Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Upus Ni Mama GMIM 29 Juni-5 Juli 2025, Ulangan 4:1-14 Jadilah Umat Yang Bijaksana dan Berakal Budi Dengan Berpegang Pada Perintah Tuhan

Aprilia Sahari • Selasa, 24 Juni 2025 | 09:31 WIB
LOGO WKI GMIM
LOGO WKI GMIM

Upus Ni Mama GMIM 29 Juni - 5 Juli 2025
Bacaan Alkitab : Ulangan 4:1-14
Tema : "Jadilah Umat Yang Bijaksana dan Berakal Budi Dengan Berpegang Pada Perintah Tuhan"

Ibu-lbu yang dikasihi dan diberkati Tuhan Yesus,
Firman Tuhan bagi kita di minggu terakhir bulan pekabaran Injil dan pendidikan Kristen GMIM, hendak memberi edukasi tentang betapa pentingnya menjadi umat yang bijaksana dan berakal budi dengan berpegang pada perintah Tuhan, berdasarkan kitab Ulangan 4:1-14.

Kitab Ulangan dimulai dengan mengatakan, "Inilah perkataan yang diucapkan Musa kepada seluruh Israel di seberang sungai Yordan di padang gurun.... Terjadilah pada tahun keempat puluh, bulan kesebelas, pada hari pertama bulan itu, Musa berbicara kepada orang Israel sesuai dengan segala perintah yang diberikan TUHAN kepadanya kepada mereka" (1:1,3). Kalimat ini memberi gambaran umum bahwa kitab Ulangan berisikan narasi di mana Musa menceritakan ulang peristiwa-peristiwa yang membawa Israel ke tepi sungai Yordan, bagaimana kesiapan bangsa Israel untuk menyeberangi sungai Yordan dan merebut Tanah Perjanjian. Dari narasi tersebut, di pasal 4 bacaan kita, Musa memberi nasihat kepada bangsa Israel untuk memelihara hukum Allah. Ayat 1a "Maka sekarang, hai orang Israel, dengarlah ketetapan dan peraturan yang kuajarkan kepadamu untuk dilakukan". Ayat ini menjadi kalimat pembuka untuk disimak umat dengan baik, karena mereka dikenal sebagai bangsa yang tegar tengkuk. Ketika Musa menggunakan keterangan waktu "sekarang", itu berarti mendengar untuk taat bukan persoalan nanti, tetapi sekarang waktunya, tidak boleh ditunda. Hal yang sama pun mengingatkan kita, untuk tidak menunda apa yang bisa dikerjakan pada hari ini. Ketetapan dan Peraturan Allah yang harus dipatuhi umat, dirinci dengan jelas oleh Musa dalam Ulangan pasal 5 — 26. Tujuan adalah "supaya kamu hidup dan memasuki serta menduduki negeri yang diberikan kepadamu oleh Tuhan, Allah nenek moyangmu" (lih.ay. 1b). Bangsa Israel adalah yang dipilih dan diikat dengan perjanjian oleh Allah, sejak Abram (Kejadian 12:1-3). Sebagai bangsa perjanjian, mereka dituntut untuk menaati Allah, dan akibat dari ketaatan itu mereka akan dibawa masuk ke tanah perjanjian, tapi jika gagal, mereka tidak mendapatkan apa-apa. Selanjutnya, Musa memberi penegasan di ayat 6" Lakukanlah itu dengan setia, sebab itulah yang akan menjadi kebijaksanaanmu dan akal budimu di mata bangsa-bangsa yang pada waktu mendengar segala ketetapan ini akan berkata: Memang bangsa yang besar ini adalah umat yang bijaksana dan berakal budi". Kebijaksanaan dan akal budi sebagai pemberian Allah itu, menjadikan mereka menonjol di antara bangsa-bangsa lain yang ada di sekitar. Tuhan memilih Israel berdasarkan kasih karunia-Nya, serta memberikan hak yang istimewa. Ketika dikatakan Israel sebagai bangsa yang besar, umat yang bijaksana dan berakal budi, tidak hanya sekedar memberikan penghargaan dan pengakuan terhadap status Israel, agar kemudian mereka diperlakukan sebagai bangsa yang terhormat, tetapi lebih dalam lagi maknanya yaitu melalui kehidupan umat Israel, Tuhan Allah Mahabesar tersaksikan kepada bangsa-bangsa lain, yang belum mengenal Tuhan Allahnya Israel. Dengan demikian, rasa hormat kepada Israel adalah juga rasa hormat mereka kepada Tuhannya Israel. Pendek kata bangsa Israel menjadi bangsa yang diberkati dan memberkati. Mereka wajib mengingat dan mengimplementasikannya dalam hidup, sebab sesungguhnya melalui pengalaman sejarah Israel, oleh karena ketidaktaatan mereka kepada Tuhan, maka kehancuran dan hukuman menimpa mereka yang mengikuti Baal-Peor (lih.ay.3-4). Itu sebabnya, Musa mengingatkan agar mereka tidak melupakan perbuatan Allah yang menyertai mereka, dan mengharapkan agar orangtua mengajarkan ketetapan dan peraturan itu kepada anak cucu, supaya iman dan ketaatan terus diwariskan (lih.ay.5-10). Selanjutnya pengalaman perjumpaan mereka dengan Tuhan di gunung Sinai yang memberikan Sepuluh Perintah, sebagai dasar perjanjian, haruslah menjadi ingatan yang berdampak dalam hidup (lih.ay.11-14). Firman Tuhan ini hendak mengatakan bahwa masa depan bangsa Israel dengan status terhormat yang diberi, bergantung pada ketaatan mereka terhadap perintah Allah.

Belajar dari bacaan kita saat ini, maka sebagaimana bangsa Israel diminta untuk taat pada perintah Tuhan, kita pun demikian. Ketaatan pada perintah Tuhan, akan menjadikan kita sebagai orang yang bijaksana dan berakal budi dalam pandangan Allah dan manusia. Kita adalah juga bangsa yang dipilih dan dikuduskan Allah. (Lih. Efesus 1:4 dan 1 Petrus 2:9). Di dalam dan melalui Yesus Kristus, kita dikasihi, diselamatkan, diperhatikan, didengar, diajar bagaimana seharusnya hidup bagi kemuliaan Nama-Nya. Oleh kasih-Nya, Ia telah datang ke bumi, rela sengsara dan menanggung dosa ganti kita untuk selamat kita. Tidak ada yang membuat kita layak mendapatkan perlakuan yang begitu intim dan penuh kasih dari Tuhan Allah di dalam Yesus Kristus. Kurang apa leh, samua Dia so beking lantaran Dia pe sayang pa torang, kong apa yang torang jawab dalam hidup dan peran tiap hari ? Nasihat Musa kepada umat Israel, untuk dengar dan lakukan sekarang, sangatlah relevan untuk kita sekarang ini. Peribahasa mengatakan " jangan tunda hari esok, apa yang dapat engkau lakukan hari ini" Ketaatan pada perintah dan ketetapan Tuhan, adalah jalan hidup yang memelihara hubungan yang benar dengan Allah dan sesama, serta dapat menjadikan kita bijaksana dan berakal budi. Kiranya Tuhan Yesus menolong kita. Amin

Pertanyaan untuk diskusi:
1. Apa yang anda pahami tentang tema perenungan kita dengan nasihat Musa dalam Ulangan 4:1-14?
2. Sebagai ibu, bagaimana cara anda mengajarkan ajaran Ulangan 4:1-14 kepada anak-anak?

Editor : Aprilia Sahari
#Upus Ni Mama GMIM #WKI GMIM #GMIM #Renungan GMIM