Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan Lansia GMIM 19-25 November 2023, Amsal 24 : 13-22 Hikmat Tidak Akan Membuat Engkau Jatuh

Aprilia Sahari • Kamis, 16 November 2023 | 10:17 WIB
LOGO GMIM.
LOGO GMIM.

Tema Mingguan: "Hikmat Tidak Akan Membuat Engkau Jatuh"
Bacaan Alkitab: Amsal 24 : 13-22

Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Orang percaya selalu ditantang untuk menyatakan imannya kepada Tuhan Allah dalam kehidupan yang penuh tantangan dan pencobaan. Hikmat-Nya yang memampukan manusia untuk tidak kehilangan iman, tidak melakukan kejahatan dan tidak jatuh.

Amsal 24:13-22 ini adalah sebagian dari kumpulan perkataan bijak dalam Amsal 22:17-24:22, yang di dalamnya terdapat 30 perkataan pengajaran. Firman hari ini perkataan pengajaran ke-26 hingga ke-30. Pengajaran yang berkaitan dengan hikmat (khokmah), orang benar (tsadiq), orang fasik (rasa'), orang jahat (resa'im), dan ajaran/nasihat praktis. Pernyataan tentang pentingnya hikmat, yang disejajarkan dengan madu (debas) yang baik bagi manusia. Madu telah lama diketahui memiliki banyak manfaat, misalnya sebagai pengganti makanan dan juga digunakan sebagai obat dan untuk kecantikan. Seperti madu, Hikmat dipercaya memiliki banyak manfaat bagi kehidupan manusia. "dengan memiliki hikmat, maka ada masa depan, dan harapanmu tidak akan hilang." (ayat 14). Hikmat ini dijabarkan ke dalam empat nasihat yang dibagi di dalam ayat 15-16, 17-18, 19-20, 21-22.

Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Ayat 15, 17, 19, dan 21 tentang hal-hai yang tidak boleh dilakukan atau larangan, misalnya: Jangan mengintai, jangan merusak dan jangan berbuat jahat kepada orang benar; jangan berdukacita karena orang jahat yang jatuh dan terperosok; jangan marah karena orang berbuat jahat; jangan iri kepada orang fasik, jangan melawan TUHAN Allah dan raja, tetapi takutlah kepada TUHAN Allah dan raja;. Sedangkan ayat 16, 18, 20, dan 22 adalah konsekuensi atas perintah/larangan tersebut: mereka akan jatuh, terperosok, roboh dan tidak bisa bangkit lagi; tidak ada masa depan bagi; pelita mereka akan padam.

Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Ayat 15-16 mengajarkan agar jangan mengintai dan merusak rumah orang benar seperti yang dilakukan orang fasik, sebab orang benar akan senantiasa dilindungi Tuhan Allah, sehingga meski ia jatuh (yipol) berulang-ulang, namun ia akan tetap bangun kembali (waqam). Tuhan Allah memberi perlindungan, memberi kekuatan untuk bangkit
sehingga orang benar tidak kehilangan iman dan harapan kepada Tuhan Allah. Hal yang berbeda dialami oleh orang fasik yang akan roboh dalam bencana (yikkaselu bera'ah). Artinya, jangan merancangkan kejahatan dan merusak/mengganggu kehidupan orang benar, seperti yang dilakukan orang fasik. Sebab, itu adalah tindakan melawan orang-orang yang dilindungi oleh Tuhan Allah. Suatu usaha yang sia-sia belaka. Hikmat menuntun manusia untuk senantiasa merancang dan melakukan kebaikan kepada orang lain. Demikian pula, hikmat Tuhan Allah senantiasa menopang kehidupan orang benar dan menjaganya agar tidak jatuh.

Ayat 17-18 mengajarkan agar jangan bersukacita dan beria-ria karena musuh yang jatuh dan terperosok, sebab Tuhan Allah justru akan murka dan bertindak sebaliknya kepada musuh tersebut. Ini menggambarkan Tuhan Allah yang tidak senang jika orang jahat mati, tetapi karena kasih-Nya Ia akan menyelamatkan mereka.

Jangan menertawakan orang yang sedang mendapat kemalangan, siapapun mereka, sebab dengan melakukannya, kita sedang berbuat jahat kepada mereka dan akan menanggung hukuman yang sama. Sikap empati harus ditunjukkan bukan kepada perbuatan jahat mereka tetapi pada kemalangan yang dialami. Demikian pula, rasa solidaritas bukan pada kejahatan mereka melainkan pada kesusahan mereka. Tindakan solidaritas ini sesungguhnya adalah pemyataan kasih kepada mereka. Hikmat menuntun manusia untuk memiliki solidaritas dan kasih itu.

Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Ayat 19-20 menegaskan untuk tidak marah dan iri kepada orang yang berbuat jahat dan orang fasik. Sebab bagi mereka tidak ada masa depan ('lo tihyeh akharit) dan pelita (ner) mereka akan padam (yid'ak). Untuk apa marah dan iri jika demikianlah nasib orang jahat dan orang fasik? Segala bentuk kejahatan dan kefasikan memiliki konsekuensi yang akan membawa kehampaan dan kehancuran kehidupan kepada mereka yang melakukannya. Memang bukan hal yang mudah untuk tidak marah ketika orang berbuat jahat, demikian juga untuk tidak iri kepada orang fasik yang menikmati kehidupan yang nyaman karena kejahatan mereka yang seakan-akan tidak ada hukuman bagi mereka. Menghadapi kenyataan seperti itu dibutuhkan kesabaran dan iman kepada Tuhan Allah. Hikmat menuntun dan memampukan orang percaya untuk bijaksana menyikapi realita seperti ini dan agar tidak tergoda serta terpengaruh melainkan tetap setia menantikan waktu Tuhan Allah untuk menyatakan diri-Nya sebagai Hakim yang adil.

Ayat 21-22 menyatakan bahwa Tuhan Allah dan para raja (keturunan Daud) harus ditakuti (yera'-'et-yehwah) dan jangan dilawan ('al-tit'arab). Maksud pengajaran ini adalah bahwa orang muda (anakku; benni) haruslah menghormati otoritas manusiawi dan Ilahi. Takut akan TUHAN Allah dan menghormati orang-orang yang lebih tua. Sebab bagi cara dan bagaimana Tuhan Allah menyatakan murka-Nya adalah misteri. Demikian pula manusia tidak akan sanggup menghadapi murka-Nya. Hikmat menuntun orang untuk takut akan Tuhan dan menghormati otoritas manusiawi.

Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Firman ini mengingatkan manusia tentang bagaimana sepatutnya hidup dalam relasi dengan Tuhan Allah dan sesama manusia. Oleh karena itu, kita semua diajak untuk mengejar hikmat dan memeliharanya, sehingga berkat-berkat yang menyertainya dapat kita nikmati dalam kehidupan ini. Sebab, dengan memiliki hikmat, maka ada masa depan, dan harapanmu tidak akan hilang. Demikian pula, hikmat menuntun manusia untuk senantiasa merancang dan melakukan kebaikan kepada orang lain. Hikmat Tuhan Allah senantiasa menopang kehidupan orang benar dan menjaganya agar tidak jatuh. Hikmat menuntun manusia untuk memiliki solidaritas dan kasih. Hikmat menuntun/memampukan manusia untuk bijaksana menyikapi realita kehidupan yang tidak selalu mudah dan tetap setia menantikan waktu Tuhan Allah menyatakan diri-Nya sebagai Hakim yang adil. Hikmat menuntun orang untuk menghormati otoritas manusiawi yang berasal dari Tuhan Allah (Roma 13) dan takut/percaya kepada Tuhan. Oleh karena itu, berusahalah memperolehnya dan jadilah orang yang memiliki hikmat. Amin!

Baca Juga: Renungan Lansia GMIM 5-11 November 2023, Galatia 2 : 15-21 Hidup Dibenarkan Oleh Iman

Baca Juga: Renungan Lansia GMIM 12-18 November 2023, Markus 2 : 1-12 Orang Percaya, Duta Penyembuhan Holistik

Editor : Aprilia Sahari
#Lansia GMIM #GMIM #Renungan GMIM