Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Pelita GMIM 28 Januari - 3 Februari 2024, 2 Samuel 15:1-12 Waspada Terhadap Persepakatan Gelap

Aprilia Sahari • Rabu, 24 Januari 2024 | 13:55 WIB
LOGO PKB GMIM
LOGO PKB GMIM

Tema Mingguan: "Waspada Terhadap Persepakatan Gelap"
Bacaan Alkitab: 2 Samuel 15 : 1-12

Sahabat Pria/Kaum Bapa yang dikasihi dan diberkati Tuhan!
Kita sering mendengar pepatah "Air susu dibalas dengan air tuba", yang artinya kebaikan dibalas dengan kejahatan. Pepatah ini relevan dengan apa yang dialami Raja Daud yang adalah ayah dari Absalom. Daud sebagai seorang ayah sangat memerhatikan dan memberikan perlakuan istimewa kepada anaknya, Absalom. Di tengah dinamika keluarga, Daud merindukan Absalom yang melarikan diri karena telah membunuh kakaknya, Amnon. Absalom membunuh saudara sulungnya itu karena telah memperkosa adiknya, Tamar. Hati seorang ayah yang terus merindukan anaknya, Absalom tidak berbendung lagi. Sekalipun anaknya telah berbuat kesalahan karena telah membunuh saudaranya sendiri, tetapi Daud dapat mengampuninya.

Proses rekonsiliasi itu tidak terjadi dengan mudah sebab pada awalnya Daud harus mengorbankan perasaannya untuk tidak menemui Absalom. Dengan perantaraan panglima tentara Yoab, Absalompun kembali ke Yerusalem dan berkeinginan untuk menghadap raja. Setelah lima tahun berdiam di negerinya, Daud tergerak menerima kembali Absalom.

Pergumulan yang dialami keluarga Daud tidak lepas dari dosa masa lalu yang dilakukan Daud ketika dirinya memperistri Batsyeba dengan tidak wajar. Daud dengan strategi bulusnya menyebabkan kematian suami Batsyeba, Uria sehingga dia dapat memperistri Batsyeba. Ibarat mendapat karma. Itulah yang dialami Daud. Keluarganya hidup dalam ketidakharmonisan dan tidak ada damai sejahtera.

Kembali pada Absalom. Absalom yang menyimpan dendam pada Amnon dan ayahnya Daud, telah mempersiapkan strateginya untuk merebut tahta ayahnya. Absalom pun mulai
merancangkan persepakatan gelap, rencana-rencana jahat. Dia menghalalkan segala cara untuk menggapai keinginannya sekalipun harus mengorbankan ayahnya. Absalom memainkan strategi sebagai seorang politisi busuk untuk mengambil hati rakyat banyak. Dia tampil sebagai seorang ksatria yang menunjukkan empati yang penuh kepalsuan kepada anggota masyarakat yang datang mencari keadilan. Absalom memainkan perannya dengan piawai sehingga Daud memberikan kesempatan bagi anaknya untuk beribadah di Hebron sesuai dengan permintaannya. Daud tidak curiga sedikitpun pada Absalom. Absalom pun memanfaatkan kesempatan itu dengan merancangkan kejahatan untuk mengkudeta ayahnya. Absalom berhasil mendapatkan simpati dari masyarakat. Dengan mudahnya dia memainkan orang-orang sekitar Daud termasuk penasihat Daud, Ahitofel. Gelombang besar rakyat dan tokoh-tokoh penting Israel lebih memilih berpihak pada Absalom dan meninggalkan Daud. Demikianlah persepakatan gelap itu menjadi kuat, dan makin banyaklah rakyat yang memihak Absalom (2 Samuel 15:12b).

Sahabat Pria/Kaum Bapa yang diberkati Tuhan!
Persepakatan gelap sudah menjadi lingkaran setan yang sulit ditemui ujungnya. Persepakatan ini bermula dari gaya hidup Daud yang tidak menjadi teladan bagi keluarganya. Hal itu berlanjut dengan ketidakharmonisan dalam keluarga. Tidak ada saling menghargai satu sama lain sehingga berujung pada pembunuhan dan pengkhianatan. Dalam 2 Samuel 18:1-18 dikisahkan akhir hidup Absalom yang meninggal dalam pertempuran. Tidak ada yang abadi di dunia ini. Apa yang dirancangkan dan diperjuangkannya tidak bisa dinikmatinya.

Kehidupan kontroversi Absalom selalu ada dalam kehidupan umat manusia dan dalam pelayanan gereja. Ada orang dan kelompok tertentu merasa nyaman hidup dengan pengkhianatan dan persepakatan gelap. Kebaikan-kebaikan yang diterimanya dari orang lain tidak dianggap sebagai sebuah penghargaan yang istimewa. Air susu dibalas dengan air tuba, kebaikan dibalas dengan kejahatan. Ada orang yang merasa tidak cukup dengan apa yang dimilikinya sehingga terpicu melakukan pengkhianatan sekalipun harus mengorbankan orang-orang yang sudah membantunya. Hal-hal seperti itu bisa saja terjadi di sekitar kita. Oleh karena itu kita perlu waspada dengan orang-orang atau kelompok-kelompok seperti ini karena akan menghancurkan persekutuan baik di dalam keluarga, gereja dan masyarakat.

Pria/Kaum Bapa sebagai kepala keluarga, jadi imam bagi keluarga kita, kita semua terpanggil untuk tetap menjadi teladan dalam keluarga kita. Tokoh seorang bapak dan ayah adalah role model yang akan menentukan kebahagiaan dan sukacita dalam keluarga. Dengan kehadiran seorang imam yang menjadi panutan, keluarga kita akan hadir dengan rancangan-rancangan yang penuh dengan kebaikan.Misalnya bagaimana satu sama lain saling menghormati, menghargai, dan menghidupkan. Kita harus membungkus keluarga kita dengan persekutuan yang kuat bersama Tuhan Yesus. Berikanlah perhatian kepada keluarga kita dan hiduplah dalam ketaatan sehingga kita akan merancangkan hal-hal kebaikan yang penuh damai sejahtera bagi keluarga dan jemaat. Amin.

Pertanyaan untuk PA:
1. Mengapa Absalom menyimpan dendam dan membuat persepakatan gelap untuk menyingkirkan Daud?
2. Bagaimana kita sebagai imam dalam keluarga menjaga keluarga kita agar terhindar dari persepakatan gelap?

Baca Juga: Pelita GMIM 7-13 Januari 2024, Filipi 3:1b-16 Tetap Setia Di Jalan Tuhan Menghadapi Penyesat

Baca Juga: Pelita GMIM 14-20 Januari 2024, Matius 7:15-23 Mengenal dan Cerdas Memilih Pemimpin

Baca Juga: Pelita GMIM 21-27 Januari 2024, Kisah Para Rasul 25:1-12 Hidup Taat Menurut Hukum

Editor : Aprilia Sahari
#GMIM #Pelita GMIM #Renungan GMIM