Kitab Matius ditulis dengan tujuan untuk memperkenalkan Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan, terutama kepada orang-orang Yahudi.
Salah satu karakteristik Injil Matius adalah penekanan pada pengajaran-pengajaran Yesus yang mendalam dan seringkali berbentuk percakapan atau perumpamaan yang penuh makna teologis.
Dalam Matius 18:1-18, Yesus mengajarkan prinsip-prinsip Kerajaan Allah melalui percakapan tentang siapa yang terbesar di dalam Kerajaan itu.
Pasal ini menegaskan bahwa Kerajaan Allah tidak berpusat pada kekuasaan atau status, tetapi pada kualitas hati yang seperti anak kecil.
Bagi para bapak, yang kerap dihadapkan pada tuntutan untuk mengajar dan memimpin, bagian ini mengingatkan bahwa kekuatan sejati bukanlah dalam kuasa, tetapi dalam kerendahan hati, kasih, dan ketulusan.
Pembahasan Ayat per Ayat
Ayat 1-4: “Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: ‘Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?’ Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka lalu berkata: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.’”
Pada awal pasal ini, murid-murid bertanya tentang siapa yang terbesar dalam Kerajaan Allah. Mereka mungkin berharap Yesus akan memilih salah satu dari mereka atau memberikan jawaban yang menunjukkan posisi atau jabatan tertentu. Namun, Yesus menunjukkan seorang anak kecil sebagai contoh terbesar dalam Kerajaan.
Ini adalah pesan yang kuat bagi para bapak, bahwa yang terpenting dalam kehidupan iman bukanlah kekuasaan atau status sosial, tetapi kerendahan hati dan kejujuran hati.
Kerendahan hati seperti anak kecil berarti menyadari bahwa segala sesuatu yang kita miliki berasal dari Tuhan, termasuk keluarga dan anak-anak kita. Menjadi seperti anak kecil berarti kita bergantung sepenuhnya pada Bapa di Sorga dan berusaha menjalani hidup dalam ketulusan dan kasih.
Bagi seorang bapak, ajaran ini mendorong untuk melepaskan ambisi yang hanya berfokus pada kepentingan diri sendiri dan mulai fokus untuk melayani keluarga dengan kasih dan kerendahan hati.
Ayat 5-6: “Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut.”
Menyambut anak-anak dalam nama Yesus adalah sebuah panggilan untuk melindungi dan menjaga mereka dalam iman. Bagi seorang bapak, peran ini sangatlah penting.
Yesus memperingatkan bahwa menyesatkan seorang anak atau membuat mereka kehilangan iman akan memiliki konsekuensi yang berat.
Ini adalah pengingat bahwa para bapak harus menjaga hati anak-anak mereka, tidak hanya menyediakan kebutuhan materi, tetapi juga kebutuhan rohani, dengan teladan hidup yang sesuai dengan ajaran Kristus.
Ayat 7-9: “Celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya.
Jika tanganmu atau kakimu menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu; karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup tanpa tangan atau tanpa kaki daripada dengan utuh kedua belah tangan dan kedua belah kakimu dicampakkan ke dalam api yang kekal.
Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu; karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan bermata satu daripada dicampakkan ke dalam api neraka dengan bermata dua.”
Ayat-ayat ini menekankan perlunya ketegasan dalam menolak dosa dan segala sesuatu yang dapat merusak iman. Bagi seorang bapak, ini berarti menjaga integritas hidup dan menunjukkan teladan yang baik bagi anak-anak.
Membuang apa yang tidak berkenan kepada Tuhan, seperti kebiasaan atau sikap yang buruk, adalah wujud kepatuhan kepada Allah dan rasa tanggung jawab atas keluarga. Tindakan ini mengajarkan anak-anak pentingnya hidup kudus di hadapan Tuhan.
Ayat 10-14: “Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga. ... Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorang pun dari anak-anak ini hilang.”
Yesus mengingatkan bahwa setiap anak sangatlah berharga di mata Tuhan. Malaikat-malaikat mereka selalu melihat wajah Bapa di surga, menunjukkan perhatian dan kasih Tuhan yang luar biasa kepada mereka.
Bagi para bapak, hal ini menegaskan bahwa setiap anak yang dipercayakan kepada kita adalah titipan dari Tuhan dan patut dijaga dengan sepenuh hati.
Seorang bapak memiliki tanggung jawab untuk menjadi pelindung dan pemimpin rohani bagi anak-anaknya, memastikan mereka tumbuh dalam kasih dan pengenalan akan Tuhan.
Ayat 15-18: Di bagian akhir, Yesus berbicara tentang pentingnya pemulihan dan perdamaian. Jika ada yang berbuat dosa, maka orang tersebut harus ditegur dengan kasih agar dapat dipulihkan.
Bagi seorang bapak, hal ini juga berarti bahwa ketika anak-anak atau anggota keluarga lainnya melakukan kesalahan, pendekatan yang penuh kasih harus diutamakan agar tercipta suasana yang sehat dalam keluarga.
Pemulihan adalah bagian dari kasih Allah, dan sebagai bapak, kita dipanggil untuk membawa kasih ini kepada keluarga.
Yesus Memberkati Anak-anak
Kisah Yesus yang menerima dan memberkati anak-anak dalam Matius 19:13-15 adalah salah satu contoh nyata dalam Alkitab tentang bagaimana Yesus mengasihi dan menerima anak-anak.
Para murid mencoba menghalangi mereka, tetapi Yesus menegur para murid dan berkata, “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku.” Sikap Yesus menunjukkan kasih yang tulus tanpa syarat. Dia tidak memandang rendah atau mengabaikan mereka, tetapi sebaliknya, Dia memberikan perhatian khusus.
Sebagai bapak, teladan Yesus ini mengajarkan kita untuk tidak mengabaikan atau meremehkan anak-anak. Anak-anak membutuhkan kasih dan perhatian dari figur ayah yang ada untuk mereka dalam setiap aspek kehidupan.
Implikasi Firman
-
Menjadi Teladan bagi Anak-anak
Sebagai bapak, kita diingatkan untuk menjadi teladan yang baik dalam iman dan kasih. Kehidupan kita menjadi saksi bagi anak-anak, yang dapat membantu mereka mengenal kasih Kristus. -
Mengasihi Tanpa Syarat
Yesus mengasihi anak-anak tanpa syarat. Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga diajak untuk mengasihi anak-anak kita dan memperhatikan mereka dengan hati yang terbuka, penuh pengertian, dan kasih. -
Menjaga Integritas Hidup
Yesus menekankan pentingnya hidup yang bersih dari dosa. Sebagai bapak, menjaga integritas hidup berarti menolak dosa dan menjauhkan segala hal yang dapat menjadi batu sandungan bagi anak-anak. -
Pemulihan dalam Kasih
Menghadapi konflik dengan kasih adalah wujud tanggung jawab kita sebagai bapak. Setiap kesalahan yang terjadi dalam keluarga harus dihadapi dengan kasih yang memulihkan, bukan dengan kemarahan. -
Menghormati Setiap Kehidupan Anak
Setiap anak memiliki nilai yang sangat tinggi di mata Tuhan. Mereka bukan hanya tanggung jawab duniawi, tetapi juga tanggung jawab rohani, dan sebagai bapak, kita dipanggil untuk memimpin mereka dalam kasih yang membawa mereka lebih dekat kepada Tuhan.
Kiranya pesan dari Matius 18:1-18 ini menguatkan para bapak untuk menjalani peran mereka dengan kasih, kerendahan hati, dan penuh tanggung jawab di hadapan Tuhan, menjadi figur teladan yang membawa anak-anak kepada Kristus.
Amin
Editor : Clavel Lukas