Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Bina Remaja GMIM 13-19 April 2025, Yohanes 19:16b-27 Tersalib Dengan Tulisan: Yesus Orang Nazaret Raja Orang Yahudi

Aprilia Sahari • Jumat, 11 April 2025 | 06:00 WIB
LOGO REMAJA GMIM.
LOGO REMAJA GMIM.

Bacaan Alkitab: Yohanes 19:16b-27
Tema: "Tersalib Dengan Tulisan: Yesus Orang Nazaret Raja Orang Yahudi"

Kakak-kakak pembina dan adik-adik remaja yang dikasihi Tuhan Yesus, apa yang kita bayangkan saat memikirkan tentang seorang raja? Biasanya kita akan mengaitkan seorang raja dengan keagungan dan kemegahan, dan itu benar adanya. Raja-raja di dunia di sepanjang sejarah manusia tidak dapat dilepaskan dari kebesaran yang melekat padanya, yang membuat rakyatnya tunduk kepadanya. Namun, bagaimana bila seorang raja itu adalah raja yang menderita ? Hal ini tidak dapat dibayangkan oleh siapa pun. Itulah yang nyata pada diri Yesus.

Sejak permulaan pelayanan Yesus, banyak orang memiliki ekspektasi terhadap-Nya, termasuk Pilatus. Ekspektasi Pilatus nyata di dalam pertanyaannya kepada Yesus, "Engkau inikah raja orang Yahudi?" (Yoh. 18:33). Yesus sendiri telah menjawab pertanyan ini, namun tidak untuk memuaskan keingintahuan Pilatus, melainkan menyatakan kebenaran tentang diri-Nya yang tidak dapat dipahami oleh manusia. Yesus berkata kepada Pilatus, "Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku" (Yoh. 18:37). Kebenaran tentang diri Yesus sebagai Raja yang menderita adalah kebenaran yang dimaksud Yesus.

Desakan imam-imam kepala dan orang banyak yang meminta agar Yesus disalibkan akhirnya tidak dapat ditolak oleh Pilatus. Pilatus menyerahkan Yesus kepada mereka untuk disalibkan. Maka dimulailah via dolorosa Yesus menuju sebuah tempat di luar Yerusalem yang bernama Tempat Tengkorak (dalam bahasa Ibrani: Golgota; dalam bahasa Latin: Kalvari). Saat raja-raja lain duduk di atas takhta, Yesus Raja yang menderita itu akan dinaikkan ke atas kayu salib. Apa yang dijalani Yesus sebagai Raja yang menderita sekaligus menunjukkan hal yang ditanggung-Nya, yakni kutuk. Hukuman mati dengan cara disalibkan menunjuk pada kutukan (bnd. Gal. 3:13).

Memikul sendiri salib menuju tempat penyaliban melengkapi hinaan dan kutukan yang harus ditanggung-Nya. Yesus telah mengalami cambukan berulang kali ke tubuh-Nya, dan dalam keadaan tubuh yang penuh luka itu Dia harus memikul kayu salib-Nya sendiri. Yesus yang memikul kayu salib-Nya menuju sebuah tempat di luar Yerusalem, kota yang dipandang suci itu, menjadikan hukuman-Nya dalam artian yang penuh bahwa Dia terkutuk.

Yesus bukan hanya dipandang terkutuk, namun Dia dipandang juga sebagai seorang penjahat dan kriminal, sehingga Dia disalibkan di tengah-tengah dua orang yang adalah penyamun (bnd. Mat. 27:38). Yesus yang disalibkan di tengah-tengah memiliki signifikansi dalam hal bahwa Dia dibedakan dari dua orang lainnya. Pilatus telah menyuruh memasang tulisan di atas kayu salib Yesus yang berbunyi: "Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi." Alkitab mengatakan bahwa tulisan itu dibaca dan dimengerti oleh banyak orang sebab kata-kata itu tertulis dalam bahasa Ibrani, bahasa Latin dan bahasa Yunani. Apa yang tidak dapat dimengerti oleh banyak orang tersebut adalah bahwa Yesus memang Raja yang sesungguhnya, Raja yang menderita. Mereka semua tidak dapat memahami bahwa lewat penderitaanlah Yesus menyatakan kemuliaan dan kekuasaan-Nya.

Tulisan di atas kayu salib itu sendiri telah menyinggung para imam kepala Yahudi. Merela meminta Pilatus menambahkan keterangan bahwa Yesuslah yang mengatakan "Aku adalah Raja orang Yahudi." Mereka tidak dapat menerima bahwa Raja orang Yahudi dan harapan bagi Israel adalah seorang yang mati tersalib. Penolakan Pilatus pada permintaan imam-imam kepala tersebut menegaskan kebenaran bahwa Yesuslah Raja dalam pemahaman yang sebenarnya, bukan seperti
tuntutan orang-orang. Penderitaan Yesus di atas kayu salib dilanjutkan dengan episode para prajurit yang mengambil dan membagi pakaian-Nya menjadi empat bagian, juga mengundi jubah Yesus. Hal ini menunjuk pada penggenapan dari nubuatan Kitab Suci tentang apa yang harus dialami Mesias yang menderita itu (lihat Mazmur 22:19).

Tulisan di atas kayu salib itu menunjuk pada identitas Yesus sebagai Raja yang menderita, sebuah identitas yang tidak dapat diterima oleh banyak orang ketika membayangkan tentang figur raja. Raja yang dinanti-nantikan itu, harapan bagi pemulihan Israel, memanglah Raja yang menderita. Mahkota-Nya bukanlah mahkota emas, melainkan mahkota duri. Saat banyak orang menolak-Nya, adakah kita menerima-Nya? Alkitab menyebut dalam ayat 16 bahwa mereka menerima Yesus, namun bukan menerima-Nya karena percaya, melainkan menerima Yesus yang diserahkan Pilatus untuk disalibkan. Bila kita mau menerima Dia, kita dipanggil untuk percaya dan menderita bersama-sama dengan Dia. Penderitaan adalah satu-satunya jalan yang harus ditempuh Yesus demi tujuan keselamatan manusia berdosa. Dia menjadi kutuk demi membebaskan manusia berdosa dari kutuk dosa. Maka, orang-orang yang diselamatkan-Nya mengikut Dia di jalan penderitaan itu karena kesadaran telah diselamatkan dan demi memberitakan keselamatan itu pada dunia. "Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya" (1 Petrus 2:21).

Kakak-kakak pembina dan adik-adik remaja, apakah respons kita kepada Yesus, Raja yang menderita itu? Apakah kita malu terhadap-Nya ataukah sama seperti Paulus kita dengan berani menyatakan, "Sebab, aku tidak malu terhadap Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya" (Roma 1:16, TB2). Biarlah kita yang percaya kepada-Nya dan mensyukuri karya sengsara dan kematian-Nya, mau mengikuti teladan penderitaan-Nya. Itu berarti kita yang diutus ke tengah dunia ini, menjadi terang bagi dunia yang gelap, dan bukannya menjadi sama dengan dunia yang sementara hanyut dalam kenikmatan dosa. Itu juga berarti kita meneladani karakter Yesus yang penuh kasih. Alkitab menunjukkan bahwa bahkan sampai ke atas kayu salib, Yesus masih mengingat ibu-Nya dalam kasih-Nya, yakni dengan menempatkan ibu-Nya dalam penerimaan dan perawatan murid yang dikasihi-Nya. Yesus mengerti gejolak yang dialami ibu-Nya dan Yesus tidak membiarkan ibu-Nya menghadapi segala sesuatu sendirian. Kasih Yesus tetap ada bagi ibu-Nya dan bagi murid-murid-Nya dan penderitaan-Nya di atas kayu salib itu membuktikan kasih-Nya, bahkan bagi kita semua.

Menanggapi teladan penderitaan dan kasih-Nya, apakah tindakan konkrit kita sebagai kakak-kakak pembina dan remaja Kristen? Amin.

Editor : Aprilia Sahari
#Bina Remaja #Remaja GMIM #GMIM #Renungan GMIM