Tema Mingguan: "Waspada Terhadap Persepakatan Gelap"
Bacaan Alkitab: 2 Samuel 15 : 1-12
Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Calon Presiden/Wakil maupun calon Kepala Daerah dan Calon Anggota Legislatif biasanya mereka akan tebar pesona dan selalu ingin tampil terbaik. Mereka akan melakukan segala cara untuk mengambil hati rakyat, baik dengan kampanye program, kunjungan ke pasar-pasar rakyat, ke setiap acaraacara, memberikan sembako bahkan memberi uang sebagai bantuan dan kegiatan lainnya. Namun kita harus waspada karena ada kebaikan yang memiliki motif tertentu hanya untuk mendapatkan suara dan dukungan. Ada juga kebaikan yang menjadi alat kejahatan. Digunakan sebagai topeng untuk menipu atau mengelabui orang-orang. Itu adalah kebaikan yang tidak tulus sebab tujuannya untuk memuluskan rencana demi kepentingan diri dengan akal bulus. Hal tersebut, tentunya berasal dari hati yang tidak lurus dan kudus. Maka itu kita harus waspada; berhati-hati; berjaga-jaga; dan bersiap siaga di setiap kemungkinan apalagi kita sebagai Lanjut Usia. Kitalah yang harus mampu membentengi keluarga dari usaha persepakatan gelap yang merugikan dan merusak keluarga dan banyak orang. Persepakatan gelap yakni konspirasi, persekongkolan dan intrik. Sebuah rencana yang dilakukan diam-diam secara bersama dan ilegal untuk melakukan sebuah kejahatan/menggulingkan sebuah kedudukan/kekuasaan atau kudeta.
Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Kita ingat cerita ketika raja Daud mengambil Batsyeba istri Uria (2 Samuel 11), maka Tuhan mengutus Nabi Natan untuk menyatakan kesalahan Daud. Ada tiga nubuatan nabi Natan terhadap Daud sehubungan dengan kesalahannya. Pertama, Oleh sebab itu. pedang tidak akan menyingkir keturunanmu sampai selamanya, karena engkau telah menghina Aku dan mengambil isteri Uria, orang Het itu, untuk menjadi isterimu (2 Sam.12 :10). Kedua, bahwasanya malapetaka akan Kutimpakan ke atasmu yang datang dari kaum keluargamu sendiri (2 Sam 12:11a). Ketiga, Aku akan mengambil isteri-isterimu di depan matamu dan memberikannya kepada orang lain; orang itu akan tidur dengan isteri-isterimu di siang hari. Sebab engkau telah melakukannya secara tersembunyi, tetapi Aku akan melakukan hal itu di depan seluruh Israel secara terang-terangan (2 Sam 12:11b-12).
Bagian pertama telah terjadi ketika Absalom menyuruh pelayannya membunuh saudaranya Amnon, karena ia telah memperkosa Tamar, adik mereka. Bagian kedua, baru akan terjadi dalam bacaan ini, ketika Absalom yang kembali pembuangannya di Gesur, mulai merancang untuk menggulingkan ayahnya, Raja Daud. Bagian ketiga terpenuhi ketika Absalom atas nasihat Ahitofel mengambil dan meniduri gundik-gundik Daud di depan mata seluruh Israel dalam 2 Sam. 16:20-23.
Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Absalom adalah putra ketiga Daud, ibunya seorang wanita asing, Maakha, putri Talmai, raja Gesur (2 Samuel 3:3) Ia terkenal karena ketampanannya (2 Samuel 14:25), di seluruh Israel tidak ada yang begitu banyak dipuji seperti Absalom. Dari telapak kakinya sampai ujung kepalanya tidak ada cacat padanya. Kepribadiannya yang menawan itu juga Tamar, adiknya perempuan; sayang justru menyebabkan Tamar diperkosa oleh Amnon, putra sulung Daud dari istrinya yang lain (2 Samuel 13:1-18). Firman Tuhan saat ini menceritakan tentang Absalom, yang berhasrat (berkeinginan merebut kekuasaan raja Daud, ayahnya sendiri. Setiap hari mencoba menarik hati rakyat dengan kereta perang dari pengawalnya, di tepi jalan menuju Yerusalem (ay.1). Ia menjumpai orang di pintu gerbang, yaitu ruang pengadilan zaman dahulu, menanyakan kota kelahiran mereka, menunjukkan minat serta kesiapannya dan berharap mereka akan kembali ke tempat tinggal mereka serta menjadi duta Absalom di wilayah itu. la mendengar semua keluhan dan perkara mereka (ay.2-3). Namun di balik itu, ia mengeritik pemerintahan ayahnya dan menjanjikan pemerintahan yang lebih baik dibandingkan pemerintahan Daud (ay.4). Absalom mengundang simpati rakyat dengan memberi salam dan hormat (ay.5). Setelah empat tahun berusaha menjatuhkan nama Daud dan membangun nama baiknya sendiri, Absalom siap merealisasikan ambisi di tempat kelahirannya, yaitu di tempat Daud dilantik menjadi raja (2 Sam.3:2-3, 5:3). Ia memikat bangsa Israel agar memihak kepadanya dengan memberikan perlakuan khusus pada rakyat yang mengadukan kasus padanya. Perlakuan yang berbeda dari perlakuan raja yang dianggap tidak adil. Ini membuka kesempatan bagi Absalom untuk menghimpun massa dan kemudian berupaya merebut kekuasaan dari tangan Daud (ay.6).
Peristiwa ini terjadi 11 tahun setelah pemerkosaan Tamar, adik Absalom. Keberhasilan Absalom menunjukkan bahwa Daud, karena dosa dan kegagalannya mengatur rumah tangga sendiri, kurang dihormati lagi oleh rakyatnya. Kemampuan untuk memimpin, yang dahulu didasarkan pada kesetiaan yang tekun kepada Tuhan Allah, kini sudah memudar karena dosa dan reputasinya yang tercemar. Tempat yang dipilih Absalom untuk pemberontakannya adalah Hebron. Penduduk Hebron tidak lagi bersimpati kepada Daud karena Daud tidak menjadikan kota itu sebagai ibu kota sehingga mereka inipun berpihak kepada Absalom.
Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Untuk melancarkan niatnya maka Absalom mengelabui ayahnya bahwa ia mau pergi ke Hebron untuk membayar nazarnya (janji seseorang untuk melaksanakan sesuatu),
kepada Tuhan. Niat yang baik, bukan? Dan raja pun memandang baik tanpa mengetahui maksud jahat di balik niat itu. Daud mengizinkan ia pergi dan berkata pergilah dengan selamat atau damai sejahtera (ay.7-9). Absalom pun pergi dengan membawa dua ratus orang yang tidak tahu apa-apa (ay.11). Namun sebelumnya, ia telah mengirimkan pesan rahasia ke suku-suku Israel agar mendukung dia menjadi raja (ay.10). Selain itu ada Ahitofel orang Gilo, penasihat Daud, yang mendukung Absalom mungkin karena tidak tahu bahwa Absalom bukanlah orang pilihan Tuhan (bdk. 1Taw. 2:9-10). Gilo terletak enam sampai tujuh mil di sebelah barat Laut Hebron dan Ahitofel adalah kakek Batsyeba (2 Sam. 23:34). Demikianlah persepakatan gelap itu menjadi kuat dan makin banyaklah rakyat yang memihak kepada Absalom (ay.12). Orang-orang yang merasa tidak puas dalam keadaan apapun selalu mencari dukungan. Mereka mencari seseorang di tengah kelompok pemimpin-pemimpin yang bisa mereka bujuk rayu.
Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Persepakatan gelap disebabkan karena ambisi (keinginan, hasrat) yang tak terkendali untuk memperoleh atau mencapai sesuatu (pangkat, kedudukan) yang dinginkan dengan cara-cara yang keliru dan salah. Ambisi tidak selalu bermakna negatif, tetapi lebih banyak dimaknai secara negatif, ketika seseorang berkeinginan keras memperoleh sesuatu, maka ia dapat mempergunakan cara apa saja atau menghalalkan segala cara untuk mewujudkan keinginannya itu, bahkan dengan cara-cara yang jahat sekalipun. Bila ambisi tidak benar dan hati sudah gelap, segala cara akan dihalalkan untuk mencapai keinginan. Absalom mempunyai ambisi untuk menggantikan kedudukan ayahnya, Daud, sebagai raja Israel.
Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Sesuai waktunya, jika raja sudah tidak sanggup lagi melaksanakan tugasnya maka keturunannyalah yang akan menggantikannya. Tetapi Absalom tidak sabar untuk
menantikan waktunya dan dengan segala cara ia berupaya memenuhi ambisinya untuk menjadi raja Israel bahkan dengan menjatuhkan ayahnya sekalipun. Untuk mencapai ambisinya, Absalom bahkan berusaha mencuri hati Tuhan Allah dengan alasan hendak beribadah kepada Tuhan Allah (ay. 8). Kedengarannya sangat rohani, namun sesungguhnya ia hanya memperalat ibadah dan mencoba mengelabui Tuhan Allah. Maka, tindakan Absalom untuk menurunkan orang yang diurapi Tuhan Allah dari takhtanya bertentangan dengan kehendak-Nya dan karena itu gagal, bahkan Absalom mati terbunuh (bdk.2 Sam.18:14-15).
Ibu, Bapak LANSIA yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Saat ini banyak orang demi ambisi pribadi dan kelompok rela berbuat apa saja untuk menjatuhkan orang lain. Berbuat apa saja agar ambisinya itu tercapai berapa pun harga yang harus dibayar. Tindakan yang demikian tidak hanya terjadi di dalam kehidupan bermasyarakat tetapi juga sering terjadi di tengah lingkungan keluarga dan gereja. Sikap mengasihi tidak dilakukan dengan tulus sebagai orang percaya tetapi lebih sebagai alat untuk mencapai tujuan pribadi dan kelompok. Padahal gereja adalah keluarga besar, selayaknya bahwa suatu keluarga harus saling menopang dan membangun, bukan sebaliknya dalam keluarga itu terjadi intrik untuk saling menjatuhkan dan menghancurkan. Apalagi saat ini kita berada di masa-masa kampanye, gunakan hikmat dan iman dalam mendengar, menelaah dan menyaring setiap informasi dan progam dari figur ataupun partai. Sebab realitas yang ada, setelah mereka terpilih agenda yang menjadi prioritas adalah kadangkala kepentingan pribadi, kelompok dan partainya bukan kepentingan rakyat, atau bangsa dan negara.
Untuk itu waspadalah agar kita jangan terbawa arus yang gelap dengan motif mau menghancurkan sesama. Marilah kita semua kembali hidup sesuai Firman Tuhan, dengan melakukan kasih yang tulus di tengah-tengah kenyataan hidup yang mulai kehilangan tindakan kasih. Kita diajak agar berusaha menjauhi persepakatan gelap yang merusak nama pribadi, keluarga dan jemaat serta masyarakat apalagi nama Tuhan. Menghindari
berbagai permainan politis dan manuver untuk menjatuhkan orang-orang yang dianggap tidak disukai atau mengancam kedudukan dalam pemerintahan padahal memiliki integritas dan kecerdasan yang handal. Kita sebagai LANSIA harus menjadi teladan dalam berpikir, berkata dan bertindak agar melalui kita kehidupan selamat dan damai sejahtera melingkupi masa tua kita dan keluarga kita serta jemaat/masyarakat. Sehingga kehidupan yang saling mengasihi, membangun, kerja sama dan saling mendoakan nyata dalam kehidupan beriman dan dampaknya kita membawa orang-orang di sekitar kita datang dan percaya kepada Tuhan Yesus Kristus serta melakukan kehendak-Nya Amin.
Baca Juga: Renungan Lansia GMIM 14-20 Januari 2024, Matius 7:15-23 Mengenal dan Cerdas Memilih Pemimpin
Baca Juga: Renungan Lansia GMIM 21-27 Januari 2024, Kisah Para Rasul 25:1-12 Hidup Taat Menurut Hukum
Editor : Aprilia Sahari