Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Khotbah Jumat Agung 18 April 2025, Matius 27:45-46 Yesus Menyerahkan Nyawa-Nya, Tabir Bait Suci Terbelah Dua

Aprilia Sahari • Kamis, 10 April 2025 | 15:19 WIB
LOGO GMIM.
LOGO GMIM.

Bacaan Alkitab: Matius 27:45-46
Tema: Yesus Menyerahkan Nyawa-Nya, Tabir Bait Suci Terbelah Dua

Jemaat yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus.
Jumat Agung dalam tradisi gereja diperingati sebagai hari kematian Yesus Kristus yang rela disalibkan dan mengorbankan diri untuk keselamatan umat manusia. Istilah 'Agung' merujuk pada makna yang mendalam dan pentingnya peristiwa tersebut dalam iman Kristen. Hari Jumat Agung jatuh pada hari Jumat sebelum Paskah Yahudi. Ibadah Jumat Agung kita lakukan saat ini untuk merenungkan makna pengorbanan; penderitaan dan kematian Yesus Kristus di atas kayu salib. Meskipun hari itu diliputi suasana duka dan mencekam, namun mengingatkan orang percaya tentang kasih Tuhan Allah dan penebusan melalui kematian Yesus Kristus.

Baca Juga: Renungan Yohanes 20:1–10, Yesus Bangkit Dari Antara Orang Mati, Percayalah

Pada saat Yesus Kristus disalibkan, terjadi kegelapan meliputi seluruh daerah itu, menandakan bahwa untuk sesaat kegelapan tampak puncaknya. Kegelapan yang membuat orang menjadi takut, menandakan bahwa kemampuan manusia dengan segala kejahatannya itu terbatas. Mereka tidak dapat mengendalikan "menang" dan hampir mencapai situasi. Ada tangan penuh kuasa sedang "beracara."

"Kira-kira jam tiga, berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eloi-Eloi lama Sabakhtani? Artinya: Allah-Ku, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" Apa maksud perkataan Yesus Kristus ini? Dia tidak kecewa ditinggalkan oleh orang Israel dan murid-murid-Nya di puncak penderitaan-Nya, tetapi ketika Ia merasakan kemanusian-Nya seperti ditinggalkan oleh Bapa-Nya. Kenapa dan apa dasarnya sehingga kecewa ketika ditinggalkan atau dibiarkan oleh Tuhan Allah? Dasarnya adalah, Yesus Kristus disalibkan untuk menebus dosa manusia. Dosa-dosa kita dibayar dengan penderitaan dan darah-Nya. Yesus Kristus harus menerima hukuman-Nya menggantikan manusia.

"Eli, Eli, lama sabakhtani," Allah-Ku, Allah-Ku mengapa Engkau meninggalkan Aku? telah dinubuatkan dalam Mazmur 22 yang berisi sebuah ratapan profetik tentang seorang yang tidak bersalah namun mengalami penderitaan (ay.1-20). Dia berteriak, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" bukanlah orang yang ditinggalkan Tuhan Allah karena dosanya
atau menjadi musuh-Nya. Akan tetapi teriakan itu menempatkan diri-Nya sebagai pihak yang tidak bersalah namun menderita. Seruan dalam Mazmur ini merupakan sebuah ungkapan hati dari orang yang menantikan Tuhan Allah, tetapi yang dinantikan tidak kunjung tiba. Inilah yang dirasakan oleh Yesus Kristus ketika merasakan keterpisahan dengan Bapa-Nya. Yesus Kristus mengambil posisi orang berdosa di kayu salib (2 Kor.5:21). Ia menggantikan posisi manusia
berdosa sehingga Ia harus pengalami penghukuman.

Jemaat yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus.
Setelah Yesus Kristus berseru, seorang prajurit mengambil bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam, lalu mencucukkannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus Kristus minum. Anggur asam ini biasanya berguna untuk mengurangi rasa sakit. Kata Yunani "anggur asam" adalah oxos. Anggur ini biasa diminum oleh prajurit romawi. Hal ini menggenapi apa yang dinubuatkan dalam Mazm 69:22, "mereka memberi aku minum anggur asam." Kendati penderitaan dan kematian Yesus Kristus di kayu salib untuk menanggung hukuman dosa manusia, namun kematianNya membuka harapan baru bagi manusia untuk hidup di jalan keselamatan.

Kemudian Tabir Bait Suci terbelah dua. (ay. 51) Dalam Bait Suci terdapat dua bagian. Tempat pertama disebut kudus, yang dipisahkan oleh sebuah tirai dari tempat itu ke pelataran Bait Allah. Sedangkan tempat kedua, disebut tempat Mahakudus, dipisahkan dengan tempat yang pertama dengan sebuah tirai yang lain. Tempat Mahakudus hanya dapat dimasuki oleh Imam Kepala sekali setahun. Kedua jenis tirai ini terbelah pada saat kematian Yesus Kristus. Kedua tirai ini terbelah menandakan bahwa tata cara seremonial hukum Taurat yang lama telah digantikan dengan hukum Yesus Kristus. Dan bahwa jalan menuju Tuhan Allah di sorga terbuka kepada semua orang dengan Perjanjian Baru yang dimeteraikan oleh darah Yesus Kristus. Ibrani 10:19-20. "Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri, dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah. Karena itu
marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni."

Jemaat yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus.
Peristiwa berikut yang terjadi setelah Yesus Kristus menyerahkan nyawa-Nya adalah, "terjadiJah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit."Artinya melalui peristiwa kematian Yesus Kristus ada kuasa yang dahsyat terjadi.

Kepala pasukan prajurit yang menjaga Yesus Kristus adalah seorang romawi yang sangat patuh pada perintah dan hukum romawi. Walaupun ia turut mengambil bagian dalam penyaliban Yesus Kristus, namun pada akhirnya ia mengakui bahwa, "Sungguh ia ini anak Allah." Ini sebuah pengakuan yang bertolak belakang dengan hujatan dan olok-olok olehnya dan para prajurit sebelumnya. Ia mengakui kemahakuasaan Yesus Kristus. Kebencian dan olok-olokan berubah menjadi pujian dan rasa kagum atas kuasa Yesus Kristus ketika melihat seluruh proses penyaliban dan kematian-Nya.

Ayat 55-56 menyatakan banyak perempuan-perempuan menyaksikan peristiwa penyaliban Yesus Kristus. Artinya peristiwa itu memang benar-benar terjadi karena terdapat saksi peristiwa tersebut.

Jemaat yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus.
Inti peringatan dan perayaan hari Jumat Agung adalah Yesus Kristus telah menyerahkan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang. Yesus Kristus melakukan tugas pelayanan-Nya sampai pada titik darah penghabisan. Ia melakukan semuanya dengan sadar dan sukarela, bukan dengan terpaksa. Ia berkata: "Ya Bapa-Ku, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku." Kematian Yesus Kristus adalah wujud kasih Tuhan Allah yang menebus dosa kita. Menebus berarti "mengganti". Seperti di pegadaian, kita menebus hutang. Manusia tidak dapat menebus hutang, karena tidak lagi memiliki kebenaran. Kita telah bangkrut di hadapan-Nya. Bila tidak ada yang menebus, kita tidak bisa diselamatkan. Siapa yang dapat menanggung kita? Firman Tuhan mengatakan "Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah." (Yesaya 53:4)

Jemaat yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus.
Jika ada yang bertanya, siapakah yang mau mati untuk kita? Orang itu adalah Yesus Kristus. Hari ini gereja di seluruh dunia memperingati kematian Yesus Kristus. Injil Matius melukiskan kematian Yesus Kristus sebagai kematian yang penuh kemuliaan dan keagungan kuasa Tuhan Allah, walaupun Ia tiada henti menerima siksaan dan menderita lahir dan batin.

Sekarang apa yang harus kita maknai dan berlakukan dalam hidup ini sebagai orang percaya yang telah ditebus dan dibenarkan Tuhan Allah melalui penderitaan dan kematian Anak-Nya? Pertama, seandainya kita berada di sekitar penyaliban Yesus Kristus, barangkali kita akan berkata, saya akan pasang badan demi membela Yesus Kristus. Saya akan terus bersama-Nya. Tetapi jika kita ingat Petrus, ia adalah orang yang sangat yakin dapat "membela" Gurunya. Tapi akhirnya apa? Bahkan semua orang yang dekat dengan-Nya bersembunyi ketika la ditangkap dan disalibkan. Mazmur 88:19: "Telah Kaujauhkan dari padaku sahabat dan teman, kenalan-kenalanku adalah kegelapan." Karena itu, marilah kita tetap tinggal di dalam Dia dan memelihara firman-Nya dalam hidup kita dalam keadaan susah atau senang. Sebab Yesus Kristus selalu sedia memberi kita keberhasilan. "Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu,
mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya." Yohanes 15:7

Kedua. Jumat agung mendorong kita untuk menyesali dosa dan bertobat. Yesus Kristus selalu sedia menanti pertobatan kita selagi masih ada waktu. Jumat Agung adalah Yesus Kristus rela mengorbankan apa yang paling berharga dari-Nya yakni nyawa-Nya sendiri demi saudara dan saya.

Janganlah kita menjauh daripada-Nya. Sebab Yesus Kristus telah menjadi Imam Agung sekali dan selama-lamanya. Menjauh dari-Nya berarti kita menjauh dari penebusan-Nya. Amin.

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN :
HARI JUMAT AGUNG

NYANYIAN YANG DIUSULKAN :
Persiapan : KJ. No. 170 Kepala Yang Berdarah
Ses. Nas Pembimbing : NKB. No. 83 Nun Di Bukit Yang Jauh
Pengakuan Dosa : KJ. No. 157 Insan Tangisi Dosamu
Pemberitaan Anugerah Allah : KJ. No.169 Memandang Salib Raja-Mu
Ajakan Untuk Mengampuni : NNBT No.8 Banyak Orang Suka Diampuni
Persembahan : NKB. No. 84 'Ku B'rikan Bagimu Tubuh-Ku, Darah-Ku
Nyanyian Penutup : KJ. No. 183 Menjulang Nyata

ATRIBUT
Warna Dasar Hitam dengan Simbol Cawan dan pinggan roti warna putih.

Editor : Aprilia Sahari
#Jumat Agung #GMIM #Renungan GMIM