Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Upus Ni Mama GMIM 21-27 Januari 2024, Kisah Para Rasul 25:1-12 Hidup Taat Menurut Hukum

Aprilia Sahari • Kamis, 18 Januari 2024 | 13:52 WIB
LOGO WKI GMIM
LOGO WKI GMIM

Tema: "Hidup Taat Menurut Hukum"
Pembacaan Alkitab: Kisah Para Rasul 25 : 1-12

Shalom.....Dantai di hati
Ibu-ibu yang diberkati Tuhan, kita bersyukur dapat menjalani kehidupan di tahun baru, tahun 2024, memasuki minggu ke tiga bulan Januari ini, tentu karena pertolongan Tuhan. Kita menyadari menjalani kehidupan kekristenan tidak mudah, ada resiko yang harus diambil, tidak selamanya hidup dalam kebenaran itu baik-baik saja. lri hati, merasa disaingi dan dan dikuatirkan menjadi ancaman bagi keberadaan kelompok tertentu, maka berbagai cara dilakukan untuk menyingkirkan orang dianggap ancaman. Sehingga yang benar dapat disalahkan yang salah bisa menjadi benar, hukum dimanfaatkan untuk mempertahankan posisi.

Paulus ketika telah menjadi pengikut Yesus, rajin mengunjungi Bait Allah dan banyak mengajarkan tentang jalan yang lurus, tentang Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat yang telah mati di kayu salib, namun pada hari ke tiga bangkit dari antara orang mati. Paulus percaya tentang adanya kebangkitan orang mati. Namun Paulus dianggap menganut sebuah sekte dan ia menghadapi ancaman dari orang Yahudi dan ahli-ahli Taurat, bahkan membawa ke ranah hukum, padahal tidak ditemukan kejahatan yang pantas untuk hukuman penjara apalagi hukuman mati. Paulus kemudian ditangkap dan dimasukan dalam penjara di Kaisarea. Paulus dihadapkan kepada Festus dengan dagwaan yang tidak beralasan hukum, hanya untuk supaya para imam-imam kepala dan orang-orang Yahudi yang terkemuka diberikan anugerah, namun merugikan Paulus. Ketika Festus sebagai wali negeri yang kedudukannya di Kaisarean berada di Yerusalen, para ahli Taurat dan pemuka Yahudi meminta agar pengadilan Paulus di alihkan Ke Yerusalem, di mana saat itu Paulus sedang ditahan di Kaisarea, dengan maksud dalam perjalanan mereka hendak membunuh Paulus. Paulus merasa tidak melakukan kesalahan apa pun terhadap orang Yahudi atau hukum mereka. Paulus sesungguhnya memelihara hukum moral PL (bd. Kis 21:24). Paulus membela diri karena ia tidak melakukan kejahatan apapun, kecuali terdapat kejahatan Paulus bersedia mati. Paulus menyatakan banding dan perkaranya diserahkan kepada Kaisar. Oleh karena Festus menyatakan dirinya tidak berwenang dalam perkara Paulus, maka Paulus hanya dapat mengelakkan diri dari proses di hadapan Mahkamah Agama dengan menggunakan hak khusus warga negara Roma, bahwa dalam perkara pidana hanya dapat diadili oleh Mahkamah kekaisaran. Dipihak lain Festus mengakui bahwa perkara Paulus sebuah soal keagamaan yang tidak di bawah wewenang wali negeri, melainkan harus diurus oleh Mahkamah Agama (bdk Kis 25:19-20). Tetapi oleh karena warga negara Roma, maka Paulus tidak boleh diserahkan kepada pengadilan itu, kecuali atas persetujuannya sendiri. Untuk mendapat persetujuan itu Festus menjanjikan bahwa ia sendiri akan hadir mengawasi jalannya pengadilan.

Festus sebagai seorang wali negeri seharusnya memimpin dengan adil, tetapi dia ternyata memiliki rencana dan kepentingan pribadi. Ia ingin mengambil hati orang Yahudi maka pendirian Festus berubah. Pada awalnya Festus tidak menyetujui permintaan mereka untuk membawa Paulus ke Yerusalem sebagaimana ayat 4-5, tetapi kemudian menyetujuinya. Dan ia menyarankan Paulus untuk membela dirinya di Yerusalem. Sikap Festus yang ragu-ragu membuat dirinya mengalami kesulitan dalam memeriksa perkara Paulus, ini dalam ayat ke 20 . Ia ragu dalam bertindak. Ia lebih suka mengikuti kemauan orang lain daripada berdiri di atas prinsip kebenaran. Ha1 ini membuat Festus mengalami dilema. Ia takut mengirimkan Paulus sebagai tahanan kepada kaisar tanpa memaparkan kesalahan dan tuduhannya (bnd. ayat 27). Kesulitan akan dialami oleh orang yang tidak berani tegas dalam mengambil keputusan berdasarkan kebenaran. Selain merugikan orang lain, sesungguhnya juga merugikan diri sendiri. Kita akan gelisah karena tindakan kita bertentangan dengan hati kita. Dan lama kelamaan hati kita akan menjadi tumpul dan tidak lagi peka terhadap kebenaran. Banyak orang yang tahu kebenaran, tetapi hidupnya tidak sesuai dengan kebenaran itu. Jangan pernah lalaikan setiap kebenaran yang bersuara di hati ketika kita bertindak atau mengambil keputusan. Pertajam kebenaran suara hati melalui firman Tuhan dengan berdoa, membaca dan merenungkan firman Tuhan. Hendaklah kita mengambil keputusan dan tindakan berdasarkan kebenaran bukan berdasarkan kemauan kita atau pihak lain. Kebenaran akan membela kita sebab kebenaran itu adalah Tuhan sendiri. Kita harus menjadi orang yang memiliki rintegritas, apa yang dikatakan, apa yang adalah kebenaran itulah yang harus dilakukan.

Ibu-ibu yang diberkati Tuhan, seharusnya penegak hukum taat pada hukum itu sendiri, sehingga mengadili dengan dasar-dasar hukum yang benar. Sebagai ibu-ibu Tuhan kita diajak untuk mempraktekan dalam kehidupan berumah tangga dalam Pendidikan anak-anak dan Pendidikan keluarga untuk menaati aturan-aturan hukum tanpa merugikan orang lain. Juga sekalipun mengiring Yesus ada banyak tantangan dan godaan, namun sebagai pengikut Kristus kita harus berani menyatakan iman kita, tidak malu mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita. Kitapun mempraktekan lewat sikap hidup, bagaimana hidup ya berdasarkan kebenaran Firman Tuhan. Tuhan Yesus memberkari Firman-Nya, terpujilah Kristus. Amin

Pertanyaan Untuk Diskusi:
1. Bagaimana hidup yang harus taat pada hukum, berkaca dari pembacaan Kisah Para Rasul 25 : 1— 12 ?
2. Mengapa manusia cenderung tidak taat hukum, apakah penyebabnya ?
3. Bagaimana caranya ibu-ibu meneladankan dan mengajarkan tentang taat pada hukum kepada anak-anak dan keluarga ?

Baca Juga: Upus Ni Mama GMIM 7-13 Januari 2024, Filipi 3 : 1b-16 Tetap Setia Di Jalan Tuhan Menghadapi Penyesat

Baca Juga: Upus Ni Mama GMIM 14-20 Januari 2024, Matius 7:15-23 Mengenal dan Cerdas Memilih Pemimpin

Editor : Aprilia Sahari
#Upus Ni Mama GMIM #WKI GMIM #GMIM #Renungan GMIM