Tema: "Celakalah Gembala-Ku Yang Meninggalkan Domba-domba"
Bacaan Alkitab: Zakharia 11 : 4-17
Ibu-Ibu yang dikasihi Tuhan Yesus,
Kitab Zakharia adalah kitab kedua terakhir di Perjanjian Lama terdiri atas 14 pasal dan 211 ayat, berisikan nubuatan Nabi Zakharia bin Berekhya bin Ido kepada sebuah generasi baru yang pulang dari pembuangan Babel. Pasal 1:2 berkata "Sangat murka TUHAN atas nenek moyangmu" Sebuah pembelajaran dengan menengok ke masa lalu mengenai nenek moyang Israel yang telah menolak taat kepada peringatan TUHAN yang telah disampaikan para nabi sebelum dibuang ke Babel (lihat 1:4). Ketidaktaatan nenek moyang Israel, bagi Nabi Zakharia telah mengakibatkan penderitaan yang harus turut dirasakan oleh generasi yang jadi alamat berita nubuatnya. Dengan contoh buruk ini, sang nabi melalui penglihatan-penglihatannya mengingatkan generasi baru itu untuk belajar dari pengalaman masa lalu agar berbenah untuk menata kehidupan masa depan yang lebih baik.
Apa yang diserukan dan diharapkan sang Nabi, sepertinya tidak berbuah kenyataan. Umat semakin menulikan telinga agar tidak mendengar, hati mereka menjadi tebal dan keras bahkan melintangkan bahunya untuk melawan. Perilaku buruk ini kemudian membuat mereka dicap sebagai domba-domba sembelihan. Domba sembelihan adalah domba yang tidak lagi dibutuhkan oleh sang pemilik, dianggap merugikan, dan karena itu menjadi domba yang siap untuk dijual dan disembelih. Pengalaman masa lalu tidak menjadi alat kontrol sehingga kondisi umat sangat memiriskan hati. Itu sebabnya Johann Wolfgang seorang novelis mengatakan untuk apa aku hidup kalau hidupku tidak lagi berguna bagi sesama, lebih baik aku tiada daripada ada. Gambaran kesadaran diri seperti ini, tidaklah dimiliki umat Israel, karena terus terlena dalam kesalahan. Tuhan Allah panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Di tengah kondisi umat seperti ini, Tuhan mengutus nabi Zakharia untuk menyatakan kehendak-Nya melalui sebuah tindakan simbolik menjadi seorang gembala. Nabi Zakharia menggembalakan domba-domba itu dengan dua cara yang disimbolkan dengan 2 buah tongkat, yang satu disebut "Kemurahan" dan yang lain disebut "Ikatan". Di ayat 8 kemudian mengatakan, setelah 3 gembala dilenyapkan, mungkin karena tidak
melaksanakan tugas dengan baik, tidak loyal dan berintegritas, maka datanglah waktunya nabi Zakharia tidak lagi dapat menahan hati terhadap domba-domba sembelihan yang juga sudah muak terhadapnya. Itu sebabnya di ayat 9 Zakharia kemudian mengatakan "Aku tidak mau lagi menggembalakan kamu, yang hendak mati biarlah mati, yang hendak lenyap biarlah lenyap, dan yang masih tinggal biarlah masing-masing daging temannya." Sangat keras dan togas pernyataan penolakan sang nabi terhadap Israel. Dalam kecewanya, sang nabi kemudian mematahkan dua tongkat yang ada di tangannya. Tongkat pertama yang dipatahkan adalah tongkat "Kemurahan" ditafsirkan sebagai bentuk pembatalan perjanjian antara sang gembala dan semua domba, dan tongkat kedua adalah tongkat "Ikatan" ditafsirkan sebagai bentuk meniadakan persaudaraan antara Yehuda dan Israel (lihat ayat 10-14). Betapa pedihnya hati Zakaria ketika ditolak. Penolakan umat atas Zakharia dipahami sebagai penolakan terhadap kehadiran Allah sang Gembala yang baik. Karena itu, setelah kedua tongkat itu dipatahkan, maka simbolik berikutnya adalah Zakharia disuruh Tuhan untuk mengambil perkakas seorang gembala yang pandir (lihat ayat.15). Gembala yang pandir adalah gembala yang bodoh, bebal, suka menang sendiri, tidak peduli dan sombong, tidak suka mencari yang hilang, tidak menyembuhkan yang luka, tidak memelihara yang sehat, memiliki kepemimpinan bos. Di masa kepemimpinan sang gembala pandir ini, umat Tuhan akan kembali pada status mereka sebagai domba yang tidak berguna, terisolasi dan termarginalisasi. Hidup yang harus saling menghidupkan Gembala yang pandir pun tak mau peduli, bersikap apatis dan masa gembala melahirkan kecaman celaka dan hukuman atasnya. Bukan berganti menjadi hidup yang saling menggigit dan membinasakan. Gembala yang pandir pun tak mau peduli, bersikap apatis dan masa bodoh dengan keadaan yang terjadi di tengah umat. Pembiaran sang gembala melahirkan kecaman celaka dan hukuman atasnya. Bukan hanya umat yang celaka, tapi gembala pandir pun turut menanggung akibatnya.
Ibu-lbu yang dikasihi Tuhan Yesus,
Kehadiran nabi Zakharia dengan tindakan simbolik yang diperankannya adalah kiasan dari pada Tuhan Yesus sang Gembala yang baik. Haruslah diakui bahwa terkadang disadari atau tidak, kasih Allah yang terus merangkul, mendukung dan membimbing, tidak kita hargai. Berbagai bentuk penolakan terhadap kasih Tuhan, tampak dalam hidup kita setiap hari sebagai isteri, ibu, perempuan pekerja. Pikiran, kata-kata, prilaku hidup kita bisa saja selalu merugikan sesama. Bahkan Isteri yang teramat baik, seperti kata lagu sering jauh dari harapan suami. Banyak dosa mewarnai hari-hari hidup kita. Tapi Allah sungguh panjang sabar atas semua kesalahan dan dosa kita. Kalau kita masih ada sampai sekarang, itulah bukti kasih Tuhan. Ketika mulai minggu ini kita memasuki masa-masa sengsara Yesus Kristus, maka mari kita hayati dan maknai dalam hidup masing-masing dengan menjadi seseorang yang memiliki hidup berdampak terhadap sesama dan lingkungan. Laksanakan juga peran kegembalaan kita dengan baik, jangan menjadi gembala yang pandir sebab akan celaka dan binasa. Di bulan ini, kita telah turut serta dalam memilih Presiden dan anggota-anggota legislatif. Siapa pun yang terpilih, mari kita dukung dalam doa, laksanakan setiap kewajiban karena Tuhanlah yang memercayakan mereka sebagai gembala. Amin.
Pertanyaan untuk Didiskusikan:
1. Bagaimana pemahaman anda tentang gembala yang baik dan yang pandir menurut perikop ini?
2. Bagaimana bentuk pemaknaannya dalam kehidupan Wanita/Kaum Ibu GMIM?
Baca Juga: Upus Ni Mama GMIM 4-10 Februari 2024, Amos 5:7-13 Bersama Tuhan Melawan Ketidakadilan
Baca Juga: Upus Ni Mama GMIM 11-17 Februari 2024, 1 Timotius 2:1-7 Naikkan Doa Untuk Ketentraman Bangsa
Editor : Aprilia Sahari