Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan Matius 27:45-46, Ibadah Jumat Agung, Yesus Menyerahkan Nyawa-Nya, Tabir Bait Suci Terbelah Dua

Clavel Lukas • Selasa, 15 April 2025 | 11:23 WIB

Ilustrasi Alkitab.
Ilustrasi Alkitab.

Kitab Matius merupakan Injil pertama dalam Perjanjian Baru dan secara umum diyakini ditulis oleh Matius, seorang pemungut cukai yang menjadi murid Yesus.

Injil ini ditulis dengan tujuan utama untuk menunjukkan bahwa Yesus adalah Mesias yang dinubuatkan dalam Perjanjian Lama.

Karena itu, Matius sering kali mengutip nubuat-nubuat dan menunjukkan bagaimana semuanya digenapi dalam diri Yesus.

Dalam pasal 27, kita sampai pada titik klimaks kisah penebusan: penyaliban dan kematian Yesus Kristus.

Di tengah-tengah penderitaan-Nya yang luar biasa, Matius mencatat dua peristiwa besar yang mengguncang langit dan bumi:

kegelapan yang menyelimuti seluruh negeri, dan seruan Yesus yang menyayat hati: "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?".

Tak lama setelah itu, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas ke bawah (ayat 51), yang menandakan perubahan besar dalam hubungan antara Allah dan manusia.

Tema ini mengajak kita bukan hanya merenungkan penderitaan Kristus, tetapi juga karya penebusan besar yang terjadi melalui kematian-Nya, dan akses langsung yang kini terbuka antara manusia dan Allah.

Ayat 45: Kegelapan Menyelimuti

“Mulai dari jam dua belas kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga.”

Kegelapan selama tiga jam ini bukanlah fenomena alam biasa. Ini adalah tanda penghakiman ilahi. Dalam konteks Yahudi, kegelapan sering dikaitkan dengan murka Allah (lihat Amos 8:9-10).

Di sini, Yesus menanggung murka Allah sebagai korban penghapus dosa. Ia berdiri di tempat kita, sebagai pengganti kita.

Dunia kita juga berada dalam "kegelapan" – moralitas merosot, kebenaran ditukar dengan kebohongan, dan ketidakadilan menjadi kebiasaan.

Namun, kegelapan ini bukan akhir. Dalam salib Kristus, kita menemukan terang pengharapan.

Ayat 46: Seruan Penderitaan: “Mengapa Engkau Meninggalkan Aku?”

“Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: 'Eli, Eli, lama sabakhtani?' Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”

Ini adalah satu-satunya kali Yesus memanggil Allah dengan "Allah-Ku", bukan "Bapa". Ini mencerminkan pemisahan relasional akibat Ia memikul dosa dunia (Yesaya 53:4-6). Yesus tidak ditinggalkan karena lemah, tetapi karena Ia memikul hukuman kita.

Yesus mengutip Mazmur 22, bukan sekadar dalam keputusasaan, tapi juga sebagai penggenapan nubuat dan sebagai kesaksian bahwa penderitaan-Nya adalah bagian dari rencana ilahi.

 Banyak orang merasa "ditinggalkan" oleh Allah dalam penderitaan. Namun Yesus memahami penderitaan itu.

Ia telah mengalaminya. Dalam Kristus, kita tidak pernah benar-benar ditinggalkan—Ia hadir bahkan dalam keheningan doa yang tak terjawab.

 

PENUTUP RENUNGAN

Apa sebenarnya makna dari tema ini bagi kita hari ini?

1. Penyerahan Yesus adalah bentuk kasih tertinggi

Yesus menyerahkan nyawa-Nya, bukan karena dipaksa atau karena kalah. Ia memberikan hidup-Nya demi kita. Ini bukan tindakan pasif, tapi aktif: Ia memilih salib demi kasih-Nya kepada kita.

Di tengah dunia yang penuh dengan cinta palsu dan pengorbanan yang bersyarat, salib Yesus mengajarkan bahwa cinta sejati itu rela menderita dan memberi diri sepenuhnya.

2. Tabir yang terbelah adalah tanda hubungan baru dengan Allah

Tak ada lagi penghalang. Tak ada lagi batasan suku, kelas, atau dosa masa lalu. Dalam Kristus, kita diterima sepenuhnya oleh Allah.

Poin penting:

3. Undangan untuk hidup sebagai umat yang ditebus

Kematian Yesus bukan hanya untuk menyelamatkan kita dari dosa, tetapi juga untuk memampukan kita hidup bagi Allah dan sesama. Kita dipanggil untuk:

Ajakan Pribadi

Hari ini, Allah sedang membuka tangan-Nya kepada setiap kita. Tabir telah terbelah. Jalan sudah dibuka. Satu-satunya penghalang yang tersisa mungkin hanya hati kita sendiri.

Maukah engkau datang dan masuk dalam hadirat-Nya?

Maukah engkau menerima kasih yang rela mati bagimu?

Maukah engkau menjalani hidup sebagai orang yang telah ditebus dan diundang masuk ke hadirat Allah yang kudus?

Yesus sudah menyerahkan nyawa-Nya. Ia tidak setengah hati. Maka marilah kita juga tidak setengah hati dalam mengikut-Nya.

Mari kita hidup sebagai umat yang telah melihat tabir terbelah—yang telah menyaksikan dan mengalami kasih Allah yang sempurna.

"Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan." (Ibrani 10:14)

Amin.

Editor : Clavel Lukas
#Jumat Agung #Matius #khotbah #GMIM #Renungan