Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Pnt Recky: BPMS Harusnya Cari Ide Tingkatkan Kehadiran Jemaat di Gereja, Bukan Ubah Tata Gereja GMIM 2021

Clavel Lukas • Selasa, 2 Juli 2024 | 18:39 WIB

 

Pnt Recky Montong
Pnt Recky Montong

MANADOPOST.ID--Perubahan Tata Gereja GMIM 2021 yang notebenenya jadi konstitusi atau pegangan organisasi gereja terbesar di Sulut, sejatinya harus mengikut aturan, selaras dengan keputusan yang diambil berjenjang dari jemaat hingga tatanan BPMS.

Kalaupun ada wacana perubahan, pihaknya pun siap mengakomodir hal itu hanya saja sifatnya berupa usulan. Hal ini ditegaskan Pnt Recky Montong, Wakil Ketua BPMS GMIM Bidang Data, Informatika dan Litbang.

"Benar memang, belum semua tahu seperti apa teknis dan mekanisme pengambilan keputusan di GMIM. Saya sebagai anggota BPMS saja harus membuka lagi aturan dan melihat rujukan mana yang tepat," ujar mantan Bendahara GMIM ini.

"Sepengatahuan saya, di GMIM itu hanya ada 3 sidang. Masing-masing, Sidang Majelis Sinode yang digelar tiap 5 tahun sekali. Setelahnya ada Sidang Majelis Sinode Istimewa (SMSI), disini wadah untuk memutuskan hal-hal yang diusulkan Sidang Majelis Sinode 5 tahunan, bisa mengubah Tata Gereja bisa juga memutuskan pokok-pokok dan sikap gereja. Ketiga Sidang Majelis Sinode Tahunan," bebernya.

"Nah, jadi jelas bila mengacu pada ketiga jenis sidang itu, artinya dalam hal mengubah Tata Gereja harus dan wajib masuk dulu dalam pembahasan Sidang Majelis Sinode yang 5 tahunan itu. Jadi bukan diusulkan lewat Sidang Majelis Sinode Tahunan, yang sebenarnya jadi momen untuk membahas dan mengevaluasi kinerja atau program-program yang tertuang dalam Renstra 2022-2027," urainya lagi. 

Menurutnya, harusnya kita sama-sama berembuk, mencari ide dan inovasi. Kiat untuk mendorong tingkat kehadiran atau partisipasi jemaat. Pun dengan solusi menghadapi jemaat yang sudah terlalu lama tidak datang beribadah di gereja.

"Karena kalau dilihat secara eksplisit, yang diusulkan ini hanya mengatur kepentingan pimpinan. Nggak tahu siapa yang gagas. Seharusnya kita lebih memikirkan bagaimana cara dan kiat untuk mendorong jemaat lebih partisipatif ke gereja,"ujarnya. 

Karena bila melihat karakteristik jemaat sekarang, menurut amatan saya itu ada empat kategori. Pertama, ada jemaat yang datang bulan, kalau bulan bagus dia ke gereja.

Kedua, ada yang memang istilahnya itu burung taong. Paling banter 3 kali ke gereja dalam setahun. Ketiga, ada kategori kapal selam. Mereka datang atau muncul ke permukaan karena ada maunya, bisa karena sakit, karena pergumulan jabatan dan lain-lain.

"Tapi yang paling banyak itu sebenarnya kategori mati suri. Mereka tersensus tapi tidak beribadah, tidak memberi persembahan tapi hadir di ibadah Padang, tamasya dan sejenisnya. Kita (BPMS , red) harus putar otak bagaimana menyiasatinya. Hal-hal ini yang harusnya dikedepankan, bagaimana gereja harus dan wajib untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan," urainya.

Sembari menambahkan, pihaknya optimis, bila kiat-kiat di atas dapat dipadupadankan dengan sinergitas seluruh jemaat, pelayan khusus, pendeta hingga jajaran BPMS. Niscaya, di tahun 2025 nanti, tingkat kunjungan jemaat di gereja bisa mencapai angka 50 persen.  

Adapun diketahui, GMIM saat ini ditopang oleh 2.727 pendeta, dengan persentase 70 persen adalah perempuan. Guru Agama ada 168, Diaken, 11.608 lagi-lagi didominasi oleh perempuan dengan 72 persen.

Penatua, 16.834 orang, separuh lebihnya juga perempuan. Namun secara kumulatif mulai dari jemaat hingga, pelayan khusus hingga pengurus BPMS 51 persen adalah laki-laki. 

Sementara itu, Jurnal di SIT GMIM, baru 33 persen (sekira 280 ribu) yang bergereja dari total kira-kira 829.000 warga GMIM terdata. Artinya, 549 ribu warga GMIM belum aktif bergereja. (*)

Editor : Clavel Lukas
#SMSI #Recky Montong #GMIM #BPMS #Tata Gereja GMIM #pendeta