Kitab Yohanes ditulis oleh Rasul Yohanes, murid yang sangat dikasihi Yesus, dengan tujuan agar setiap orang percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah.Dan bahwa oleh iman kepada-Nya, kita memperoleh hidup dalam nama-Nya (Yohanes 20:31).
Berbeda dari ketiga Injil sinoptik (Matius, Markus, Lukas), Yohanes menyajikan Injil dengan lebih teologis dan reflektif. Fokus Yohanes bukan hanya pada peristiwa, tetapi pada makna rohaninya.
Dalam pasal 20, kita memasuki inti dari seluruh Injil: Yesus telah bangkit! Kebangkitan adalah pusat Injil.
Tanpa kebangkitan, kematian Yesus di kayu salib tidak memiliki kuasa pengampunan dan pengharapan kekal (1 Korintus 15:17). Maka tema kita hari ini adalah pengakuan dan ajakan:
"Yesus Bangkit Dari Antara Orang Mati, Percayalah!"
Baca Juga: Materi Khotbah Yohanes 20:1–10, Yesus Bangkit Dari Antara Orang Mati, Percayalah
Pembahasan Ayat per Ayat (Yohanes 20:1-10)
Ayat 1 – “Pada hari pertama minggu itu... Maria Magdalena pergi ke kubur pagi-pagi benar, ketika hari masih gelap...”
Maria datang dalam duka dan kesedihan, pikirannya masih pada Yesus yang wafat. Ia tidak datang dengan harapan kebangkitan, tetapi dengan beban kehilangan.
Realitas kubur kosong menjadi kejutan besar. Dalam hidup kita juga sering kali, pengharapan sirna digantikan oleh realitas kuasa Allah yang tak terduga.
Ayat 2 – “...mereka telah mengambil Tuhan dari kubur dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan.”
Maria belum mengerti bahwa Yesus bangkit. Ia menyangka tubuh-Nya dicuri. Reaksi ini menggambarkan keterbatasan pengertian manusia.
Bahkan ketika sedang berhadapan dengan karya agung Allah. Banyak orang Kristen juga demikian—melihat tanda-tanda Allah, tapi tidak memahami kuasa-Nya.
Ayat 3-4 – “Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain (Yohanes)... mereka berlari bersama-sama.”
Kegembiraan dan kekhawatiran membuat mereka berlari. Yohanes lebih cepat tetapi tidak langsung masuk. Ini menunjukkan rasa hormat dan kebingungan.
Kehidupan rohani kita pun sering ditandai oleh kerinduan yang besar, namun kadang masih ditahan oleh rasa takut atau kurangnya pengertian.
Ayat 5-7 – “Ia menjenguk ke dalam dan melihat kain kafan terletak di tanah... dan kain peluh yang tadinya ada di kepala-Nya tidak terletak dekat kain kafan itu...”
Detail ini penting secara teologis. Jika Yesus dicuri, mustahil kain-kain itu ditinggalkan rapi.
Yohanes sedang menunjukkan bahwa tidak ada kekacauan atau tanda pencurian. Kebangkitan Yesus bukan sekadar tubuh yang hilang, tapi tubuh yang bangkit dalam kemuliaan.
Ayat 8 – “Maka masuklah juga murid yang lain... dan ia melihatnya dan percaya.”
Yohanes melihat dan percaya. Inilah panggilan utama Injil Yohanes: percaya. Percaya bukan karena bukti yang lengkap, tapi karena iman kepada janji dan firman Tuhan.
Ayat 9 – “Sebab selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci...”
Iman sejati harus berakar dalam pemahaman firman. Tanpa pemahaman Kitab Suci, pengertian kita tentang kebangkitan akan dangkal.
Gereja—dan kaum bapak dalam P/KB GMIM—dipanggil untuk menggali Alkitab lebih dalam, agar iman kita tidak hanya emosional tetapi teologis dan kuat.
Ayat 10 – “Lalu pulanglah kedua murid itu ke rumah.”
Mereka kembali, namun dengan perasaan dan pemahaman yang berbeda. Kubur kosong telah mengubah segalanya.
Hari itu, sejarah dunia berubah selamanya. Bukan lagi kematian yang menang, melainkan kehidupan kekal!
Penutup:
Bapak-bapak yang terkasih dalam Tuhan, tema ini bukan sekadar kisah Paskah, tetapi dasar hidup Kristen kita sehari-hari.
Kebangkitan Kristus bukan hanya sejarah, tetapi:
Kemenangan atas maut dan dosa.
Jaminan pengharapan kekal bagi kita.
Kuasa pembaruan dalam hidup saat ini.
Percayalah! Percaya berarti:
Menyerahkan diri sepenuhnya kepada Yesus yang hidup.
Meninggalkan hidup lama, dan mengenakan hidup baru.
Menjadi saksi kebangkitan dalam keluarga, jemaat, dan masyarakat.
Poin-Poin Penting untuk Diingat
Tanpa kebangkitan, salib hanyalah tragedi.
Dengan kebangkitan, hidup kita memiliki tujuan dan akhir yang mulia.
Iman kepada Yesus yang bangkit memberi keberanian, keteguhan, dan pengharapan.
Ajakan:
Sebagai pria dan kepala keluarga:
Jadilah teladan iman yang mempercayai kebangkitan Kristus bukan hanya dalam ucapan, tapi dalam hidup sehari-hari.
Bangkitkan iman keluarga dengan menghidupi kuasa kebangkitan dalam pekerjaan, pelayanan, dan kehidupan rumah tangga.
Ajarkan anak dan cucu bahwa Yesus hidup dan menyertai kita setiap hari.
“Yesus telah bangkit dari antara orang mati, dan karena itu kita tidak lagi hidup dalam ketakutan, tetapi dalam kuasa-Nya yang memberi hidup.”
Mari kita percaya, hidup dalam terang kebangkitan, dan menjadi saksi bahwa Yesus sungguh hidup!
Amin.
Editor : Clavel Lukas