Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Khotbah MTPJ GMIM Pdt Aser Esau MTh, 8-14 September 2024, Kejadian 22:1-19 Tuhan Menyediakan

Aprilia Sahari • Jumat, 6 September 2024 | 11:37 WIB
Pdt Aser Esau, M.Th
Pdt Aser Esau, M.Th

Pembacaan Alkitab: Kejadian 22:1-19
Tema: Tuhan Menyediakan

Jemaat Maha Tuhan!
Abram dipanggil oleh TUHAN pada usia 75 tahun untuk diberkati dengan keturunan menjadi bangsa yang besar, namanya termasyur dan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa, Abram taat menjawab panggilan TUHAN, ia rela meninggalkan tanah kelahirannya Ur-Kasdim untuk menuju ke tempat yang ditunjukkan TUHAN (Kej.12:1-9). Untuk mendapatkan Ishak, 25 tahun Abram menanti janji Allah itu, ketika Abraham berumur 100 tahun dan dan Sara berumur 90 tahun barulah Ishak lahir (Kej.17:17,21:5).

Ketika Ishak berumur 33 tahun, Tuhan memerintahkan kepada Abraham agar mengambil Ishak anaknya yang tunggal, yang dikasihi, untuk pergi ke tanah Moria dan dipersembahkan dia di sana sebagai korban bakaran (Kej.22:1-2). Perintah Tuhan ini sangat berat, Abraham menanti kelahiran Ishak selama 25 tahun, bagi Abraham tidak mungkin mendapatkan anak lagi sebab sudah tua, Ishaklah yang akan melanjutkan keturunan, disinilah iman Abraham diuji, dan karena Tuhan yang perintahkan, maka Abraham taat segera melakukan perintah Tuhan itu. Keesokan harinya pagi-pagi Abraham bagun, mempersiapkan semua yang diperlukan dan berangkatlah Abraham dan Ishak bersama dengan dua orang bujangnya menuju ke Bukit Moria (ay.3).

Moria adalah nama gunung letaknya di luar kota Yerusalem. Moria dinamakan gunung Allah (bdk.ll Taw.3:1). Perjalanan yang ditempuh selama 3 hari, perjalanan yang panjang dan melelahkan, dari jauh Abraham telah melihat tempat itu, dia meninggalkan ke 2 bujangnya dan keledai dan bersama dengan Ishak ia pergi ke tempat itu untuk sembayang dan mempersembahkan korban bakaran (ay.4,5).

Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, di tangannya dibawahnya api dan pisau, demikianlah keduanya berjalan bersama (ay.6). Dalam perjalanan itu Ishak bertanya: Bapa, di sini sudah ada api dan kayu, di mana anak domba untuk korban bakaran (ay.7). Pertanyaan ini pasti menyentuh hati dan perasaan sang ayah, sebab dia tahu bahwa anaknya yang sangat dinantikan, yang sangat dikasihi akan dijadikan sebagai korban bakaran. Tapi dengan tenang dan penuh keyakinan Abraham menjawab pertanyaan itu Allah akan menyediakan (ay.8). Ketika tiba di bukit Moria, Abraham mendirikan mezbah, disusunlah kayu bakar, diikatlah Ishak dan diletakkan di atas mezbah, Abraham mengulurkan tangan untuk menyembelih anaknya (ay.9,10).

Di sinilah klimaks iman Abraham diuji, sebagai naluri seorang Bapa, tidak tegah mengikat dan menyembelih anaknya dengan tangan dan di depan matanya bahkan Ishak juga sebagai seorang anak muda, pasti ada perlawanan, kok masa saya yang dijadikan korban bakaran, tapi ini adalah Bapa dan Anak yang taat rela melakukan apa perintah Allah. Kasih dan ketaatan Abraham kepada Allah lebih besar dari kepada Ishak anaknya. Yesus katakan “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari padaKu, ia tidak layak bagiKu; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari padaKu, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat.10:37). Abraham menang dalam menghadapi ujian itu, Tuhan mencegah Abraham melalui MalaikatNya yang berseru: Abraham, Abraham, jangan bunuh anak itu dan jangan kau apa-apakan dia, sekarang telah diketahui bahwa engkau takut akan Allah dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal (ay.11,12).

Abraham rela mengorbankan apapun yang sangat berarti, sangat berharga, anak sekalipun demi ketaatannya kepada Tuhan, inilah iman yang sesungguhnya, iman yang membuka ruang kuasa Tuhan dinyatakan, TUHAN menolong Abraham dengan menyediakan anak domba, Abraham mengambil domba itu dan mempersembahkan sebagai korban bakaran pengganti anaknya. Abraham menamai tempat itu TUHAN menyediakan (Jehova Jireh) (ay.13,14).

Oleh ketaatan Abraham maka Tuhan Allah bersumpah demi diriNya, meneguhkan janjiNya bahwa Tuhan akan memberkati berlimpah-limpah, keturunannya sangat banyak seperti bintang di langit, seperti pasir di tepi laut, keturunanya akan menduduki kota musuh dan semua bangsa di bumi akan diberkati, lalu kembalilah mereka ke Bersyeba (ay.15-19). Ketaatan Abraham mendengar dan melakukan perintah Tuhan mendatangkan berkat bagi dirinya, bagi keluarganya dan bagi semua orang, semua bangsa.

Jemaat Maha Tuhan!
Dari bagian firman ini belajar bahwa:
Pertama: Ketaatan mendengar dan melakukan perintah Tuhan butuh kerelaan berkorban; rela meninggalkan zona aman untuk melangkah dalam tuntunan Tuhan, rela menanti janji Tuhan dengan tabah dan sabar, rela mengorbankan segala sesuatu yang sangat dikasihi, yang sangat berharga untuk diserahkan, dipersembahkan kepada Tuhan.

Kedua: Kasih dan ketaatan kita kepada Tuhan harus diatas segalanya dari pada yang lain. TUHANlah yang harus menjadi yang pertama dan terutama dalam hidup kita

Ketiga: Dalam menghadapi segala ujian, cobaan dalam hidup ini tetaplah kuat, tetap setia dan taat kepada Tuhan sehingga kita tampil sebagai pemenang bahkan lebih dari pemenang.

Keempat: Ketaatan pada perintah dan kehendak Tuhan mendatangkan berkat, TUHAN Menyediakan apa yang diperlukan, hidup ini diberkati dan jadi berkat bagi semua orang, semoga demikian, Haleuyah, Amin.

Editor : Aprilia Sahari
#MTPJ #GMIM #Renungan GMIM