Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Khotbah MTPJ GMIM Pdt Aser Esau MTh, 30 Juni - 6 Juli 2024, 1 Korintus 6:12-20 Muliakanlah Allah Dengan Tubuhmu

Aprilia Sahari • Sabtu, 29 Juni 2024 | 23:14 WIB

Pdt Aser Esau, M.Th
Pdt Aser Esau, M.Th

Pembacaan Alkitab : l Korintus 6:12-20

Tema : Muliakanlah Allah Dengan Tubuhmu

 

Jemaat Maha Tuhan!

Umat Tuhan yang ada di Korintus telah menerima Injil dan percaya kepada Yesus Kristus melalui pelayanan Rasul Paulus selama satu tahun enam bulan, ia berada dan mengajarkan firman Allah di Korintus (Kis.18:11).

 

Umat yang sudah menerima dan percaya kepada Yesus Kristus mengalami tantangan di tengah kehidupan kota Korintus, kota pelabuhan yaitu Lekheum di bagian Barat dan Kenkhrea di bagian Timur sehingga Korintus menjadi pusat perdagangan, pusat perekonomian dan pusat industri terjadi perjumpaan dari berbagai bangsa. Kuil-kuil penyembahan berhala sangat banyak, yang paling menonjol adalah kuil dewi Afrodite (dewi asmara) yang berada di gunung dengan ketinggian 2000 kaki di Akropolis.

 

Di kuil tersebut, Sejarawan Strabo mencatat ada 1.000 pelacur sakral, maka di Korintus terjadi pelacuran bakti, sehingga kata Korintus yang berasal dari kata korinthiazomai mengandung arti percabulan dan hal ini dianggap biasa oleh orang Korintus. Sebab cara hidup orang-orang Korintus serba bebas, segala sesuatu halal. Kata “halal” diambil dari bahasa Yunani EXESTIN yang diterjemahkan “diperbolehkan”. Bagi Paulus segala sesuatu diperbolehkan, tetapi bukan semuanya berguna, segala sesuatu diperbolehkan, tetapi bukan semuanya membangun, makanya dia tidak membiarkan diri diperhamba oleh suatu apapun (l Kor.6:12,10:23).

 

Dengan cara hidup yang serba bebas, segala sesuatu halal, segala sesuatu diperbolehkan, karena keyakinan mereka bahwa Yesus Kristus telah membebaskan dari hukum apapun, termasuk dalam soal halal dan tidak halal. Makanya soal memakan makanan yang dipersembahkan kepada berhala, soal melakukan percabulan, hal itu dianggap biasa, tidak ada masalah.

 

Konsep yang keliru tentang kebebasan di dalam Yesus Kristus ini diperparah dengan pengaruh filsafat Yunani kuno yang memisahkan roh dari tubuh manusia. Di mana roh itu kekal, sedangkan tubuh itu fana. Bagi mereka, tubuh itu tidak penting sebab akan mati, akan dihancurkan, dan musnah, “makanan adalah untuk perut dan perut untuk makanan: tetapi kedua-duanya akan dibinasakan Allah (ay.13a).

 

Apapun yang dilakukan pada tubuh, baik makan makanan yang dipersembahkan kepada berhala atau melakukan percabulan, tidak masalah, sebab pada akhirnya tubuhpun akan binasa. Pandangan ini tidak benar, karena itu Paulus meluruskan bahwa Tubuh bukanlah untuk percabulan, melainkan untuk Tuhan, dan Tuhan untuk tubuh (ay.13b).

 

Percabulan dari bahasa Yunani: PORNI yang berarti pelacur. Jadi tubuh jangan digunakan untuk percabulan, jangan digunakan untuk pelacur, tapi untuk Tuhan. Alasannya adalah:

 

Pertama : Tubuh kita yang mati tidak akan mati selamanya tapi akan dibangkitkan (ay.14) Sebagaimana Kristus yang telah mati dan telah bangkit dari antara orang mati sebagai yang sulung, sesudah itu orang-orang milikNya akan dibangkitkan pada waktu kedatanganNYA kembali (l Kor.15:20-23). Jadi tubuh ini harus dijaga, dirawat, dipelihara jangan dicemari dengan dosa percabulan.

 

Kedua : Tubuh kita ini adalah anggota tubuh Kristus (ay.15). Kata anggota tubuh menggunakan kata melos diterjemahkan sebagai kaki atau tangan atau bagian dari tubuh manusia. Artinya kita umatNya tidak dapat dipisahkan dengan Kristus Yesus, sama dengan kaki dan tangan tidak dapat dipisahkan dari tubuh, tidak mungkin anggota tubuh dicabut dan dipersekutukan dengan pelacur. Jadi anggota tubuh Kristus tidak boleh hidup dalam percabulan.

 

Ketiga : Tubuh kita telah diikatkan, dipersatukan dengan tubuh Yesus Kristus, sehingga telah menjadi satu roh, dengan Tuhan. Menjadi satu roh dengan Tuhan, kita tidak boleh kompromi dengan segala macam dosa, khususnya dosa percabulan, dosa lain terjadi di luar diri kita tetapi dosa percabulan terjadi di dalam diri kita yang telah dipersatukan dengan Tuhan, karena itu ditegaskan jauhkanlah dirimu dari percabulan (ay.16-18). Kata “jauhkanlah” dalam bahasa Yunani FEUGO artinya “larilah”. Artinya jangan lambat, jangan tunda, harus segera dilakukan, bertindak cepat, larilah dari percabulan, larilah dan tinggalkan perzinahan sebab perbuatan itu menajiskan diri sendiri dan menghina kekudusan Allah.

 

Keempat : Tubuh kita adalah Bait Roh Kudus, tempat berdiam Roh Kudus (ay.19a) karena itu harus dijaga kekudusan tubuh kita. Tuhan Allah berfirman hendaklah kamu kudus sebab AKU ini kudus (Im.19:2,l Pet.1:16). Tubuh ini jangan dicemari oleh dosa.

Kelima : Tubuh ini, bukan milik kita, tapi milik Tuhan. Sebab telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar (ay.19b,20). Kita adalah hamba/budak dosa, ALLAH dalam Yesus Kristus telah menebus, membayar lunas hutang dosa kita dengan penderitaan, kesengsaraan, kematian dan kebangkitan. Dan kita yang telah ditebus kita hidup bukan untuk kita lagi, tapi kita hidup untuk DIA, TUHAN yang telah menebus kita (Roma 6:18-22). Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu.

 

Jemaat Maha Tuhan!

Dari bagian firman ini disampaikan kepada kita:

Pertama: Sebagai umat TUHAN kita telah dibebaskan, dimerdekaan dari belenggu perbudakan dosa, kita diingatkan agar jangan salah mempergunakan kebebasan, kemerdekaan yang dianugerahkan Kristus kepada kita dengan menghalalkan segala sesuatu, memperbolehkan segala sesuatu, kita harus mampu membedakan, mana yang baik yang berkenan dan sesuai dengan kehendak Allah supaya tidak menjadi sama dengan dunia ini (bdk.Roma 12:2)

 

Kedua: Sebagai orang percaya, Jagalah kekudusan tubuh kita, jangan sia-siakan. Sebab tubuh ini bukan milik kita, tapi milik Tuhan. DIA telah membeli, membayar lunas bukan dengan emas, perak, intan dan permata tapi dengan darah, nyawa yang sangat mahal, yang menderita, mati dan bangkit untuk menebus, mengampuni dan menyelamatkan kita. Tubuh ini menjadi Bait Roh Kudus, jangan dicemari dengan segala macam dosa; dosa percabulan, perzinahan, pelacuran, perselingkuhan, free sex, norkoba, judi, pencurian, perampokan, korupsi, kejahatan di media sosial dan lain sebagainya.

 

Ketiga: Muliakanlah Allah dengan tubuhmu. Memuliakan Allah dengan tubuh mengajak kita untuk menjaga, merawat, memelihara tubuh ini, supaya tidak penyakitan, pola hidup, pola makan diatur, supaya tetap sehat. Melakukan aktivitas, melaksanakan pekerjaan dengan maksimal, baik, jujur, benar dan bertanggungjawab, semua dilakukan sesuai aturan, sesuai dengan perintah dan kehendak Tuhan, itulah tindakan yang memuliakan Allah dengan tubuh, maka Tuhan pasti menolong, sebagaimana kata firman: “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8:28), Terpujilah nama Tuhan, Haleluyah, Amin.

Editor : Aprilia Sahari
#MTPJ #khotbah #GMIM #Renungan GMIM