Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Khotbah GMIM, 26 Nov-2 Des, Ester 4:1-17, Berkorban Demi Kelangsungan Hidup Banyak Orang

Clavel Lukas • Jumat, 24 November 2023 | 10:29 WIB
Pdt Djolly Sondakh
Pdt Djolly Sondakh

Salam sejahtera dalam kasih Tuhan Yesus Kristus.

Selamat Hari Minggu, selamat baku dapa lagi dalam persekutuan Ibadah di saat ini, kita tentunya mengucap syukur karena kasih sayang Tuhan terus kita alami dari hari ke hari. Hari ini kita sudah berada di minggu terakhir bulan November, minggu depan kita sudah mulai memasuki minggu-minggu Adven. Kita percaya bahwa semua itu karena kasih dan kemurahan Tuhan.

Saudara-saudaraku yang Tuhan Yesus kasihi …

Kekuasaan sering membuat orang “lupa diri”, ia hanya ingin dihargai, dihormati, disanjung dan lain sebagainya, bila ada yang tidak melakukannya, maka tak segan-segan ditindak baik itu pribadinya bahkan juga tak jarang sampai keluarganya kena dampak buruk. Hal ini terjadi pada diri Haman (seorang Agag, keturunan bangsa Amalek yang menjadi musuh orang Yahudi), ketika ia diangkat menjadi salah seorang petinggi di Kerajaan Ahasyweros, di mana saat itu Ester telah menjadi ratu menggantikan ratu Wasti.

Haman merasa tidak senang dengan Mordekhai (orang Yahudi) salah seorang pekerja di istana Ahasyweros yang tidak menghormatinya sebagai salah seorang petinggi kerajaan, ia sakit hati dan berencana untuk menghukum Mordekhai bersama seluruh orang keturunan Yahudi (3:1-15).

Rencana Haman untuk membunuh Mordekhai dan seluruh orang Yahudi inilah yang menjadi pergumulan bagi Mordekhai secara pribadi sehingga ia berusaha mencari jalan keluar dari masalah ini. Mordekhai begitu peduli dengan orang Yahudi yang akan dimusnahkan oleh Haman, ia tidak ingin hal itu terjadi.  

Kisah Haman dan Mordekhai tertulis jelas dalam Kitab Ester yang menjadi perenungan kita di Minggu berjalan ini. Kitab Ester sangatlah unik sebab dalam Kitab ini nama Tuhan Allah tidak tertulis. Namun Tuhan Allah tetaplah bekerja melalui Mordekhai dan Ester untuk menyelamatkan umat-Nya.

Hal ini kelihatan pertama kali dalam pemilihan seorang perawan cantik bernama Hadasa (nama Ibrani) atau Ester (Persia, Yunani) untuk menjadi Ratu Persia (1:1-2:23; 4:4). Pemeliharaan Tuhan Allah tampak lagi ketika Mordekhai yang adalah pengasuh Ester berhasil mengungkapkan konspirasi untuk membunuh raja, sehingga raja Ahasyweros memberikan penghargaan kepada Mordekhai.

Jemaat Maha Tuhan,

Sebagai seorang keturunan Yahudi yang mengabdikan diri di Kerajaan Ahasyweros  apalagi diberikan kepercayaan sebagai salah seorang penjaga pintu gerbang (3:2), maka Mordekhai sudah dibekali untuk bersikap bijaksana dan tidak gegabah dalam mengambil tindakan-tindakan yang menyebabkan kesusahan sendiri.

Ketika menghadapi kesulitan hidup ia bertindak sesuai dengan keyakinannya, yakni berpuasa yang ditandai dengan memakai kain kabung, duduk di atas abu bahkan melolong dengan suara yang pedih (4:1). Hal ini menunjukkan keprihatinan yang mendalam untuk bangsanya yang akan dimusnakan oleh Haman.

Tindakan yang dilakukan oleh Mordekhai ini juga diikuti oleh orang-orang Yahudi yang tersebar di berbagai daerah wilayah kerajaan Ahasyweros, mereka juga berpuasa (4:2). Mordekhai juga kemudian menjumpai Ester yang adalah Ratu dalam kerajaan Ahasyweros untuk bertindak menyelamatkan bangsanya, sebab walau sebagai seorang ratu, namun Ester tidak akan luput dari pemusnahkan yang direncanakan oleh Haman untuk orang Yahudi, karena Ester adalah seorang keturunan Yahudi. Mordekhai meminta Ester untuk membela bangsanya dengan datang menghadap raja untuk memohon belas kasihan raja, karena hanya raja yang dapat membatalkan niat jahat Haman ini (4:8).

Tetapi ternyata untuk menghadap raja tidak mudah karena ada aturan walaupun ia seorang ratu, yakni hanya mereka yang dipanggil oleh raja sendiri yang bisa menghadap, sedangkan yang tidak akan dihukum mati. Hanya orang yang kepadanya raja mengulurkan tongkat emas, yang akan tetap hidup (4:11).

Mordekhai tidak berputus asa dengan adanya undang-undang ini, ia tetap bermohon kepada Ester untuk berani mengambil resiko untuk menyelamatkan bangsanya, sebab ia sendiri tidak akan luput dari rencana jahat Haman. Mordekhai mempunyai keyakinan sebagai ratu pasti Ester akan mendapat pengasihan raja serta akan dapat menghadap raja (4:14).

Ester akhirnya mendengar masukan dari Mordekhai, ia bahkan menyeruhkan supaya semua orang Yahudi berpuasa untuknya agar supaya dapat menghadap raja dan menyelamatkan semua orang Yahudi (4:16-17). Ester memantapkan keputusannya untuk menghadap raja, sekalipun ia tahu resikonya adalah hukuman mati bila raja tidak menerima dia untuk menghadapnya. Ester berucap: “Aku serta dayang-dayangku pun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang, kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati.” (4:16).

Jemaat yang diberkati oleh Tuhan Yesus …

Firman Tuhan di hari ini mengajarkan kita beberapa hal, yakni: pertama, ketika kita diberi kepercayaan untuk menduduki suatu jabatan dengan kekuasaan yang dimiliki janganlah kita “lupa diri”, menjadi sombong dan hanya ingin dihormati. Bila ada yang tidak menghormati kita dengan jabatan diberikan, maka janganlah kita berusaha untuk menjatuhkan orang tersebut dan menghukum orang tersebut dengan berbagai alasan. Kita hendaknya belajar dari kisah Haman dalam Kitab Ester ini, ia begitu membenci Mordekhai bahkan hendak membunuhnya, tetapi pada akhirnya ia digantung di tiang yang dibuatnya sendiri (7:9-10). Jadilah orang percaya di masa kini yang mampu meraih kesuksesan tanpa menjatuhkan orang lain serta jadikanlah jabatan dan kedudukan yang dipercayakan menjadi berkat bagi banyak orang.

Kedua, milikilah integritas sebagai orang percaya apapun yang dihadapi yang realita hidup sehari-hari. Integritas (kesatuan yang utuh antara perkataan dan perbuatan, kejujuran, ketulusan) seperti yang dicontohkan oleh Mordekhai, ketika ia mengetahui dirinya dan bangsanya akan dibunuh oleh Haman dengan kelicikannya bahkan sampai membuat undang-undang yang kemudian disahkan oleh raja dengan cincin meterai kerajaan, artinya bahwa sudah disahkan oleh raja untuk pemusnahan massal orang-orang yang Yahudi di seluruh kerajaan Ahasyweros.

Mordekhai mempunyai keyakinan bahwa akan ada pertolongan, ia berpuasa, menggoyakkan pakaiannya, memakai pakaian kabung dan duduk di atas abu, pertanda penyerahan dirinya kepada Sang Mahakuasa. Sekalipun Kitab Ester tidak mencantumkan tentang nama Tuhan Allah, namun Mordekhai yang adalah keturunan orang Yahudi percaya bahwa Tuhan yang disembah oleh nenek moyangnya adalah Tuhan yang hidup dan penuh kuasa akan bertindak menolong umat-Nya.

Saudara-saudara yang Tuhan Yesus kasihi.

Kita belajar dari sikap Mordekhai ini untuk tetap percaya bahwa Tuhan Allah terus bekerja mendatangkan kebaikan dalam hidup ini sekalipun sulit dan berat tantangan, persoalan serta pergumulan yang kita alami, kita tahu bahwa Tuhan tidak akan membiarkan kita, Tuhan pasti menolong. Pertolongan Tuhan tepat pada waktunya, tidak pernah terlambat, oleh karena itu tetap percaya dan berserah kepada-Nya pada setiap waktu.

Ketiga, miliki sikap peduli dan rela berkorban untuk banyak orang, seperti yang ditunjukkan oleh Ester. Tentunya bukan berkorban tanpa perhitungan, tetapi bermohon hikmat dari Tuhan. Ester sebelum ia menghadap raja, seperti Mordekhai yang berpuasa, ia juga berpuasa. Ester bahkan menyuruh dayang-dayangnya dan semua orang Yahudi untuk berdoa dan berpuasa, memohon pertolongan dari Tuhan walaupun nama Tuhan tidak disebut dalam Kitab Ester ini. Kita belajar dari komitmen, kesetiaan dan kepedulian Ester kepada bangsanya, walaupun ia tahu ada resiko kalau ia tidak diperkenankan menemui sang raja, ia akan mati.

Demikian juga tentunya dengan kita sebagai orang percaya yang hidup di masa sekarang ini, ketika kepedulian kepada orang lain semakin berkurang dan sikap individualistis yang semakin menonjol. Mari bangun lagi kepedulian dengan sesama yang membutuhkan pertolongan baik rohani maupun jasmani, hindari sikap yang hanya mementingan diri sendiri.

Mulailah dari mengajak orang-orang yang ada di sekitar kita untuk beribadah, berdoa bahkan berpuasa bersama untuk bangsa dan negara serta gereja bahkan pribadi dan keluarga. Ketika kita berdoa bersama, maka berkat dan pemeliharaan Tuhan akan dialami, sedangkan dua atau tiga orang saja yang berdoa Tuhan mendengar, apalagi sudah banyak yang beribadah dan berdoa bersama. Tetaplah berdoa dan bekerja, yakin percaya berkat-berkat Tuhan akan kita rasakandan kemudian kita akan dipakai-Nya menjadi berkat bagi banyak orang. Tuhan Yesus memberkati torang samua. Amin.

Soli Deo Gloria.

Salam dan doa dari kota sejuk Tomohon :

Pdt. DR. Djolly Sondakh, M.PdK.

Editor : Clavel Lukas
#MTPJ #khotbah #GMIM #Djolly Sondakh