Surat Roma ditulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Roma sekitar tahun 57 Masehi, saat ia berada di Korintus.
Roma adalah pusat kekaisaran yang multikultural, terdiri dari jemaat Yahudi dan non-Yahudi (bangsa-bangsa lain).
Perbedaan latar belakang budaya, adat, dan kebiasaan menyebabkan perpecahan dan ketegangan dalam gereja.
Paulus menulis surat ini sebagai bentuk pengajaran teologis sekaligus pastoral untuk menyatukan jemaat dalam Injil Yesus Kristus.
Tujuan Paulus sangat jelas: membangun fondasi iman yang kokoh, menekankan keselamatan oleh iman, dan menyerukan hidup yang diperbarui.
Dalam Roma pasal 12 sampai 15, Paulus fokus pada implikasi praktis dari Injil, termasuk hidup dalam komunitas yang penuh penerimaan.
Tema ini diambil dari ayat kunci Roma 15:7: "Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah."
Dalam konteks jemaat yang terpecah karena perbedaan pandangan dan latar belakang, Paulus menyerukan penerimaan yang aktif, berdasarkan kasih dan teladan Kristus, bukan hanya toleransi pasif. Penerimaan ini bukan hanya demi kerukunan, tetapi demi kemuliaan Allah.
Khotbah ini hendak memanggil kita kembali pada panggilan utama: menerima satu sama lain dalam kasih Kristus, untuk memuliakan Allah.
Baca Juga: Renungan Roma 15:1-13, Terimalah Satu Akan yang Lain Untuk Kemuliaan Allah
Pembahasan Ayat per Ayat
1. Ayat 1–2: Saling Menanggung Kelemahan
“Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat, dan jangan kita menyenangkan diri sendiri. Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama demi kebaikannya untuk membangunnya.”
Paulus membagi jemaat bukan untuk membeda-bedakan, tetapi menyatakan tanggung jawab orang yang "kuat dalam iman".
Orang kuat tidak boleh arogan atau menuntut, tetapi justru menopang, membangun, dan memikirkan kebaikan orang yang “lemah”—yakni mereka yang masih bergumul dalam pemahaman atau kebiasaan iman.
Dalam gereja, kita harus berhenti bersikap “senang diri sendiri”—hanya melayani sesuai selera pribadi.
Kita harus menjadi jembatan, bukan tembok. Menyediakan waktu, tenaga, bahkan kesabaran untuk mereka yang sedang bertumbuh dalam iman.
2. Ayat 3–4: Kristus sebagai Teladan Pengorbanan
“Kristus juga tidak menyenangkan diri-Nya sendiri...”
Kristus adalah teladan utama dalam pelayanan yang tidak egois. Ia menanggung cemooh, penderitaan, dan kehinaan, demi keselamatan kita.
Ayat 4 menekankan pentingnya belajar dari Kitab Suci, karena dari sanalah kita mendapat ketekunan dan penghiburan.
Jika Yesus saja rela mengorbankan diri-Nya, apakah kita bersedia mengorbankan ego, gengsi, atau kenyamanan demi merangkul saudara kita?
Firman Allah adalah sumber kekuatan kita untuk tetap setia dalam pelayanan kasih meskipun sulit.
3. Ayat 5–6: Satu Pikiran, Satu Hati, Satu Suara
“Semoga Allah... mengaruniakan kepadamu pikiran dan perasaan yang sama... sehingga kamu dengan satu hati dan satu suara memuliakan Allah...”
Kesatuan hati bukanlah hasil usaha manusia, tetapi karunia Allah. Kesatuan itu ditandai dengan penyembahan bersama—dengan satu hati dan satu suara, bukan dengan bisik-bisik dan keluhan di belakang.
Dalam pelayanan gereja, kita harus mengejar kesatuan, bukan keseragaman. Kesatuan dalam Kristus memuliakan Allah, perpecahan justru mempermalukan nama Tuhan.
4. Ayat 7: Inti Seruan—Terimalah Satu Akan yang Lain
“Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah.”
Ini bukan sekadar nasihat etika, tetapi perintah Injil. Penerimaan antar anggota jemaat adalah refleksi dari penerimaan Kristus kepada kita. Dasarnya bukan selera, kesamaan hobi, atau klik sosial, tetapi kasih Kristus.
Jangan hanya dekat dengan yang sekelompok. Rangkullah yang berbeda. Penerimaan yang sejati menciptakan gereja yang inklusif, bukan eksklusif.
5. Ayat 8–13: Injil untuk Semua Bangsa
Paulus menunjukkan bahwa Kristus datang untuk menyelamatkan orang Yahudi dan bangsa-bangsa lain (non-Yahudi), dan nabi-nabi Perjanjian Lama telah menubuatkannya.
Injil adalah kabar baik untuk semua, tanpa memandang suku, budaya, atau latar belakang. Kesatuan jemaat yang berasal dari berbagai bangsa mencerminkan maksud kekal Allah.
Gereja lokal harus menjadi cermin dari kerajaan Allah yang menerima segala bangsa. Jangan diskriminatif. Bahkan jika seseorang datang dari latar belakang yang “tidak biasa”, ia tetap milik Kristus jika percaya.
PENUTUP
Saudara-saudara yang terkasih dalam Kristus,
Kita telah merenungkan bersama bagian Firman Tuhan dari Roma 15:1–13 dengan tema besar yang sangat relevan bagi kehidupan bergereja masa kini: “Terimalah Satu Akan yang Lain untuk Kemuliaan Allah.”
Tema ini bukan sekadar nasihat moral biasa, melainkan suatu panggilan Injili yang bersumber langsung dari teladan Kristus sendiri.
Di tengah dunia yang semakin individualis, eksklusif, dan penuh dengan sekat-sekat sosial, budaya, ekonomi, dan bahkan rohani.
Firman Tuhan hari ini memanggil kita untuk menjadi komunitas yang berakar dalam kasih dan terbuka dalam penerimaan.
Sebab hanya melalui penerimaan yang sejati itulah, kemuliaan Allah dinyatakan di tengah-tengah umat-Nya.
Kristus menerima kita bukan karena kita pantas, melainkan karena kasih karunia. Ia tidak menunggu kita menjadi layak, suci, atau sempurna.
Tetapi menerima kita dalam kelemahan dan dosa, lalu membentuk kita dengan kasih dan kebenaran. Maka, jika Kristus menerima kita, apakah alasan kita untuk menolak sesama kita?
Penerimaan seperti itu tidak terjadi karena kesamaan latar belakang, kesepakatan pandangan, atau kenyamanan pribadi.
Tetapi karena kesadaran bahwa kita semua adalah tubuh Kristus yang saling membutuhkan. Kita tidak bisa berkata kepada anggota tubuh lain, “Aku tidak membutuhkan engkau.”
Poin-Poin Renungan
Untuk memperdalam dan memperteguh penghayatan kita, mari kita ulang kembali beberapa poin penting renungan hari ini:
1. Penerimaan Mengandung Pengorbanan (Roma 15:1–2)
Orang yang kuat dalam iman dipanggil bukan untuk memaksakan kehendaknya, tetapi untuk menanggung kelemahan orang lain. Penerimaan menuntut kesabaran, kerendahan hati, dan kemauan untuk menyangkal diri.
Ini berarti kita harus lebih banyak mendengar daripada menuntut. Lebih banyak memahami daripada menghakimi.
2. Kristus Adalah Teladan Utama (Roma 15:3–4)
Kristus tidak menyenangkan diri-Nya sendiri. Ia merelakan kehormatan-Nya, agar kita yang tidak layak bisa masuk dalam kasih Allah.
Kita dipanggil untuk meneladani pengorbanan Yesus dalam relasi dengan sesama kita di gereja.
3. Kesatuan Hati dan Pikiran Adalah Tujuan Pelayanan (Roma 15:5–6)
Kesatuan bukan sekadar hasil kerja keras manusia, melainkan karunia Allah yang harus kita jaga dan pelihara.
Kita harus belajar untuk menyembah Tuhan “dengan satu hati dan satu suara,” sebagai tanda bahwa gereja hidup dalam kasih dan kesatuan.
4. Penerimaan Satu Sama Lain Membawa Kemuliaan bagi Allah (Roma 15:7)
Ketika kita saling menerima dalam kasih, kita tidak hanya membangun sesama, tetapi juga memuliakan Allah.
Tujuan akhir dari penerimaan adalah agar nama Tuhan dipermuliakan.
5. Injil Itu untuk Semua Orang (Roma 15:8–13)
Injil melampaui batas etnis, budaya, dan tradisi. Kita tidak bisa menuntut keseragaman, sebab Allah sendiri menghendaki keragaman dalam kesatuan tubuh Kristus.
Gereja harus mencerminkan kerajaan Allah yang menerima semua bangsa dan semua orang yang percaya.
Saudara-saudara, jika kita ingin mengalami kuasa Allah, kita harus terlebih dahulu membangun kasih yang nyata di antara kita.
Tidak ada gunanya aktivitas yang besar, ibadah yang ramai, atau struktur pelayanan yang megah, jika di dalamnya tidak ada kasih dan penerimaan satu sama lain.
Mari kita berhenti menilai orang lain dari penampilan, usia, suku, cara bicara, atau status ekonomi.
Mari kita buka hati, buka telinga, buka tangan, dan membuka pintu rumah serta hidup kita bagi sesama.
Mari kita ubah cara berpikir:
-
Dari eksklusif menjadi inklusif.
-
Dari menghakimi menjadi membangun.
-
Dari saling menjauh menjadi saling mendekat.
-
Dari hanya mencari teman yang sama, menjadi sahabat bagi mereka yang berbeda.
Kiranya gereja kita, jemaat kita, keluarga kita, menjadi tempat di mana kasih Kristus nyata lewat penerimaan satu sama lain.
Tempat di mana yang kuat menopang yang lemah, yang lama membimbing yang baru, yang kaya memberkati yang miskin, dan semua hidup dalam kesatuan Roh untuk satu tujuan: memuliakan Allah.
“Terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah.” (Roma 15:7)
Mari kita mulai dari diri kita sendiri. Mulai hari ini. Mulai sekarang. Demi kemuliaan Tuhan.
Amin.
Pertanyaan Diskusi
1. Apa yang kita pahami "Terimalah Satu Akan Yang Lain Untuk Kemuliaan Allah" berdasarkan Roma 15:1-13?
-
Menerima sesama bukan karena mereka sempurna, tapi karena Kristus telah lebih dulu menerima kita.
-
Menanggung kelemahan orang lain, bukan menghakimi.
-
Hidup dalam kesatuan hati dan suara, meski berbeda dalam latar belakang.
-
Menjadi kesaksian nyata akan kasih Kristus bagi dunia.
-
Menghasilkan damai dan sukacita dalam jemaat, serta memuliakan Allah.
2. Mengapa realitas kehidupan warga gereja masih menampilkan kehidupan yang sulit menerima satu dengan yang lain dalam persekutuan?
- Karena kasih Kristus belum sungguh-sungguh menjadi dasar kehidupan bersama. Karena kita masih lebih mementingkan diri, perasaan, kelompok, latar belakang dan gengsi dibandingkan kehendak Allah.
3. Bagaimana kita sebagai warga gereja menyikapi realitas sosial kita yang sarat dengan kepelbagaian pemahaman dan perbedaan latar belakang?
- Melihat Perbedaan Sebagai Kekayaan, Bukan Ancaman, Merangkul perbedaan sebagai bagian dari karya Allah.
Menjadi Pengikut Kristus yang Rendah Hati dan Mau Belajar Firman. Membangun relasi yang saling memahami Dan mengutamakan kasih di atas segala hal.
Editor : Clavel Lukas