Pembacaan Alkitab : Kisah Para Rasul 5:1-11
Tema : JANGAN BERDUSTA
Jemaat Maha Tuhan!
Cara hidup jemaat mula-mula yang dipenuhi, dipimpin dan dikendalikan oleh Roh Kudus sungguh-sungguh diubahkan mereka hidup bersatu, sehati, sejiwa, bertekun dalam pengajaran para rasul, bertekun dalam persekutuan ibadah, bertekun dalam doa. Orientasi hidup bukan tertuju ke dalam untuk kepentingan diri sendiri tapi tertuju keluar untuk kepentingan bersama, untuk kepentingan orang lain, sehingga ada yang rela berkorban dengan tulus menjual harta milik mereka dan diserahkan kepada para rasul dan dibagikan kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing, sehingga tidak ada yang berkekurangan (Kis.2:41-47, 4:32-36).
Dalam Kisah Para Rasul 5:1-11, diberitakan agak berbeda tentang apa yang dilakukan oleh Ananias bersama istrinya yang bernama Safira. Ananias artinya Allah telah memberikan dan Safira artinya cantik atau yang jelita. Kedua suami istri ini punya nama dan arti yang bagus tapi mereka tidak hidup sesuai dengan arti tersebut. Itu nyata ketika mereka menjual sebidang tanah, suami istri ini bersepakat, bersekongkol untuk menahan sebagian dari hasil penjualan itu dan sebagian yang lain dibawa dan diletakkan di depan kaki para rasul (ay.1,2).
Menahan sebagian dari kata Yunani enosfisato yang artinya menyisihkan secara sembunyi-sembunyi untuk diri sendiri dengan tidak jujur, curang dan menyeleweng. Tindakan itu bukanlah buah dari hati yang dipenuhi dan dipimpin oleh Roh Kudus tetapi dikuasai dan dikendalikan oleh Iblis. Karena itu Petrus menegur dan menyadarkan Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dengan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu? (ay.3) Hati yang dikuasai oleh iblis tidak dapat berkata jujur dan benar, apa yang dikatakan adalah dusta, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta (Yoh.8:44).
Ananias yang hatinya dikuasai iblis bukan saja berdusta kepada Petrus, kepada para rasul tapi mendustai Roh Kudus. Kata Mendustai Roh Kudus dari bahasa Yunani : “Pseusasthai se to pneuma to hagion” yang berarti berbohong, tidak benar. Ananias berbohong, berdusta kepada Allah yang tidak dapat didustai. Petrus berusaha membuka pikiran Ananias dengan mengatakan selama tanah itu tidak dijual bukankah itu tetap kepunyaanmu dan setelah dijual, bukankah hasilnya itu tetap dalam kuasamu? (ay.4a).
Pertanyaan ini sebenarnya memberi kesempatan kepada Ananias untuk sadar dan bertobat dari apa yang dilakukannya, sebab ternyata apa yang dilakukan dalam kesepakatan dengan istrinya, diketahui oleh Petrus, mereka bukan hanya mendustai manusia tetapi terutama mendustai Allah (ay.4b) Ini adalah suatu perbuatan yang jahat di mata Tuhan. Ananias menutupi kebohongannya akhirnya menerima hukuman dari Tuhan, ia rebah dan putus nyawanya (ay.5).
Demikian juga Safira istri Ananias setelah 3 jam dari kematian suaminya, ia membenarkan kebohongan suaminya ketika ditanya oleh Petrus dengan harga sekiankah tanah itu kamu jual? Perempuan itu menjawab: Betul sekian, kesepakatan dalam kebohongan mengakibatkan kematian, perempuan itu rebah dan putus nyawanya, para pengusung menguburkan dia disamping kubur suaminya (ay.7-10).
Penghukuman Allah kepada Ananias dan Safira dengan kematian, ini adalah tanda kemahakuasaan Allah yang tidak dapat diremehkan dan tidak dapat didustai oleh siapapun. Serta memberi penegasan kewibawaan pelayanan yang dilakukan oleh para Rasul, bahwa mereka melaksanakan pelayanan bukan atas kehendak sendiri tapi atas kehendak Tuhan yang mengutus, menyertai dan turut bekerja dengan tanda-tanda kehadiran Tuhan (Mrk.16:20).
Penghukuman itu adalah bentuk tindakan disiplin Tuhan Allah guna memurnikan semangat memberikan persembahan yang ada di tengah-tengah jemaat agar tidak dikotori dan dicemari oleh dusta. Penghukuman Allah kepada Ananias dan Safira membuat semua orang yang menyaksikan dan mendengar hal itu menjadi sangat ketakutan (ay.5b,11).
Hal ini mengedukasi jemaat dan semua orang agar hidup takut akan Allah serta menghargai, menghormati pelayanan dari para Rasul, para pelayan, sekaligus menjadi tanda awas agar penghukuman yang dialami oleh Ananias dan Safira tidak dialami oleh jemaat masa kini, makanya dalam segala hal, khususnya dalam memberi persembahan jangan ada dusta di antara kita.
Jemaat Maha Tuhan!
Dari bagian firman ini disampaikan kepada kita :
Pertama : Sebagai suami istri, keluarga Kristen, umat Tuhan jangan bersepakat, bersekongkol pada hal-hal yang tidak benar, yang jahat di mata Tuhan seperti Ananias dan Safira, sebab bagi Tuhan tidak ada yang dapat disembunyikan, semua terbuka di hadapan Tuhan.
Kedua : Dalam segala hal kita diajarkan agar Jangan Berdusta. Jangan ada dusta di antara kita, sebab dusta bersumber dari iblis, iblis adalah pendusta, bapa segala dusta. Semua pendusta akan mendapat bagian dalam lautan api yang menyala-nyala (bdk.Wahyu 21:8) khususnya dalam hal memberi persembahan jangan berdusta, kita harus jujur di hadapan Tuhan, memberi dengan ketulusan, kemurnian tidak dengan terpaksa dan dipaksakan, memberi dengan kerelaan dan dengan sukacita sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita (2 Kor.9:7)
Ketiga : Tuhan Allah menghukum orang yang mendustaiNYA. Penghukuman itu untuk mengedukasi, mendidik kita agar jangan merehkan dan mendustai Tuhan, harus hidup takut akan Tuhan, menghormati Tuhan dan wujud menghargai dan menghormati Tuhan itu nyata menghargai, menghormati pelayan Tuhan yang adalah utusan Tuhan. Sebab pelayan Tuhan ada, karena Tuhan yang menghadirkan dan Tuhan tidak membiarkan dan tidak meninggalkan, ada jaminan penyertaan kuasa Tuhan “Akulah yang menguatkan perkataan hamba-hambaKu dan melaksanakan keputusan-keputusan yang diberitakan utusan-utusanKU (Yes.44:26a), Haleluyah, Terpujilah nama Tuhan, Amin.
Editor : Aprilia Sahari