apa yang telah diputuskan. Hal ini membutuhkan keinginan dan tekad yang kuat, serta keyakinan yang teguh.
Ibu-ibu yang dikasihi Tuhan,
Jika kita jujur, sebenarnya pernyataan Rut ini menyentuh kehidupan kita sebagai orang Kristen. Kita bukan Rut, juga bukan bangsa asing (Moab). Sebab, sebagian besar dari kita lahir di dalam keluarga Kristen, sehingga sejak kecil kita telah menyaksikan kehidupan dan iman Kristen di dalam kehidupan keluarga Kristen. Bahkan, kita pun telah menyatakan iman kepada Tuhan Allah.
Namun, pertanyaan penting untuk direnungkan adalah: apakah kita sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan Allah di dalam Yesus Kristus yang telah menyelamatkan manusia dari kuasa dosa dan maut? Apakah kita telah meninggalkan segala sesuatu dalam kehidupan "lama" yang penuh dosa, dan sungguh-sungguh hidup sebagai manusia yang telah diselamatkan dari dosa? Banyak orang Kristen yang temyata tidak sungguh-sungguh hidup sebagai orang Kristen. Mereka Kristen karena mereka lahir dalam keluarga Kristen. Namun, mereka tidak sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, Allah yang satu itu. Kedudukan Allah sering digantikan oleh kekuatan-kekuatan lain di luar Tuhan, seperti: uang/harta, jabatan, kekuatan gaib, dan sebagainya. Ketika menghadapi masalah, bukannya datang kepada Tuhan, tetapi justru banyak yang memilih menghadapinya dengan kekuatan dan pemikiran sendiri, atau mencari penyelesaian pada kekuatan-kekuatan lain di luar Tuhan. Demikian pula, dalam pola perilaku setiap hari, sulit untuk melihat nilai-nilai Kristiani itu dalam kehidupan orang percaya. Sebab, banyak yang lebih suka hidup dengan caranya sendiri, ada yang mengikuti cara hidup dunia ini dengan pola hedonisnya, dengan mencari kesenangan dunia, bertindak tidak benar, tidak adil, dan tidak menjadi teladan bagi orang lain, bahkan tidak menjadi berkat bagi orang lain. Jika Rut, perempuan Moab, mampu menyatakan: bangsamulah bangsaku, dan Allahmulah Allahku, apakah kita juga mampu menyatakan bahwa kita adalah umat Allah yang percaya kepada Tuhan Allah yang berkarya melalui Anak-Nya Yesus Kristus, dan masih terus berkarya melalui Roh-Nya yang kudus? Apakah kita mampu untuk menyatakan nilai-nilai Kristiani, atau apa yang kita percaya sebagai teladan Yesus Kristus, dalam kehidupan setiap hari? Itu menjadi tantangan bagi semua orang percaya. Amin.
Pertanyaan untuk diskusi:
1. Apa yang saudara pahami tentang "Komitmen Perempuan Asing Mengikuti Allah" menurut Rut 1:1-22?
2. Apa pengakuan percaya kita tentang Tuhan Allah?
3. Bagaimana seharusnya hidup sebagai umat Allah?
Baca Juga: Upus Ni Mama GMIM 1 - 7 Oktober 2023, : Lukas 10: 25-37 WUJUDKAN BELAS KASIHAN
Baca Juga: Upus Ni Mama GMIM 8-14 Oktober 2023, Mazmur 104 : 1-18 Allah Memberi Hidup Kepada Semua Ciptaan
Editor : Aprilia Sahari