Bacaan Alkitab: Lukas 23 : 46-47
Tema: "Ya Bapa Ke Dalam Tangan-Mu Kuserahkan Nyawa-Ku"
Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus.
Setiap orang pasti akan membuat dirinya selalu aman dan bebas dari hal-hal yang dapat membahayakan hidupnya. Misalnya bila ada ancaman, pasti akan mencari cara agar ancaman itu tidak menimpa dirinya seperti menghindar dengan cara bersembunyi, atau meminta pertolongan orang lain. Bahkan melaporkan dan minta pertolongan polisi. Begitu juga dengan soal kematian. Ini adalah peristiwa yang dihindari oleh manusia. Karena itu, kalau sakit harus minum obat. Bila sakit semakin parah, maka hams dibawa ke dokter atau rumah sakit. Bahkan bagi orang yang mampu secara ekonomi, mencari dokter ahli dan rumah sakit terbaik, bila perlu berobat ke luar negeri, supaya penyakit itu jangan menjadi penyebab kematian. Akan tetapi hal seperti ini tidak dilakukan oleh Tuhan Yesus. Karena dalam catatan Alkitab, Tuhan Yesus telah berkali-kali mendapat ancaman dari berbagai pihak, mulai dari Imam Kepala, Ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hanya karena mereka tidak percaya bahwa Ia adalah Anak Allah. Walaupun sudah banyak mujizat yang diperbuat-Nya di depan mata mereka. Sebenarnya hal itu telah menguatkan alasan bahwa Tuhan Yesus adalah benar-benar Anak Allah. Kendati Tuhan Yesus punya kuasa untuk menghindar dari kematian, namun Ia menghadapi dan menjalani proses kematian itu. Bahkan kematian yang sangat mengerikan di kayu salib, hanya untuk satu alasan yaitu, supaya manusia dan dunia ditebus dari segala dosa dan diselamatkan.
Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus.
Hari ini, semua orang percaya di seluruh dunia sedang merayakan Hari Kematian Tuhan Yesus di kayu salib yang kita sebut Jumat Agung. Secara umum di Israel, peristiwa ini sangat jauh dari keagungan, sebab bagi mereka orang yang mati di salib adalah sebuah kehinaan dan kebodohan. Karena hukuman salib selalu diuntukkan bagi mereka yang telah melakukan pelanggaran berat, antara lain terlibat dalam kasus pembunuhan berkali-kali, atau melakukan pemberontakan kepada negara dan Kaisar. Namun Tuhan Yesus terhukum bukan dengan alasan itu. Dia tidak pernah melakukan kesalahan atau pelanggaran apapun. Karena itu peristiwa ini diagungkan oleh semua orang percaya sebab di kayu salib itulah dan oleh kematian Tuhan Yesus kegelapan dan semua kecemaran karena dosa manusia dan dunia ini, ditebus dan diselamatkan. Itulah alasannya, rasul Paulus berkata: "Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatann Allah" (1 Korintus 1:18).
Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus.
Selanjutnya, mengenai teriakan Tuhan Yesus, "Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku" , yang juga pernah diungkapkan oleh pemazmur (Mazmur 31:6a)
sebenarnya mengandung pengertian yaitu: Pertama, panggilan atau sapaan 'Bapa' menunjukkan bahwa Yesus memang Anak Allah. Artinya, sebagai anak, Ia harus
menyampaikan beban hidup-Nya kepada Sang Bapa. Kedua, 'Kuserahkan nyawa-Ku' (roh, hidup), berarti Tuhan Yesus memperlihatkan bahwa nyawa itu adalah milik Allah. Sehingga sebagai manusia sejati, Ia menyerahkan nyawa-Nya kepada Allah, Bapa pemilik kehidupan. Maka genaplah apa yang dikatakan dalam kitab Perjanjian Lama: "... ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup" (Kejadian 2:7). Teriakan Tuhan Yesus itu tentu bukanlah sebuah keluhan karena penderitaan-Nya, bukan juga suatu ketakutan karena Ia akan mati. Melainkan di satu pihak, hal itu menunjukkan kepasrahan diri menyerahkan seluruh hidup-Nya dalam tangan Bapa, sebagai pemilik hidup. Dan di lain pihak, Ia mau menyatakan di hadapan Bapa-Nya bahwa tugas yang diberikan kepada-Nya sudah terlaksana, yang dalam kitab Injil Yohanes Ia berkata "Sudah selesai" (Yohanes 19:30). Selain itu, teriakan Tuhan Yesus ini juga sangat berdampak dalam kehidupan orang-orang yang ada di sekitar peristiwa penyaliban itu, yakni mendatangkan perubahan pandangan dan pertobatan serta pengakuan dari seorang Kepala Pasukan tentara Romawi yang mengatakan: "Sungguh, orang ini orang benar." (ayat 47) Dalam bagian Alkitab lain disebutkan: "Sungguh, orang ini adalah Anak Allah" (Markus 15:39).
Tentu pengakuan ini bukan juga hanya sebagai sebuah ekspresi kekagetan dari seorang perwira Romawi Tetapi hal itu kita yakini adalah karya Roh Kudus yang mau menunjukkan kepada orang banyak bahwa kalau orang Israel sebagai bangsa pilihan Allah tidak mau mengakui-Nya sebagai Anak Allah, maka Allah menyiapkan bangsa lain untuk mengakui-Nya sebagai Anak Allah. Bahkan batu-batu pun dapat dijadikan Allah sebagai anak-anak-Nya. Seperti yang dikatakan oleh Yohanes Pembaptis kepada orang Farisi dan orang Saduki: "Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini!" (Matius 3:9b).
Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus.
Pada saat ini, kita dituntun oieh Firman Tuhan untuk menghayati penderitaan dan kematian Tuhan Yesus melalui keikutsertaan kita di Meja Perjamuan Tuhan, yang kita sebut Perayaan Perjamuan Kudus. Mengenai Perjamuan Kudus ini, rasul Paulus dengan sangat tegas mengatakan bahwa di Meja Perjamuan Tuhan, kita akan makan roti dan minum anggur, yang menjadi tanda dan peringatan bahwa tubuh dan darah Tuhan Yesus telah dipecah-pecahkan dan ditumpahkan untuk penebusan sempurna atas segala dosa kita. Karena itu, di meja perjamuan ini kita dituntut agar tidak melekat pada roti dan anggur yang kelihatan tetapi mengarahkan hati kita kepada Allah supaya sesudah itu kita memberitakan tentang perbuatan Allah yang besar, yang telah menebus kita dari dosa (1 Korintus 11:23-32).
Oleh sebab itu, melalui perayaan perjamuan kudus ini, marilah kita menata kembali kehidupan, agar setiap hal yang tidak sesuai dengan kehendak Allah, dibaharui menjadi hidup yang berkenan kepada-Nya. Dan marilah kita belajar dari Kepala Pasukan Romawi, mengaku bahwa Tuhan Yesus itu adalah Anak Allah. Akan tetapi kiranya pengakuan kita bukan hanya sebatas ucapan, melainkan dibuktikan dalam keterlibatan kita membawa lebih banyak orang menjadi percaya pada Tuhan Yesus sebagai Juruselamat. Sehingga Tuhan Allah dalam Yesus Kristus akan semakin dimuliakan di seluruh bumi. Amin!
Editor : Aprilia Sahari