Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Renungan Roma 15:1–13 untuk W/KI, Terimalah Satu Akan yang Lain untuk Kemuliaan Allah

Clavel Lukas • Sabtu, 5 Juli 2025 | 10:50 WIB

 

Ilustrasi Alkitab.
Ilustrasi Alkitab.

Surat Roma adalah salah satu surat paling teologis dan mendalam yang ditulis oleh Rasul Paulus, sekitar tahun 57 M saat ia berada di Korintus.

Surat ini ditujukan kepada jemaat di Roma yang terdiri dari dua kelompok utama: orang Yahudi Kristen dan orang non-Yahudi (bangsa-bangsa lain) Kristen.

Jemaat Roma sedang menghadapi ketegangan internal: Perbedaan adat istiadat, terutama soal makanan halal-haram. Perbedaan tingkat kedewasaan rohani. Perbedaan dalam cara memahami hukum Taurat dan anugerah

Paulus mengingatkan mereka bahwa keselamatan adalah karena kasih karunia, bukan karena status, tradisi, atau kebiasaan. Maka di pasal 15 ini, ia menekankan pentingnya hidup dalam penerimaan satu sama lain, sebagai wujud nyata dari kasih Kristus.

Tema: “Terimalah Satu Akan yang Lain untuk Kemuliaan Allah” (Roma 15:7)
Tema ini sangat penting, terutama dalam kehidupan pelayanan W/KI GMIM, di mana ada beragam karakter, latar belakang sosial, pendidikan, dan gaya hidup.

Dalam perbedaan itu, sering kali muncul konflik kecil, kecemburuan, bahkan penghakiman satu sama lain.

Namun Firman Tuhan jelas: Kristus menerima kita apa adanya, maka kita pun dipanggil untuk menerima satu sama lain dalam kasih dan kerendahan hati, agar Allah dipermuliakan di tengah persekutuan kita.

Pembahasan Ayat per Ayat

Ayat 1–2: Menanggung Kelemahan dan Membangun Sesama

“Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita menyenangkan diri sendiri.”

“Yang kuat” maksudnya mereka yang lebih dewasa dalam iman. Mereka bukan untuk merasa lebih hebat, tetapi untuk menolong yang belum sekuat dirinya.

Dalam persekutuan W/KI, selalu ada ibu-ibu yang baru bertumbuh, belum paham Alkitab, atau memiliki masa lalu yang sulit.

Kita yang lebih dewasa harus menjadi penolong, bukan pengkritik. Jangan berkata: “Dia tidak cocok melayani”, tetapi katakan: “Mari saya bantu dia bertumbuh dalam kasih Tuhan.”

Ayat 3–4: Kristus Menjadi Teladan Penerimaan

“Kristus juga tidak menyenangkan diri-Nya sendiri...”

Kristus rela menanggung cercaan dan penderitaan demi orang lain. Dia adalah teladan penerimaan tertinggi: menerima pendosa, pelacur, pemungut cukai, dan bahkan musuh-Nya.

Kita dipanggil melayani dengan kerendahan hati. Jangan pilih-pilih siapa yang kita layani atau dengan siapa kita mau bersekutu. Seperti Kristus, kita harus membuka hati dan tangan untuk semua orang.

Ayat 5–6: Kesatuan dalam Satu Hati dan Suara

“Supaya kamu dengan satu hati dan satu suara memuliakan Allah.”

Kesatuan bukanlah keseragaman. Kesatuan berarti meski berbeda-beda, kita berjalan dalam satu arah, dengan satu tujuan: memuliakan Tuhan.

Dalam pelayanan, pasti ada perbedaan pendapat, gaya, bahkan cara bicara. Tapi jangan sampai itu memecah kita.

Mari kita mencari kehendak Tuhan bersama, agar pelayanan kita berbuah bagi kerajaan-Nya.

Ayat 7: Inti Pesan—Terimalah Satu Akan yang Lain

“Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah.”

Penerimaan bukan didasarkan pada kesamaan, tetapi pada kasih Kristus. Kristus menerima kita saat kita berdosa—maka tidak ada alasan menolak saudara kita.

Di jemaat, mungkin ada ibu yang pendiam, yang kurang aktif, atau berbeda gaya. Jangan menjauhi mereka. Rangkul, ajak bicara, dan tunjukkan kasih. Di situlah kemuliaan Tuhan terpancar.

Ayat 8–12: Kristus Datang untuk Semua

Paulus mengutip Perjanjian Lama bahwa bangsa-bangsa lain pun akan memuji Allah.

Keselamatan bukan hanya untuk satu golongan, tapi untuk semua bangsa dan latar belakang. Allah senang ketika kita hidup dalam keragaman yang bersatu.

Dalam persekutuan berjemaat dan bermasyarakat, kita punya ibu-ibu dari latar belakang desa-kota, ekonomi berbeda, pendidikan berbeda.

Itu bukan penghalang—justru jadi kesaksian bahwa Kristus mempersatukan yang berbeda.

Ayat 13: Buah dari Kesatuan adalah Sukacita dan Damai

“Semoga Allah... memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu.”

Kesatuan yang dibangun di dalam Kristus akan melahirkan damai, sukacita, dan pengharapan.

Jemaat yang saling menerima akan menjadi rumah yang hangat—bukan dingin karena perpecahan.

 

Penutup 

Saudari-saudari W/KI GMIM yang dikasihi Tuhan,

Apa yang kita pelajari dari Roma 15:1–13 bukan hanya ajaran, tapi gaya hidup. Firman ini menuntun kita untuk:

1. Menerima dengan Kasih, Bukan Menghakimi
Lihatlah setiap ibu bukan dari masa lalunya, tapi dari nilai Kristus di dalamnya.

Belajarlah berkata, “Saya menerimamu, karena Tuhan telah lebih dulu menerima saya.”

2. Melayani dengan Hati, Bukan Ingin Terlihat Hebat
Jangan berlomba menonjol, tapi berlomba menjadi yang paling rendah hati dan sabar.

3. Membangun Kesatuan, Bukan Kelompok-Kelompok Tertutup
W/KI bukan hanya untuk yang aktif, tapi juga bagi yang tersisih. Jangan biarkan pelayanan menjadi milik segelintir orang. Libatkan semua.

4. Menjadi Komunitas Damai dan Sukacita
Jadikan setiap pertemuan W/KI sebagai tempat penguatan, bukan penghakiman.

Biarkan kasih Kristus menyatukan hati kita.

Ajakan:
Mari kita, sebagai W/KI GMIM, hidup dalam semangat penerimaan.
Buka hati dan tangan untuk ibu-ibu yang baru, yang berbeda, bahkan yang belum sejalan.
Jadikan rumah tangga dan pelayanan kita sebagai cermin kasih Kristus.

Sebab jika kita saling menerima, dunia akan melihat kemuliaan Allah.

“Terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah.” – Roma 15:7

Amin.

Pertanyaan untuk diskusi:
1. Apa yang dimaksud dengan "Terimalah satu akan yang lain demi kemuliaan Allah" dalam perikop Roma 15:1-13?

Ungkapan "Terimalah satu akan yang lain demi kemuliaan Allah" (Roma 15:7) dalam konteks perikop Roma 15:1–13 adalah sebuah perintah rohani dan etis dari Rasul Paulus kepada jemaat Kristen di Roma — dan juga kepada kita saat ini — untuk hidup dalam kesatuan dan kasih, meskipun ada banyak perbedaan di antara kita.

Menjadi pribadi dan komunitas yang mencerminkan kasih Kristus melalui tindakan nyata, yaitu menerima sesama — bukan karena mereka sempurna, tapi karena Tuhan sudah lebih dulu menerima kita.

Dengan demikian:

 

“Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah.”Roma 15:7

2. Bagaimana bentuknya dalam kehidupan sehari-hari tentang hidup yang kemuliaan Allah?

Hidup yang memuliakan Allah bukan hanya soal bernyanyi atau berdoa di gereja, tetapi seluruh hidup kita—pikiran, perkataan, sikap, dan perbuatan—dipakai untuk menyatakan siapa Allah itu kepada dunia.

 

Ketika orang melihat hidup kita, mereka tidak hanya melihat kita, tapi melihat Allah yang hidup di dalam kita.

 

Editor : Clavel Lukas
#roma #Upus Ni Mama GMIM #WKI GMIM #GMIM #W/KI #Renungan GMIM #Renungan