Kisah Yusuf
Ia dipandang iri oleh saudara-saudaranya karena menjadi anak kesayangan ayah mereka, Yakub. Ia lalu dilemparkan ke dalam sumur yang kering, dijual ke negeri asing sebagai budak oleh saudara-saudaranya sendiri.
Di Mesir nasibnya pun naas karena difitnah dan dipenjara. Jika ia mau, ia bisa menyimpan dendam dan kutuk kepada saudara-saudaranya.
Tetapi ketika ia menjadi perdana Menteri Mesir, orang nomor 2 di Mesir setelah Firaun, ia mendapati saudara-saudaranya datang meminta belas kasihan dalam masa kekeringan ke tanah Mesir.
Apa yang Yusuf lakukan? Ia mendekat, mencium saudara-saudaranya dengan menangis, memeluk mereka dan berkata: "Tetapi sekarang, janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku mendahului kamu…Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah…" (Kejadian 45:5,8).
Yusuf dapat berbuat demikian, karena ia mengarahkan pandangannya kepada Allah dan rencana-Nya!
Kisah Yusuf menunjukkan bagaimana dalam kedaulatan-Nya Allah bekerja mengalahkan kejahatan dan menggenapi rancangan-Nya. Setelah mengalami semua yang ia alami, Yusuf dapat melihat tangan Allah di balik peristiwa-peristiwa dalam kehidupannya.
Kemudian, Yusuf menghibur para saudaranya dengan memberi pengampunan, dengan berkata, "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan…" (Kejadian 50:20). Maksud terjahat manusia tak mungkin menggagalkan rancangan sempurna Allah.
Segala sesuatu baik kesedihan ataupun kebahagian bisa terjadi dalam hidup kita, tetapi kita harus tetap percaya bahwa tak ada satupun terjadi di luar rancangan damai sejahtera Allah.
Editor : Clavel Lukas