ALASAN PEMILIHAN TEMA
Sadar atau tidak, orang percaya sering mengabaikan Tuhan Allah dan bersandar pada kekuatan diri sendiri serta kepada ilah lain, atau pada idol atau ilahilah yang berbentuk: materialisme, individualisme dan hedonisme.
Paham-paham ini telah mempengaruhi dan mengendalikan tujuan hidup manusia. Bentuk mengilahkan kekuatan lain juga nampak ketika orang percaya menghadapi pergumulah sakit, mencari pekerjaan, mencari jodoh, kelancaran bisnis dan lain sebagainya.
Mereka cenderung memilih mencari dukun, paranormal dan orang yang dianggap pintar untuk mendapatkan solusi dari masalah yang sementara dihadapi. Sikap seperti yang disebutkan di atas, dapat dilihat sebagai bentuk ketidaktaatan dan ketidaksetiaan kepada Tuhan Allah.
Sebab tidak boleh ada sesuatu pun, baik benda, orang, maupun ambisi, di tempatkan pada posisi yang lebih tinggi dari pada Tuhan Allah. Sebab Ia tidak menghendaki sikap memperilah manusia, harta, benda, status dan semua pencapaian tujuan hidup dengan cara mengutamakan hal-hal lain di luar kehendak-Nya.
Kenyataan sekarang ini menunjukan adanya kecenderungan di mana prinsip hidup, hasrat pencapaian sesuatu, hobi, pekerjaan dan lain sebagainya, telah dijadikan hal yang pertama dan utama, yang cenderung menggantikan posisi Tuhan Allah.
Padahal penting bagi orang percaya untuk dapat mengambil keputusan yang benar, yaitu menempatkan Tuhan sebagai satu-satunya Allah. Teks bacaan kita minggu ini direnungkan di bawah tema “Tuhan Satu-satunya Allah.”
Baca Juga: Renungan Yesaya 44:1–8, Tuhan Satu-Satunya Allah
PEMBAHASAN TEMATIS
Pembahasan Teks Alkitab (Eksegese) Kitab Yesaya terbagi atas tiga bagian. Bagian pertama, pasal 1-39 (Proto Yesaya), ditujukan kepada umat Tuhan antara tahun 740 SM s/d 700 SM, di mana nabi pada waktu itu menentang raja Yehuda yang bersekutu dengan Mesir dalam menghadapi ancaman Asyur.
Bagian kedua, pasal 40-55 (Deutero Yesaya), ditujukan kepada orang buangan di Babel, sekitar tahun 550 SM. Setelah dihancurkannya bait Allah di Yerusalem oleh Nebukadnezar, ada sebagian umat yang beranggapan bahwa Tuhan tidak cukup kuat melindungi mereka dari ancaman.
Oleh karena itu, nabi mewartakan tentang kemahakuasaan Tuhan yang mampu mengerjakan rencana penyelamatan-Nya, termasuk di Babel sekalipun. Bagian ketiga, pasal 56-66 (Trito Yesaya), ditujukan kepada umat yang telah pulang dari pembuangan.
Dengan demikian, teks bacaan Yesaya 44:1-8 termasuk dalam Yesaya bagian kedua yang berisi tentang penegasan Tuhan sebagai satu-satunya Allah yang sejati dan kedaulatan-Nya atas umat pilihan-Nya. Pada ayat 1 ada ajakan kepada umat Israel untuk mendengar (Ibrani: syama, artinya mendengar, memperhatikan, mengerti dan taat melakukan).
Status umat Tuhan akan dipulihkan dan mereka mendapat tiga nama panggilan Yakub hamba-Ku, Israel yang telah kupilih, dan Yesyurun. Sebutan Yakub, hamba-Ku, mengandung arti mereka adalah umat pilihan Allah sejak dari nenek moyang mereka Abraham,Ishak dan Yakub.
Pemilihan Tuhan Allah kepada Israel yang sudah dari awal kehidupan, yaitu sejak dijadikan dan dibentuk dalam kandungan dipertegas lagi dalam ayat 2. Tetapi ada hal yang menjauhkan hubungan antara umat dengan Tuhan Allah yaitu, ketakutan menghadapi kekuatan penguasa di Babel dan ketakutan akibat perbuatan umat sendiri karena tabiat buruk mereka di hadapan-Nya.
Nama Yesyurun adalah sebuah gelar langka bagi Israel yang berarti orang jujur dan tulus hati (band Ul 32:15, 33:5, 26). Hal ini sejajar dengan ungkapan ‘hai Yakub hamba-Ku.’ Maksud dari pemberian nama Yesyurun adalah umat Tuhan yang mengalami krisis spiritual dikembalikan lagi pada hubungan yang penuh kasih dan identitas sebagai hamba dan umat pilihan.
Tuhan Allah yang penuh kasih karunia menyebut umat-Nya yang penuh dosa sebagai umat yang sangat dikasihi-Nya, umat-Nya yang jujur dan tulus hati.
Pada ayat 3, tindakan Tuhan Allah dibahasakan secara indah dengan ‘Aku akan mencurahkan air ke atas tanah yang haus, hujan lebat ke atas tempat yang kering, dan mencurahkan Roh-Ku ke atas keturunanmu.’
Tuhan Allah sungguh-sungguh menjamin masa depan umat yang berada dalam pembuangan, yang meliputi jaminan tanah yang subur dan jaminan keberkelanjutan generasi. (bnd. Kej. 12:3).
Roh Tuhan juga dicurahkan untuk memberi makna pembaharuan perilaku yang akan membawa pada kehidupan. Sebagaimana air dicurahkan ke tanah yang kering akan membawa harapan untuk hidup, demikian juga dengan Roh Tuhan yang dicurahkan kepada keturunan Israel akan membawa pembaharuan spiritual kehidupan bagi anak cucu Israel.
Terpeliharanya anak cucu digambarkan pada ayat 4 yaitu mereka akan tumbuh seperti rumput di tengah air yang melambangkan kesuburan dan kemakmuran. Dengan demikian anak cucu Israel terhubung dengan berkat Tuhan Allah.
Anak cucu Israel yang terpelihara akan terus bertambah serta akan menjadi bangsa yang besar. Pembuangan di Babel bukan berarti berakhirnya generasi atau matinya bangsa Israel, karena apa yang dianggap akan mati oleh orang Israel, akan dapat hidup oleh Tuhan Allah.
Bagaikan akar rumput yang terhubung dengan air dan seperti pohon Gandarusa. Sifat pohon ini cepat dapat bertunas, bercabang dan mengeluarkan ranting yang banyak. Hal yang sama berlaku atas Israel, bahwa mereka mendapat berkat dengan keturunan bertambah banyak, tetapi juga berada dalam pemeliharaan Tuhan Allah.
Israel yang bangga sebagai umat Tuhan, maka lahirlah pengakuan: Aku kepunyaan Tuhan dalam ayat 5. Namun yang mengaku sebagai umat Tuhan bukan hanya umat keturunan Yakub, tetapi ada yang menyebut diri sebagai Yakub dan Israel, yaitu bangsa-bangsa lain.
Ini terlihat melalui penggunaan kalimat menyebut dirinya dengan nama Yakub, dan yang menuliskan pada tangannya kepunyaan Tuhan. Jika pada ayat 5 Israel memproklamasikan bahwa mereka adalah kepuyaan Tuhan, maka pada ayat 6, Tuhan memproklamasikan diri-Nya sebagai Raja, Penebus Israel dan Tuhan semesta alam.
Sebagai Raja berarti Tuhan memiliki kedaulatan untuk membebaskan umat-Nya. Sebagai Penebus berarti Tuhan sebagai penolong Israel (band pasal 41:14) dan sebagai Tuhan semesta alam berarti Tuhan dapat melakukan pertolongan di manapun dan kapanpun.
Istilah terdahulu dan terkemudian mempertegas bahwa kekuasaan Tuhan Allah mencakup semua keberadaan dari awal sampai akhir dan tak terbatas oleh lintasan sejarah.
Sebagai yang terdahulu dan terkemudian memberi penegasan bahwa tidak ada Tuhan Allah sudah ada sebelum segala sesuatu ada dan yang masih akan tetap ada ketika segala sesuatu tidak ada lagi.
Keistimewaan Tuhan Allah dalam ayat 7, dibahasakan dengan pertanyaan, ‘Siapakah seperti Aku?’ Tidak ada allah manapun yang dapat dibandingkan dengan Tuhan Allah, termasuk dewa Bel (band pasal 46:1), yang dipercaya sebagai ilah/dewa orang Babel.
Suatu tantangan diberikan yaitu, siapa yang sama dengan Tuhan Allah supaya dapat membuktikan diri, terutama bukti yang diminta adalah mengabarkan dari dahulu kala hal-hal yang akan datang.
Ternyata ilah-ilah lain itu tidak mampu memberi bukti dan terbukti hanya Tuhan Allah yang berkuasa mengendalikan sejarah (band pasal 41:22-23). Anggapan bahwa ada banyak allah ditolak, dengan dipertegasnya Tuhan Allah itu satu, yaitu Allah Israel.
Dalam ayat 8 dikatakan, ‘jangan gentar dan jangan takut,’ menjadi penguatan kepada umat Tuhan yang berada di pembuangan supaya tidak takut dan menaruh harap hanya kepada-Nya saja.
Kekuasaan Babel tidak dapat mengikat dan menekan umat Tuhan selamanya dan bukan Babel yang akan membebaskan mereka, melainkan hanya Tuhan Allah. Hal tersebut sudah sejak dahulu telah disampaikan kepada umat Israel.
Terhadap hal ini, bangsa Israel dipanggil menjadi saksi tentang tidak adanya ilah lain selain Tuhan Allah Israel, maka tidak ada Gunung Batu yang lain, tidak ada dasar iman lain yang sedemikian kokoh seperti Tuhan Allah.
MAKNA DAN IMPLIKASI FIRMAN.
1. Setiap orang percaya harus menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya Allah. Sikap percaya ini meliputi pengakuan akan Tuhan Allah yang berdaulat, serta menyaksikan kedaulatan-Nya ke dalam kehidupan sehari-hari dengan menjadikan Tuhan Allah sebagai prioritas utama dalam semua aspek kehidupan.
2. Setiap orang percaya harus bersikap tegas menolak segala bentuk penyembahan kepada ilah-ilah lain dalam segala bentuknya. Masih ada orang percaya menganggap, bahwa ada kekuatan di balik batu besar, pohon besar, di gunung-gunung dan lain sebagainya.
Tuhan Allah adalah otoritas satu-satunya melampaui segala otoritas yang ada di dunia, karena itu hidup orang percaya harus berada di bawah otoritasNya.
3. Orang percaya kiranya tetap menjalani kehidupan sehari-hari dengan tidak menjadi materialistis, tidak menjadikan kesenangan dan kepuasan diri sebagai prioritas utama sehingga menjadi hedonistis dan individualistis.
Janganlah meragukan kuasa Tuhan Allah dengan pergi mencari perlindungan dan pertolongan pada yang memiliki kekuatan tertentu. Sebab, menjadikan hal-hal lain sebagai ilah selain Tuhan Allah adalah dosa.
4. Kasih Tuhan Allah itu tanpa batas, sebab walaupun identitas sebagai umat pilihan telah dirusak karena dosa, tetapi Ia tetap berinisiatif untuk memulihkan. Tuhan Allah memiliki kemampuan tak terbatas untuk membuat datangnya kehidupan baru walaupun dari tempat kering sekalipun.
Dikiaskan dengan kesuburan bagi tanah dan terpeliharanya anak cucu. Hal inilah yang dapat menjadi landasan terhadap tanggungjawab orang percaya dalam pelestarian lingkungan hidup di mana pada setiap tanggal 5 Juni diperingati sebagai Hari Lingkungan Hidup.
5. Keselamatan Tuhan Allah universal, terbuka bagi semua orang yang telah dinyatakan secara sempurna oleh Yesus Kristus. Panggilan bagi Gereja masa kini adalah untuk mengabarkan keselamatan kepada semua ciptaan sehingga akan banyak orang mengaku bahwa Tuhan Allah dalam Yesus Kristus adalah Yang Awal dan Yang Akhir.
PERTANYAAN UNTUK DISKUSI:
1. Apa yang dimaksud “Tuhan satu-satunya Allah” menurut Yesaya 44:1-8?
2. Mengapa masih ada orang percaya dalam kehidupan sehari-hari menunjukkan sikap percaya kepada ilah lain? Jelaskan dan berikan contoh.
3. Bagaimana seharusnya sikap hidup yang menggambarkan bahwa, Tuhan adalah satunya-satunya Allah?
NAS PEMBIMBING: Yohanes 17:3
POKOK-POKOK DOA:
1. Gereja di dalamnya orang percaya waspada terhadap penyesatan zaman ini melalui penyembahan berhala modern.
2. Gereja tetap setia kepada Tuhan Allah di tengah-tengah masa kesukaran, sambil tetap berpengharapan pada pertolongan-Nya.
3. Gereja bertanggungjawab pada pelestarian lingkungan hidup, dalam keyakinan bahwa lingkungan hidup adalah milik Tuhan Allah.
TATA IBADAH YANG DIUSULKAN: HARI MINGGU BENTUK I
NYANYIAN YANG DIUSULKAN:
Panggilan Beribadah: KJ No.60 “Hai Makhluk Alam Semesta”
Nas Pembimbing: KJ No.396 “Yesus Segala-galanya”
Pengakuan Dosa: NKB No.13, “O Allahku Jenguklah Diriku”
Pemberitaan Anugerah Allah: KJ No.362, “Aku Milikmu Yesus Tuhanku”
Ses Hukum Tuhan: NNBT No. 34 “Tuhanlah Perlindunganku”
Ses Pembacaan Alkitab KJ. No. 49 “Firman Allah Jayalah”
Persembahan: KJ. No. 450 “Hidup Kita Yang Benar”
Nyanyian Penutup: NKB. No. 194 “Kau Tetap Tuhanku, Yesus”
ATRIBUT
Warna Dasar Merah dengan Simbol Salib dan Lidah api
Editor : Clavel Lukas