Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Pelita GMIM 10-16 Desember 2023, Yesaya 8:23-9:6 Nubuat Lahirnya Raja Damai

Aprilia Sahari • Rabu, 6 Desember 2023 | 13:28 WIB
LOGO PKB GMIM
LOGO PKB GMIM

Tema Mingguan: "Nubuat Lahirnya Raja Damai"
Bacaan Alkitab: Yesaya 8 : 23 - 9 : 6

Sahabat Pria/Kaum Bapa yang dikasihi dan diberkati Tuhan!
Natal identik dengan damai, namun kenyataannya dirayakan dalam ingatan akan penderitaan yang diakibatkan perang. Korban terbesar adalah perempuan dan anak. Dalam suasana semacam ini, sebuah berita yang setiap tahun kita dengarkan tentang kelahiran Raja Damai, "Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, A1lah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai" (Yesaya 9:5).

Yesus, Juruselamat yang lahir bagi kita ini, adalah "Raja Damai," seperti yang dinubuatkan oleh Yesaya. Yesus menggenapi nubuat ini ketika Dia datang ke dunia sebagai seorang bayi, membawa terang dan keselamatan bagi "mereka yang diam di negeri kekelaman" (Yesaya 9:1). Tujuh abad sebelum kelahiran Yesus, nabi Yesaya menggunakan gambaran sinar dan bayangan untuk menubuatkan kedatangan seorang Juruselamat bagi Israel. Dan nabi Yesaya juga menggunakan kegelapan sebagai kiasan untuk menggambarkan kebingungan mereka. Akan tetapi, terang akan datang. "Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar" (ayat 1). Penindasan akan dihancurkan, kebingungan akan berakhir. Seorang Anak akan datang membawa perubahan total dan hari yang baru — hari pengampunan dan kebebasan (ayat 5). Dia mewujudkan dan memberikan kedamaian kepada orang-orang yang Dia kasihi, bahkan ketika mereka menghadapi kesulitan dan ancaman maut.

Sahabat Pria/Kaum Bapa yang dikasihi Tuhan!
Abad demi abad berlalu, dan dunia masih merindukan dan mencari kedamaian yang dinubuatkan Yesaya. Bahkan, negeri kelahiran-Nya sering tampak terkoyak oleh kekerasan dan konflik. "Dimana kedamaian?" Saudara bertanya. Maka kita diberi tahu dimana kedamaian itu. Kedamaian tinggal di dalam hati semua orang yang telah mempercayai kasih karunia-Nya. Dan dalam proporsi yang sama bahwa dunia telah mempercayai Kristus, maka dunia juga memiliki damai.

Namun, dunia kita terus-menerus dirusak oleh perang dan ketidakpuasan. Tidak pernah terdengar dan dijumpai ada negara yang sepenuhnya aman atau sepenuhnya damai. Namun, sesungguhnya perang yang terbesar adalah perang antara kita dan Allah, dimana kita berkeras memberontak terhadap otoritas Allah dan dengan berani menjalankan kehidupan terpisah dari-Nya. Tetapi sekarang perang dapat berlalu, ketika kita menyerahkan diri kita kepada Kristus sebagai Tuhan kita. Maka kita akan mendapatkan kedamaian — kedamaian dengan Allah, kedamaian dalam hati kita, kedamaian satu dengan yang lain dan kedamaian dengan alam. Sudahkah perang berakhir dalam hidup kita?

Sahabat Pria/Kaum Bapa yang diberkati Tuhan!
Setiap kita anggota Pria/Kaum Bapa GMIM mungkin masih hidup dalam peperangan, kegelapan dan tidak ada kedamaian. Kita diajak untuk mendekat kepada Yesus, sang
terang dan raja damai, datang menyembah Kristus, atau berdiri jauh-jauh dengan perasaan enggan, atau bersembunyi dari sinar cahaya yang menembus kegelapan jiwa kita?

Menyambut Natal, kita semua diajak untuk melangkah keluar dari bayangan kegelapan dan mengizinkan terang Kristus menyinari hati kita. Natal tanpa perdamaian, tak ubahnya Natal tanpa Kristus. Terang lilin Natal menjadi lambang perdamaian. Seseorang pernah berkata. "Lebih baik menyalahkan sebuah lilin daripada mengecam kegelapan." Kekerasan dan permusuhan tidak akan hilang hanya dengan mengecam dan menjauhinya. Kekerasan dan permusuhan akan hilang hanya ketika kita mau berkata seperti Paulus, "Kami adalah duta perdamaian itu!

Nubuat kedatangan Raja Damai, sudah tergenapi. Yesus akhirnya datang! Meskipun kegelapan dunia dapat membuat kita bingung dan kehilangan arah, kiranya kita mengalami penghiburan dari pengampunan, kelepasan, dan terang yang dihadirkan oleh Kristus. Beriman kepada Kristus bukanlah lompatan nekat dalam kegelapan, melainkan langkah menuju Terang. Disitulah kita menemukan kedamaian. Minggu-minggu Adven adalah momentum bagi kita untuk merenungkan kehadiran dan makna diri kita yang disinari oleh terang Kristus, sang Raja damai itu. Tuhan mau kita juga tetap berjuang untuk keluar dari berbagai pergumulan, keterpurukan bahkan dosa. Tuhan mau kita P/KB menjadi anak-anak-Nya. Yesus berkata berbahagialah atau diberkatilah orang yang membawa damai karena mereka akan disebut anak-anak Allah (Matius 5:9).
Amin.

Pertanyaan untuk PA:
1. Manakah aspek Allah dalam Yesaya 9:5 yang paling dibutuhkan Pria/Kaum Bapa GMIM saat ini? Mengapa?
2. Pernahkah P/KB GMIM mengalami damai sejahtera Allah di tengah situasi sulit?

Baca Juga: Pelita GMIM 3-9 Desember 2023, Mazmur 85:1-14 DAMAI: Bertemunya Kasih, Kesetiaan dan Keadilan

Editor : Aprilia Sahari
#PKB GMIM #GMIM #Renungan GMIM #pelita