Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Bina Remaja GMIM 16-22 Februari 2025, Amsal 9:1-18 Buanglah Kebodohan, Maka Engkau Akan Hidup dan Ikutilah Jalan Pengertian

Aprilia Sahari • Senin, 17 Februari 2025 | 10:35 WIB
LOGO REMAJA GMIM.
LOGO REMAJA GMIM.

Bacaan Alkitab: Amsal 9 : 1-18
Tema: Buanglah Kebodohan, Maka Engkau Akan Hidup dan Ikutilah Jalan Pengertian

Kakak-kakak pembina dan adik-adik remaja yang dikasihi Tuhan Yesus, melampaui kemampuan dan kelebihan yang dimiliki, seseorang sesungguhnya dinilai berdasarkan pilihan-pilihan yang dibuatnya. Tanpa memandang remeh kemampuan dan kelebihan yang kita miliki, di mana hal-hal itu adalah baik, apa yang terutama adalah pilihan-pilihan yang kita buat dalam hidup ini. Bukankah sia-sia seseorang memiliki kemampuan dan kelebihan yang hebat namun dalam hidupnya membuat pilihan-pilihan yang justru merugikan diri sendiri dan orang lain?

Kitab Amsal adalah kitab hikmat yang mendorong seseorang memilih dengan benar. Pilihan kita dalam hidup akan menentukan banyak hal, kini dan nanti. Pilihan itu didasarkan pada komitmen utama yang harus dimiliki setiap orang percaya, yakni takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan, kata pengamsal, adalah permulaan hikmat (ayat 10; bnd. Amsal 1:7). Saat seseorang hidup dalam takut akan Tuhan, pilihan-pilihan yang dibuatnya kemudian akan didasarkan pada hikmat Tuhan. Namun di sinilah pertanyaan penting muncul untuk direnungkan lebih dalam: lantas, mengapa banyak orang percaya yang telah diajarkan tentang takut akan Tuhan justru membuat banyak pilihan yang buruk dan merusak, termasuk di dalamnya tidak sedikit remaja, yang pada akhirnya mendatangkan banyak penyesalan?

Sesungguhnya, hidup itu pilihan. Orang percaya dipanggil untuk memilih sejak membuka mata pada pagi hari sampai menutup mata pada malam hari. Di sinilah betapa hikmat itu teramat penting! Kitab Amsal pasal 9 sejak awal menekankan tentang pilihan yang harus dibuat seseorang di hadapan dua tawaran, yakni tawaran hikmat dan tawaran kebodohan. Mungkinkah ada orang yang mengiyakan tawaran kebodohan? Bukankah kita semua pasti memilih tawaran hikmat? Sayang sekali, ada begitu banyak orang menerima dan mengiyakan tawaran kebodohan, terutama karena satu hal ini: kenikmatan. Apa yang membuat seseorang jatuh dalam kebodohan dan segala tawarannya adalah karena kenikmatan yang sulit untuk ditolak.

Dalam pembacaan Alkitab kita, hikmat direpresentasikan sebagai seorang perempuan yang telah mendirikan rumah dengan tujuh tiang dan mempersiapkan hidangan di dalamnya. Perempuan hikmat kemudian menyuruh para pelayan perempuannya untuk berseru dan memanggil orang-orang yang tak berpengalaman, yakni orang-orang yang begitu membutuhkan hikmat, untuk datang dan menikmat hidangan roti dan anggur yang telah tersedia. Kesempurnaan ini, yang dilambangkan dengan ketujuh tiang dan hidangan pemuas lapar dan dahaga, siapa yang menolaknya? Namun ironinya adalah banyak orang menolak undangan perempuan hikmat tersebut. Alasannya? Karena mereka menerima undangan perempuan lainnya, yakni
perempuan kebodohan. Orang-orang memilih perempuan kebodohan dan memutuskan untuk terus ada dalam kebodohan, cemooh, dan kefasikan, semata -mata karena satu alasan, yakni kenikmatan yang ditawarkan kepada mereka. Kenikmatan adalah alasan orang-orang ini menolak tawaran perempuan hikmat untuk menjadi berhikmat, bertambah bijak dalam pengetahuan,
dan menikmati umur yang panjang.

Sama seperti perempuan hikmat yang digambarkan mendirikan rumah dan mengumumkan undangan untuk makan dan minum, perempuan kebodohan yang disebut sebagai bebal dan cerewet itu pun duduk di depan pintu rumahnya di atas kursi di tempat yang tinggi di kota dan mengundang orang yang lewat untuk singgah padanya. Apakah yang ditawarkannya? Yakni "air curian manis, dan roti yang dimakan dengan sembunyi-sembunyi lezat rasanya" (ayat 17). Air curian manis dan roti yang dimakan sembunyi-sembunyi itu menunjuk pada kenikmatan dunia, terutama kenikmatan seksual yang mengambil bentuknya dalam perzinahan dan perbuatan dosa demi pemuasan hasrat dan nafsu. Di hadapan tawaran dan godaan kenikmatan ini banyak orang jatuh. Tanpa sadar pilihan mereka tersebut sementara menggiring mereka pada kebinasaan. Nikmat, namun merusak dan mematikan.

Kakak-kakak pembina dan adik-adik remaja, bagaimana dengan kita? Saat kita melihat hidup kita sendiri, pilihan macam apakah yang kita buat? Di hadapan tawaran perempuan hikmat dan perempuan kebodohan, manakah yang lebih banyak kita pilih? Pada dasarnya, kita memang digerakkan oleh hasrat terdalam kita. Menjadi penting untuk jujur pada diri kita sendiri hasrat macam apa yang menggerakkan kita. Pengamsal menunjuk pada takut akan Tuhan dan mengenal Yang Mahakudus sebagai titik awal yang mengubah pilihan-pilihan seseorang, dimulai dari hasrat terdalam yang dimiliki seseorang. Bila kita telah berkomitmen untuk hidup dalam takut akan Tuhan, apa yang diubahkan pertama kali yaitu hasrat kita yang kini diarahkan pada mengasihi dan mengenal Tuhan sebagai yang terutama. Kenikmatan dosa hanya dapat dilawan dengan sukacita dan damai sejahtera sejati yang diperoleh di dalam Tuhan. Kenikmatan dosa selalu mendatangkan rasa puas yang semu, di awal, namun bukan demikian pada akhirnya. Hanya hidup di dalam Tuhan yang memberikan kepuasan sejati dalam hidup kita.

Dalam hidup yang kita jalani, betapa pentingnya hasrat dan keinginan yang diubahkan. Kita bisa saja rajin beribadah namun hasrat dan keinginan kita belum diubahkan. Beribadah, namun ingin segera melakukan hal-hal yang memuaskan hasrat dan keinginan lama kita serta hawa nafsu di dalam diri kita. Memilih hikmat dalam pertolongan Tuhan adalah hal yang tidak akan kita sesali, berbeda dengan memilih kebodohan dan tawaran kenikmatannya yang pada akhirnya
mendatangkan penyesalan. Tak mudah memang berjalan dalam jalan hikmat. Saat seseorang ingin berhasil, ia harus belajar dengan tekun dan melakukan hal-hal yang menuntut pengorbanan. Namun demikian, hasilnya selalu mendatangkan keuntungan. Bayangkanlah kita yang pada akhirnya memperoleh apa yang baik, masa depan penuh harapan, orang tua yang bangga, dan hidup yang menjadi berkat karena memilih hikmat. Dalam Yesus Kristus yang adalah Hikmat yang sejati itu, kita akan dimampukan untuk melakukannya. Kita telah ditebus oleh-Nya di atas kayu salib, di mana penebusan itu memunculkan hasrat dan keinginan yang baru dalam diri kita. Biarlah hasrat dan keinginan yang baru itu mendorong kita mencari hikmat dan digerakkan oleh hikmat dalam memilih di masa muda yang kita jalani. Carilah Tuhan, sebagaimana firman Tuhan, maka kamu akan hidup! Amin.

Editor : Aprilia Sahari
#Bina Remaja #Remaja GMIM #GMIM #Renungan GMIM