Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan Lansia GMIM 31 Desember 2023 - 6 Januari 2024, Ulangan 8:1-20 Ingatlah Kasih Tuhan dan Hati-Hatilah Memasuki Tahun Yang Baru

Aprilia Sahari • Kamis, 28 Desember 2023 | 13:58 WIB
LOGO GMIM.
LOGO GMIM.

Tema: "Ingatlah Kasih Tuhan dan Hati-Hatilah Memasuki Tahun Yang Baru"
Bacaan Alkitab: Ulangan 8 : 1-20

Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Pujian dan syukur bagi Tuhan Allah dalam Yesus Kristus yang oleh kasih setia-Nya tidak pernah berkesudahan. Oleh kemurahan-Nya kita diperkenankan Tuhan Allah masih tetap hidup, walaupun dengan berbagai pergumulan. Bersyukur kepada Tuhan Allah sangat penting, sebab dengan rasa syukur membuat hati lega, tidak kuatir, kuat dan selalu bersemangat menghadapi berbagai keadaan, karena karena Tuhan Allah selalu hadir bersama dan menolong kita.

Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Semua manusia pernah lupa. Salah satu faktor penyebab manusia sering lupa adalah penuaan usia. Di samping penyebab lain seperti; penderitaan, kegagalan, stres, kurang tidur dan gangguan kesehatan atau pun kesenangan, kegirangan dan kegembiraan yang berlebihan karena kesuksesan, keberhasilan, kenikmatan dan kekayaan dapat membuat seseorang lupa diri, lupa ingatan atau Ekstase (Yunani Kuno ekstasis, yang berarti 'di luar diri sendiri'). Atau dikatakan generasi muda "fly" (melayang-layang).

Firman Tuhan, "Segenap perintah haruslah kamu lakukan dengan setia, supaya kamu hidup dan bertambah banyak dan kamu memasuki serta menduduki negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu. " Firman ini disampaikan Musa ketika ia berusia 120 tahun, kepada anak-anaknya atau generasi baru bangsa Israel ketika hendak memasuki kehidupan baru di tanah Kanaan yang dijanjikan Tuhan Allah.

Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Sebagai orang tua dalam kelompok Lanjut Usia, seperti Musa, kita memiliki tanggung jawab untuk mewariskan perintah Tuhan Allah kepada anak cucu atau generasi baru yang akan memasuki tahun baru 2024, sebagai tahun rahmat Tuhan Allah di dalam Yesus Kristus. Kepada Musa firman Tuhan Allah diberikan dalam bentuk Hukum Taurat yang tertulis dalam loh batu. Sekarang ini Firman Tuhan Allah tertulis dalam Alkitab. "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran." (2 Timotius 3:16) Membaca dan mengingat, baik melalui media buku, televisi, internet (facebook, twiter dll), maupun meneladani cara hidup tokoh-tokoh idola yang baik adalah cara belajar tentang tentang kehidupan yang sukses dan bahagia. Namun daya ingat manusia manusia terbatas. Karena otak manusia memiliki keterbatasan mengkodifikasi dan menyimpan informasi. Menurut para ahli, "otak merupakan organ vital dan kompleks yang mengontrol semua sistem tubuh manusia, mulai dari pikiran, ingatan, ucapan, perasaan, penglihatan, pendengaran, gerakan lengan dan kaki, hingga fungsi organ lainnya di dalam tubuh." Karena itu, mengingat berulang-ulang prinsip hidup yang mempengaruhi karakter dan belajar hal-hal baru menjadi sangat penting bagi manusia. Belajar, membaca dan mengingat adalah proses yang berlangsung seumur hidup.

Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Yesus Kristus adalah firman yang menjadi manusia dan diam di antara kita. (Yoh.1:14) Ia mengatakan: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup." (Yoh.14:6) Pemazmur mengatakan, -Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku." (Mazmur 119:105) Keberhasilan dan kebahagiaan orang percaya dikatakan pemazmur adalah orang, "yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil." (Mazmur 1:2-3)

Orang percaya adalah manusia biasa yang sering lupa ingat dan melupakan pertolongan orang lain ketika berhasil atau menjadi tinggi hati dan sombong. Orang yang tinggi hati disebabkan oleh berbagai faktor, seperti rasa superioritas (lebih dari orang lain), kurangnya empati (peduli), kebutuhan untuk mengatasi rasa rendah diri. Orang bisa menjadi sombong dan angkuh karena keinginan untuk merasa lebih baik dari orang lain, atau pengalaman masa lalu seperti "post power syndrome" (sindrom atau gejala pernah berkuasa dan ingin tetap berkuasa). Juga faktor lingkungan dan pengaruh sosial budaya seperti ungkapan "sei reen" (belum kenal sapa kita). Oleh karena itu, Musa mengingatkan pengalaman bangsa Israel yang ditolong Tuhan Allah. Ketika mereka berteriak minta tolong. "orang Israel... berseru-seru,...teriak mereka minta tolong karena perbudakan itu sampai kepada Allah.... Allah mendengar mereka mengerang, lalu la mengingat kepada perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak dan Yakub."(Keluaran 2:23-24) Dan Tuhan Allah membebaskan bangsa Israel dari perbudakan, menjaga, menuntun dan memberkati mereka selama perjalanan di padang gurun. Namun, karena pemberontakan, mereka dihukum. Musa dan generasinya tidak diperkenankan Tuhan Allah memasuki tanah yang dijanjikan penuh dengan susu dan madu.

Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Musa mengingatkan keberhasilan, kekayaan dan kebahagiaan hanya akan dialami jika tetap berpegang pada perintah Tuhan Allah. Ia mengingatkan bahwa jangan menjadi tinggi hati, sombong dan angkuh. Dengan menganggap semuanya itu diperoleh adalah karena kekuatan, kehebatan dan kemampuan diri sendiri.

Kata kunci supaya tidak tinggi hati, sombong dan angkuh adalah rendah hati. Rendah hati akan menjadi bagian hidup orang percaya jika tetap berpegang atau setia menjadikan firman Tuhan sebagai pedoman hidup. Baca, ingat dan tanamkan dalam hati firman Tuhan. Bagaimana untuk menjadi rendah hati? "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan."(Amsal 4:23) "Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau!Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu," (Amsal 3:3) "Tambatkanlah semuanya itu pada jarimu, dan tulislah itu pada loh hatimu." (Amsal 7:3)

Secara praktis , untuk menjadi rendah hati, luangkan waktu mendengarkan orang lain dengan penuh perhatian, akui kekurangan diri dan selalu berusaha belajar dari pengalaman. Tetaplah terbuka terhadap pandangan orang lain dan selalu ingat bahwa setiap orang memiliki nilai dan keunikan masing-masing.

Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Ingatlah Kasih Tuhan Allah selama tahun 2023 dan hati-hatilah Memasuki Tahun Yang Baru 2024. Firman Tuhan Allah ini disampaikan, baik untuk kita LANSIA, maupun tugas kita untuk mengingatkan anak cucu dengan menyampaikan firman Tuhan dengan tidak jemu-jemu dan menunjukkan keteladanan dalam kata dan perbuatan. Agar memasuki tahun 2024 dengan optimis akan menikmati berkat yang telah disediakan Tuhan Allah bagi kita. Amin.

Baca Juga: Renungan Lansia GMIM 3-9 Desember 2023, Mazmur 85:1-14 DAMAI Bertemunya Kasih, Kesetiaan dan Keadilan

Baca Juga: Renungan Lansia GMIM 10-16 Desember 2023, Yesaya 8:23-9:6 Nubuat Lahirnya Raja Damai

Baca Juga: Renungan Lansia GMIM 17-23 Desember 2023, Matius 1:1-17 Silsilah Kelahiran Yesus

Baca Juga: Renungan Lansia GMIM 24-30 Desember 2023, Yohanes 1:1-18 Teruslah Bersaksi Yesus Terang Dunia

Editor : Aprilia Sahari
#GMIM #Lansia #Renungan GMIM