Bacaan Alkitab : 1 Timotius 2:1-7
Tema : Naikkan Doa Untuk Ketentraman Bangsa
Ibu-ibu yang dikasihi Tuhan Yesus.
Di minggu yang berjalan ini, kita diperhadapkan dengan agenda nasional yakni Pemilu pada tanggal 14 Februari 2024 dan mendahului itu, ada masa tenang selama tiga hari dari tanggal 11 sampai 13 Januari 2024. Pemungutan suara Pemilu 2024 yang dilakukan secara serentak bertujuan untuk pemilihan calon Presiden dan wakil Presiden, DPR, DPD dan DPRD, baik itu di tingkat kabupaten/kota maupun propinsi untuk periode 2024-2029. Pemilihan umum (Pemilu) adalah agenda kenegaraan yang dilaksanakan setiap lima tahun sekali. Kita pahami bahwa Pemilu merupakan sarana bagi masyarakat untuk memilih pemimpin secara demokrasi. Bagaimana kita sebagai warga gereja, lebih khusus lagi Wanita Kaum Ibu berpartisipasi di agenda nasional, Pemilu kali ini? Bagian Alkitab dalamm I Timotius 2:1-7 yang merupakan bacaan Alkitab di sepanjang minggu ini menuntun kita semua.
I Timotius 2:1-7 berisi tentang nasihat panjang bagi jemaat. Dalam ayat 1 dikatakan "Pertama-tama aku menasihatkan". Sebagai seorang gembala, pelayan, Timotius diingatkan untuk menasihati jemaat di Efesus di mana ia ditugaskan untuk melayani. Kata nasihat diterjemahkan dari kata Yunani parakalo. Isi nasihat yang harus Timotius sampaikan adalah: naikkan permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur (ayat 1). Doa permohonan berawal dari adanya rasa membutuhkan, dari pengakuan bahwa dalam keterbatasannya, seorang pun tidak dapat menapaki kehidupaan ini sendiri. Kesadaran akan kelemahan manusia merupakan dasar untuk mendekati Allah. Selanjutnya isi nasihat kedua adalah doa syafaat di mana jemaat didorong untuk berdoa bagi semua orang, semua raja-raja dan semua pembesar. Hal ini merupakan pokok doa persekutuan Kristen. Gereja terpanggil untuk tidak pernah berhenti berdoa bagi mereka, bahkan ketika Gereja berada dalam penganiayaan yang paling pahit sekalipun. Dalam masa-masa awal gereja, perjalanan gereja tidak sepi dari tantangan. Gereja mengalami masa-masa penganiayaan yang pahit. Tetapi gereja pada waktu itu berdoa untuk kaisar, raja-raja bawahannya dan para gubernur. Gereja berdoa untuk umur panjang, keamanan keselamatan istana, rakyat yang jujur dan perdamaian dunia. Yustinus Martir menulis: Kita hanya menyembah Allah, tetapi dalam hal-hal lain, dengan kami melayanimu, mengakui raja-raja dan pemerintah-pemerintah manusia, dan berdoa kiranya mereka mempunyai dasar yang murni atas kekuasaan kerajaannya. Jadi, dalam doa syafaat, tujuan doa adalah toleransi religius. Jemaat dinasihati untuk hidup secara tenang dan tentram sesuai dengan Injil, dalam segala kesalehan dan kehormatannya (ayat 2). Nasihat yang tersirat dalam ungkapan itu meliputi baik ajakan untuk menjadi warga negara yang layak dicontoh maupun untuk menjadi seorang Kristen yang baik. Seruan ini mempunyai sisi misioner: doa bagi raja dan pembesar masyarakat membuat Allah berkenan. Allah dalam Yesus Kristus memiliki rencana keselamatan yang mencakup semua orang dan menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran (ayat 4). Doa dinaikkan bagi semua orang. Bagi orang Kristen sejati, tidak ada suatupun di dunia ini yang dianggap sebagai musuh. Tidak ada seorangpun di luar jangkauan doanya sebab tak seorang pun berada di luar kasih Kristus dan tak seorang pun berada di luar maksud Allah, yang menghendaki agar semua manusia diselamatkan. Isi nasihat ketiga adalah ucapan syukur. Jemaat dinasihati untuk mengucap syukur kepada Allah atas segala sesuatu yang telah diberikan. Kehidupan kita, apa yang ada pada kita, semuanya adalah anugerah Tuhan yang harus selalu kita syukuri. Selanjutnya dalam ayat 5 dikutip rumusan pengakuan iman bahwa Allah adalah Esa. Demikian pula Yesus Kristus yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang adalah esa. Beberapa ayat dalam bagian ini memperlihatkan pandangan jemaat yang tidak memisah-misahkan atau membenci dunia. Mereka menunjukkan sikap terbuka terhadap semua orang. Dengan demikian mereka memperlihatkan bahwa kehidupan Kristen diintegrasikan dengan cara hidup sebagai warga negara yang baik.
Ibu-ibu yang dikasihi Tuhan Yesus.
Bila jemaat di Efesus, melalui Timotius dinasihati untuk menaikkan doa permohonan, berdoa syafaat dan mengucap syukur, maka kitapun sebagai orang-orang percaya masa kini, lebih khusus lagi sebagai Wanita Kaum Ibu dinasihati untuk melakukan hal yang sama. Kita selalu mengatakan bahwa doa adalah nafas hidup orang percaya. Bagaimana jadinya jika kita tidak melakukan nasihat yang sarat ini dalam menjalani kehidupan di dunia yang fana ini?
Ibu-ibu yang dikasihi Tuhan. Teruslah berdoa. Praktekkanlah doa dalam kehidupan kita mulai dari keluarga-keluarga kita. Di dalamnya kita berdoa seperti tema ibadah kita saat ini: Naikkan doa untuk ketentraman bangsa. Di masa tenang, tiga hari menjelang Pemilu dan di hari pelaksanaan Pemilu, kita berdoa agar Pemilu dapat berjalan dengan lancar, aman dan tentram. Kiranya melalui Pemilu yang dilaksanakan secara demokratis, kita akan memiliki pemimpin yang mengayomi serta berani membela keadilan di dalam lintas masyarakat. Amin.
Pertanyaan untuk Diskusi:
1. Apa yang menjadi inti berita 1 Timotius 2:1-7?
2. Apa pesan Firman Tuhan bagi kita sebagai Wanita/Kaum Ibu?
Baca Juga: Upus Ni Mama GMIM 4-10 Februari 2024, Amos 5:7-13 Bersama Tuhan Melawan Ketidakadilan
Editor : Aprilia Sahari